
Perdebatan kecil di dalam mobil untuk seketika berhenti. Ucapan Arun mampu membungkam Alana walau tetap dongkol. Dia memang masih remaja, masih bau kencur, tapi dia juga mengerti agama dan juga kaidah berkeluarga. Dia harus patuh pada suami, suka atau pun tidak.
Melihat tidak ada perlawanan, Arun kembali menjalankan mobilnya hingga tiba di rumah. Lily sudah di depan pintu menyambut kedatangan mereka.
"Wah..kok kalian bisa pulang bareng Al?" sapa nya tersenyum. Ini adalah hal baik menurut Lily, karena akhirnya kedua manusia itu bisa akur. Lily banyak membaca artikel mengenai janin dalam perut. Dia akan sangat tidak nyaman kalau suasana hati ibunya pun tidak baik. Oleh karena dia tahu, Arun lah satu-satunya yang buat Alana kesal dan tidak betah di rumah ini, melihat keduanya mulai kompak, wajar kalau Lily gembira.
Bukan jawaban yang didapat Lily. Alana masuk kedalam tanpa berkata apapun pada Lily. Wajah Alana yang masam menjelaskan ada masalah diantara keduanya.
"Hun, kenapa Alana? kok bisa pulang bareng kalian?"
Arun masuk dan duduk di sofa. Membuka paksa dasinya dan melempar ke atas meja jati begitu pun jas yang dia pakai sejak tadi. Lily sabar mengambil barang-barang itu dan duduk di samping Arun.
"Hun, jawab, kau apakan Alana? kenapa wajahnya tampak kesal?"
"Aku mendapatinya bersama pria itu di salah satu restoran di mall, aku memaksanya pulang bersamaku dan melarangnya untuk jalan dengan pria itu lagi" Arun bersandar di sofa. Tatapan menerawang di langit-langit.
"Pria siapa maksudmu, hun?"
"Siapa lagi, pria yang kau bilang pacar nya itu lah"
"Gara?"
"Persetan siapa namanya" Arun memejamkan matanya. Tergambar bagaimana Alana menatapnya penuh kebencian. Dia jadi menyesali perbuatannya. Awalnya Arun berniat untuk bersikap baik pada Alana agar bisa menarik simpati gadis itu, tapi ternyata justru amarahnya terpacu melihat Alana bersama Gara.
"Kau ga bisa kayak gitu juga, hun. Gara itu memang pacarnya. Dia pria yang baik kok" ucap Lily tidak melihat dimana kesalahan Alana.
"Aku ga setuju. Selama Alana masih jadi istriku, dia tidak bisa jalan seenaknya dengan pria lain" salak Arun, kesal Lily tidak mendukungnya.
"Hun, kau ga sedang cemburu kan?"
"Apa?" Arun tersentak dengan pertanyaan menjebak dari Lily.
__ADS_1
"Sikapmu ini seolah-olah kau sedang cemburu. Apa salahnya Alana pacaran? toh nanti kalau anak itu sudah lahir, kau juga akan menceraikan Alana, dan dia pasti akan bersama Gara" tukas Lily masih tidak mengerti jalan pikiran Arun.
Sedikit banyak omongan Lily merasukinya. Terbayang, ketika tiba saat nya dia harus menceraikan Alana nanti, dan gadis itu bisa tertawa bahagia bersama Gara seperti di restoran tadi. Sungguh dia tidak rela.
"Aku keberatan. Aku ga setuju kalau dia bersama pria itu, selama jadi istriku. Kalau sudah bercerai nanti ya terserah dia"
"Iya alasanmu apa hun?"
"Aku ga mau laki-laki lain menyentuh istriku. Kau tidak mau kan, kalau nanti dia hamil, aku meragukan anak dalam kandungannya?"
Omongan Arun itu begitu kasar, siapapun gadis yang mendengar pasti akan sakit hati atas perkataan pedasnya. Sialnya, tepat saat kalimat itu mengucur dari mulutnya, Alana ada di ruangan itu. Dia mau mencari Arun untuk meminta kunci mobilnya. Ponsel Alana kemungkinan jatuh disela jok mobil.
Remasan pada sisi rok nya dengan tatapan membenci adalah dua kombinasi valid menyimpulkan Alana tidak akan memaafkan Arun. "Al, ada apa dek?"
"Ponselku jatuh di mobil. Tolong dibuka. Aku mau cari hapeku" Alana mencoba meredam tangisnya. Suaranya dibuat sedatar mungkin.
Untuk menelan saliva saja begitu berat buat Arun. Dia mengutuk kebodohannya karena berbicara seperti itu hingga Alana mendengar. Ditekannya kunci mobil, tanpa menunggu lama, Alana berjalan meninggalkan keduanya. Tidak berapa lama, Alana kembali dengan ponsel ditangannya dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Malam tiba, Arun sudah berada di meja makan, menunggu kedua istrinya. Tapi yang hadir menemani hanya Lily. Lidahnya gatal ingin bertanya kenapa Alana tidak turun. Terselip rasa khawatir akan keadaan gadis itu.
"Alana ga makan katanya ga lapar"
Arun bersikap acuh, seolah tidak perduli, tapi terus berpikir bagaimana keadaan gadis itu. Seusai makan Lily masuk keruang jahitnya. Arun sudah memastikan Lily di sana, barulah dia mencari bi Minah.
"Ada apa pak, mencari bibi?"
"Alana..Alana sudah makan bi?"
"Non Alana ga ada ke dapur pak. Kayak nya sih belum"
"Bibi antar makanan ke kamarnya, bujuk dia buat makan. Tapi jangan bilang saya yang nyuruh bi. Pokoknya pastikan dia makan walau sedikit aja" ucap Arun yang diangguk bi Minah.
__ADS_1
Arun masih mengawasi bi Minah saat menyiapkan makanan diatas nampan, lalu membawa ke kamar Alana. Dia yang menunggu di bawah, menghidupkan televisi guna membuang rasa gelisahnya.
"Kenapa gue jadi kek gini sih? perduli apa dia makan atau ga!" umpat nya pada diri sendiri. Berulang kali dia menyadarkan dirinya, bahwa Alana tidaklah sepenting itu baginya, tapi lagi-lagi hatinya memilih untuk peduli pada gadis itu. Setengah jam berlalu, bi Minah turun membawa nampan. Sigap Arun berdiri menghalau langkah wanita paruh baya itu. Masih ada makanan diatasnya, tapi sudah berkurang yang tandanya Alana makan walau sedikit.
"Non Alana udah makan beberapa suap, pak"
"Iya bi. Baguslah. Makasih bi" buru-buru Arun menghapus senyum gembira itu saat satu alis bi Minah naik tanda bingung melihat reaksi Arun.
Ehem.."Kasihan bi, kalau sampai sakit, Lily lagi yang susah" ucapnya mencoba memberi penjelasan yang justru membuat bi Minah tambah heran.
"Sudah sana bi" ucapnya menghalau tubuh wanita itu. Arun kembali duduk, dengan penuh kelegaan.
***
Sebulan lebih sudah pernikahan sirihnya berjalan, Alan merasa sikap Arun semakin aneh padanya. Beberapa kali, Arun dengan berbagai alasan bangun cepat, dan menunggunya untuk berangkat ke sekolah.
Berbagai alasan pula, Alana menolak. Tapi Lily yang ingin keduanya berbaikan selalu membujuk Alana untuk ikut dengan Arun.
Beruntung hari ini tanggal merah, Alana yang sudah seminggu ini merasa kurang enak badan, memilih untuk tidur saja di kamar. Dita tadi menghubunginya untuk ngajak nonton, tapi pusing dikepala serta rasa mual membuatnya memilih untuk rebahan di ranjang.
Baru saja keluar dari kamar mandi semenit lalu, dorongan dari dalam perutnya kembali datang. Alana berlari menuju wastafel memuntahkan semua isi perutnya. Lily yang masuk ke kamarnya melihat kondisi lemas Alana, menghambur kedalam kamar mandi, memijit tengkuk Alana.
"Kau baik-baik aja dek? kau sakit?"
"Mual banget kak, kepala ku juga pusing. Kayak nya masuk angin deh" ucapnya terbata.
"Sering kau begini? maksudku merasa pusing dan mual?"
"Udah seminggu belakangan ini kak" ucap nya lemas. Terduduk di closet.
"Jangan-jangan kau hamil lagi?" ucap Lily sumringah.
__ADS_1