
Mangga muda itu terasa enak di lidah Alana. Tidak terasa sudah mangga kedua yang di kupas Lily untuknya. Tapi kenyamanannya terusik kala sepasang mata ikut menatapnya. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan Alana, entah mengapa Arun harus ada di sana menatap lekat padanya.
"Hun, kok gitu amat ngelihatin Alana?"
Arun hampir terjungkal mendengar ucapan Lily. Wajahnya memerah. Tidak menyangka kalau Lily akan memperhatikannya.
"Ga. Cuma ngilu aja, itu kan asam kok dia bisa lahap gitu" ucapnya memalingkan wajahnya pada Lily.
"Ini enak. Ga asam kok. Nih.." spontan Alana menyodorkan kearah Arun. Baik Alana yang tersadar atau pun Arun yang ditawarinya mendadak kikuk, keduanya buru-buru menunduk. Untung saja saat itu ponsel Lily berdering, jadi tidak terlalu menanggapi rasa malu keduanya.
"Jangan terlalu banyak makan buahnya, nanti perutmu sakit" ucap Arun sebelum meninggalkan Alana. Nada bicara Arun berbeda dari yang biasa. Entah mengapa kalimat lembut itu membuat hatinya merasa hangat. Ucapan itu lebih kepada memohon pada Alana.
Perut Alana terasa penuh, tapi lidahnya tetap saja ingin menikmatinya lagi. Ini buah ketiga dia kupas dan langsung mengunyahnya. Tidak lama Lily kembali dan duduk disampingnya.
"Ibu nelpon, nanyain gimana perkembangan mu, udah hamil apa belum. Pas aku kasih tahu kalau kamu udah hamil, ibu ikut melonjak gembira. Berulang kali mengucapkan selamat padaku" terang Lily penuh bahagia. Alana yang mendengar hanya bisa menanggapi dengan senyum kecut, lalu menunduk menatap mangga didepannya. Diambilnya sepotong, lalu mengunyahnya sekuat tenaga. Melampiaskan rasa kesal dan sakit hatinya. Ibunya bahkan tidak menanyakan kesehatan dan keadaannya, hanya mementingkan kebahagiaan Lily. Dia hanya alat menuju kebahagiaan yang Lily impikan.
***
Alana menyesal tidak mengikuti perkataan Arun. Setelah menghabiskan tiga buah mangga itu, Perut Alana terasa sakit melilit. Bolak-balik masuk kamar mandi tidak juga mengurangi rasa mulesnya.
Dia tidak mungkin bisa terus seperti ini, tersiksa dan hanya guling-guling tidak karuan di atas tempat tidur. Alana memutuskan untuk segera menemui bi Minah, barangkali aja wanita baik hati itu tahu obatnya.
Baru akan masuk ke kamar bi Minah, Alana kembali mundur tak kala melihat wanita itu sedang bersekutu dengan penciptanya. Alana memutuskan untuk menunggu sampai bi Minah selesai sholat.
"Ada apa non?" tanya bi Minah bangkit sembari melepas mukenanya.
"Wajah non kok lemas banget? non sakit?" tanya bi Minah panik.
"Iya nih bi. Perut aku sakit banget"
"Kasihan si non. Pasti ini karena non kebanyakan makan mangga muda tadi"
"Kayaknya iya bi..aku ke kamar mandi dulu bi" Alana berlari ke arah kamar mandi di dapur.
Bi Minah berinisiatif membuat teh manis hangat untuk Alana, menggantikan cairan yang sejak tadi dikeluarkannya.
__ADS_1
"Bi, tolong buatkan kopi ya" pinta Arun yang sempat mengagetkan bi Minah.
"Baik tuan. Habis ini ya, kasihan non Al"
"Alana kenapa bi?" Arun yang tadi berdiri diambang pintu dapur, kini mendekat.
"Perutnya sakit. Melilit katanya. Dari tadi bolak balik kamar mandi pak. Bibi tebak pasti karena kebanyakan makan mangga"
"Dasar bocah tengil. Udah diperingatkan tadi, masih ngeyel juga" geramnya.
"Kasih tau Lily bi, biar bawa Alana ke rumah sakit" lanjutnya akan memutar badan. Dia juga harus segera siap-siap, agar cepat mengantar Alana.
"Ibu pergi pak. Tadi bilangnya mau ke rumah nyonya Santi"
"Loh, kapan perginya? kok ga pamit sama aku?" Arun tidak jadi melangkah, justru kembali masuk ke dapur.
"Tadi pas bapak tidur siang" terang bi Minah, tepat saat Alana keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak semakin pucat, tersiksa berulang kali keluar masuk kamar mandi. Arun mendekat, menarik tangan Alana untuk duduk.
"Kau ga papa? sakit sekali ya?" suara Arun benar-benar khawatir. Terdengar lembut di telinga Alana hingga membuatnya ingin menangis. Ini kali pertama Arun bersikap begitu perhatian dan terlihat sangat khawatir padanya. Matanya memanas. Tersentuh oleh kelembutan Arun hingga dua bulir air mata dibiarkan nya menetes di pipi. Perlahan kepalanya mengangguk lemah.
Bak gadis yang tengah bermanja dengan abang nya, Alana menggeleng.
"Diminum dulu tehnya non. Biar perutnya hangat, baik mengganti cairan tubuh" ucap bi Minah menyerahkan satu gelas teh manis hangat.
"Makasih bi" Alana meniup permukaan gelas, mendinginkan teh agar lidahnya tidak terbakar kepanasan.
"Bi, apa ga ada obat sakit perut?" sambar Arun.
"Oh, bibi lupa. Kayak nya di kamar bibi ada. Sebentar bibi lihat dulu"
Sepeninggalnya bi Minah, Arun menggengam tangan Alana yang tergeletak lemah di pahanya. Seolah ingin memberi kekuatannya untuk Alana menahan rasa sakitnya.
Untuk sesat Alana sempat terkejut oleh tindakan Arun yang tiba-tiba menggengam tangannya, tapi dia terlalu malas mendebat. Lagi pula, sulit untuk dipercaya sentuhan Arun menenangkannya entah bagaimana caranya.
Remasan tangan Arun memberi gelegar hangat hingga ke hatinya yang terdalam. Alana semakin menundukkan wajahnya tidak ingin Arun melihat wajahnya yang sudah memerah.
__ADS_1
Langkah kaki bi Minah yang mendekat, membuat Alana segera menarik paksa tangannya. "Ini non, ada. Sebentar bibi ambilkan air hangat" ucap bi Minah berlalu setelah melihat gelas Alana sudah hampir kosong.
Arun menarik bungkus obat yang ada di tangan Alana. Membaca dengan seksama bagian belakang kemasan pil itu. "Jangan diminum, ini ga boleh untuk wanita hamil" bisik nya memasukkan obat itu kedalam kantong celananya.
"Loh, obatnya udah diminum non?" tanya bi Minah menatap wajah pucat Alana.
"Hah? oh, udah aku telan bi" jawab Alana gugup, melirik sesaat pada Arun yang menyembunyikan senyum kikuknya.
"Pake apa? airnya kan belum bibi kasih"
"Sisa teh manis ini bi" kali ini Arun membantu kebohongan Alana.
"Aku..aku mau ke kamar" ucap Alana yang merasa perlu menjauh dari Arun. Bagaimana tidak, Alana sendiri tidak percaya, dia sempat terpukau melihat senyum tersembunyi Arun tadi. Ada apa dengannya? Apa ini juga termasuk bawaan bayi seperti kata Lily?
Iya, ini pasti karena bayi dalam kandungannya. Tidak mungkin kan dia mulai tertarik pada Arun walau sedikit?
Baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketukan terdengar di pintu kamarnya. Dengan malas Alana berjalan membuka pintu. "Pasti bi Minah" cicitnya lemah.
Baru memutar kunci pintu, daun pintu sudah di dorong dari luar, dan si pelaku masuk. Arun kembali menyentak hatinya dengan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya.
"Aku khawatir padamu"
"Hah? aku baik-baik aja bang"
"Tapi wajah masih terlihat pucat dan lemas" Alana yang di tatap intens oleh Arun menjadi kikuk, memilih untuk menjauh. Alana duduk ditepi ranjang, meremas tangan dan memilin jemarinya, mengurangi rasa gugupnya. Ini kali kedua Arun berada di kamar ini, yang pertama tentu saja malam..itu.
"Al.." Arun yang sudah berhasil menguasai kegugupannya meski debar jantungnya kian bertalu, duduk di samping Alana. Tanpa tedeng alih-alih, Arun menggengam tangan mungil yang sudah sedingin es itu.
Lebih lima menit keduanya hanya terdiam, dengan tangan saling terjalin. Dalam diamnya, masing-masing masih bisa mendengar debar jantungnya. Arun mengalihkan wajahnya pada Alana yang tertunduk. Deru nafas Arun membelai paras cantik Alana. Dia bisa mencium aroma maskulin dari pria itu. Aroma yang sangat menenangkan. Tidak ada mual, atau rasa pusing.
"Al.."bisik nya lembut ditelinga Alana. Dawai indah yang kini menjadi penabuh ruang dihati Alana. Ragu-ragu Alana menoleh, dan yang tidak disangka Alana terjadi, semua terjadi begitu cepat, tanpa bisa dihindarinya.
**Haiii..aku datang lagi, bawa rekomendasi novel seru lainnya. Nunggu aku up lagi, kuy kepoin novel adik Eike ini..makasih😅😅🙏😘
__ADS_1