
Mobil mewah itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Penuh amarah Arun pergi meninggalkan Alana dengan permintaan gilanya. Arun kecewa pada gadis itu.
Pulang bukan solusi yang tepat untuk mendinginkan amarahnya, walau bayangan wajah Arlan sudah bermain di pelupuk matanya. Dia ingin bermain dengan putranya itu, sudah seharian dia tidak bertemu. Tapi emosinya justru menuntun dirinya ke sebuah bar.
Dalam cahaya temaram yang menyinari ruangan itu Arun menuang minumannya ke dalam gelas. Ini sudah gelas kedua yang dia isi. Tepat saat itu, Reno yang tadi sudah dia hubungi datang menemaninya.
"Kenapa lagi lo? bukannya lo bilang sore tadi lo udah menemukan alamat rumah istri muda lo?"
Pertanyaan Reno sama sekali tidak menarik minatnya. Minuman itu jauh lebih meringankan beban pikirannya saat ini.
"B*ngke ni anak. Lo ga dengar pertanyaan gue?" Reno menggoyangkan tubuh Arun.
"Dia minta cerai dari gue" kalimat Arun diucapkan penuh amarah dan kesedihan.
"Alasannya?"
"Dia tidak mencintaiku. Dan lagi, ada Lily. Dia tidak ingin menyakiti Lily, dan menjadi istri kedua" suara Arun masih bergetar. Walau ruangan itu gelas, Reno bisa melihat sahabatnya itu meneteskan air mata. Permintaan Alana pasti sudah menggores hatinya yang paling dalam.
"Lalu keputusan lo?"
"Gue ga tahu No. Seandainya ga sedalam itu perasaan gue sama dia, pasti gue ga akan sesakit ini" ucap Arun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Saran gue, lupakanlah Alana. Kembali bangun rumah tangga lo dengan Lily, wanita yang dulu lo cintai. Ingat, dulu lo yang ngejar Lily, lo janjikan kebahagiaan untuknya. Dia berhak bahagia, Run"
Arun hanya diam. Tergambar dulu masa-masa indah dengan Lily. Dia yang menjanjikan kebahagiaan pada istrinya itu dulu, tapi kenapa kini rumah tangga mereka jadi seperti ini? kemana rasa cinta itu pergi?
***
Atas permintaan Arun, Reno mengantar Arun untuk kembali ke kantornya saja. Dia tidak ingin berdebat dengan Lily pulang dengan keadaan mabuk.
Menginap di kantor menjadi keputusan yang diambilnya malam itu.
__ADS_1
"Loh, bos, pagi begini sudah sampai di kantor?" sapa asisten Arun.
"Mmm.. bantu aku cari pakaian di lemari itu, aku mau mandi" ucap Arun beranjak dari sofa tempatnya menghabiskan malam.
Mencoba untuk melupakan perdebatan dengan Alana, Arun menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dia berharap bekerja membuatnya lupa akan persoalan itu sejenak. Lagi pula dia ingin cepat pulang, ingin bertemu dengan anaknya.
Sibuk berkutat dengan beberapa berkas dimeja membuat Arun tidak mendengar getar dari ponselnya yang sudah berulangkali bergetar.
"Permisi pak" ucap sekretaris cantik nya muncul diambang pintu setelah mengetuk pintu.
"Ada apa?"
"Ada telpon dari ibu di line 2 pak"
"Ok.."
Dahi Arun berkerut. Kenapa Lily sampai menghubunginya lewat telepon kantor. "Astaga.." ucapnya setelah melihat layar ponselnya. Sudah berapa kali panggilan dari Lily. Pikiran Arun langsung tertuju pada Arlan.
"Halo Ly, ada apa? maaf tadi aku sibuk jadi ga lihat hape"
"Kamu gimana sih hun. Kemana aja kamu sampe ga pulang. Arlan sakit. Demamnya tinggi, kami udah di rumah sakit ini" terang Lily penuh kepanikan.
"Apa? kok bisa sih Ly? serloc alamatnya" perintah Arun segera menutup telepon.
"Batalkan semua schedule hari ini. Saya mau ke rumah sakit" Arun sudah meninggalkan salah gedung pencakar langit itu dan mengendarai kuda besinya membelah jalanan. Beruntung siang ini tidak macet hingga dia bisa cepat sampai di rumah sakit.
Begitu melihat Arun yang berjalan di koridor, Lily yang sudah bersimbah air mata, berlari menyongsong Arun dan menubruk tubuh pria itu. Tampak tubuh Lily yang menangis bergetar. Ada rasa sedih, khawatir dan takut yang kini dia rasakan.
"Arlan gimana? kenapa dia bisa sampai sakit dan harus dirawat sih Ly?"
"Kata dokter Arlan masuk angin. Terus..terus mencret karena minum susu basi"
__ADS_1
"Kau gila Ly? kenapa..Aaach...gimana sih kau ngurus anak? ini namanya seorang ibu? masa iya kasih susu basi sama anak?" umpat Arun berang.
Pertengkaran mereka terhenti saat dokter keluar dari ruangan Arlan di rawat. "Bagaimana anak saya dok?"
"Kami sudah menangani. Bapak ibu sudah bisa tenang. Sekarang ananda sedang istirahat. Kami sudah memasang infus sebagai pengganti cairan yang sudah banyak keluar" terang sang dokter.
"Kami boleh masuk dok?" sambar Arun
"Boleh. Kedepannya tolong kebersihan botol susu diperhatikan dan juga Susu yang sudah Berjam di luar dan tidak dihabiskan sudah kena bakteri jahat, jangan di kasih lagi ya Bu pada si kecil" kembali dokter itu mewejangi Lily yang hanya diangguk olehnya.
"Satu lagi, perut ananda sangat sensitif, untuk sementara kasih ASI saja. Dan dekapan ibu sangat membantu mempercepat penyembuhan si kecil ya bu"
Lily mendengarkan dengan seksama dan Arun tampak menatap tajam pada Lily. Selepas dokter itu berlalu, Arun masuk dan diikuti Lily melihat Arun yang sedang tertidur pulas. Rasa pilu menyergap perasaan Arun kala melihat jarum inpus di tangan kecil Arlan.
"Sekecil ini kamu harus di opname nak" bisik Arun menahan gejolak sedih di hatinya. Lily kembali terisak, hati nya juga sedih melihat keadaan Arlan. Ini salah nya, tidak mencuci Dodot Arlan dan merebusnya setiap mau memberi susu pada Arun. Dia juga suka memberikan susu sisa dalam botol yang terletak sembarang saat panik Arlan menangis.
"Ini tujuanmu punya anak? kau hampir membunuhnya! Membunuh anakku Ly! kau bisa ngurus anak atau ga sih?" ucap Arun menahan suaranya agar tidak meninggi. Lily sudah terpukul dia tahu itu, Arun tidak tega lebih bersikap lagi pada Lily.
Malam itu mereka menginap di rumah sakit dalam diam. Arun hanya duduk di sebelah tempat tidur Arlan, memperhatikan anaknya itu.
"Makan dulu, hun" ucap Lily pelan. Dia masih takut menghadapi amarah Arun seperti tadi.
"Aku ga lapar. Kau pergi lah makan. Aku akan di sini menjaga Arlan"
Sikap dingin Arun menambah luka di hati Lily. Andai Arun tahu, Lily juga tidak ingin menyakiti Arlan. Dia sangat menyayangi anak itu. Tapi kecerobohannya membuat Arlan hampir saja lewat kalau saja tidak segera dilarikan ke rumah sakit.
Lily memilih keluar. Menangis tanpa dilihat Arun lebih baik menurutnya. Lily memilih taman bawah rumah sakit, tak jauh dari ruangan Arlan dirawat. Tiba-tiba disela tangisnya dia ingat apa yang dikatakan dokter tadi padanya. Dia akan lakukan apapun demi kesembuhan Arlan.
Sekali lagi dia memikirkan, ini adalah jalan terbaik. Lily menghapus air matanya, memantapkan hatinya dan segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
"Halo.." terdengar suara diseberang sana.
__ADS_1
"Al..Arlan masuk rumah sakit. Kamu kesini ya.."