Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kangen sama mama kamu


__ADS_3

Paginya Arun sudah berada di rumah Arun, sejak pukul 6 pagi. Bi Minah saja sampai terkejut saat membuka pintu untuk membuang sampah ke depan rumah. Pasalnya Arun tidak menekan bel atau pun memanggil siapa saja penghuni rumah itu untuk membukakan pintu.


"Lo bapak? di sini? kenapa ga masuk?" tanya bi Minah tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Alana udah bangun bi?"


"Biasanya jam segini non Al lagi main ditempat tidur..."


"Main? main apa? sama siapa bi?" tanya Arun kaget. Hatinya berdebar. Tidak mungkin Alana bersama pria lain. Tidak, dia kenal Alana nya.


"Sama den Arlan, biasanya habis menyusui suka ajak main. Masuk dulu, Pak, biar saya panggilkan non Alana," sahut bi Minah segera membuang sampah yang tadi sempat tertunda.


Arun jadi malu sendiri. Ada apa dengan dirinya? Rasa cemburunya sudah menutup nalarnya. Tadi malam bahkan dia ingin langsung menemui Alana untuk menanyakan pria yang dia lihat di restauran itu.


Sekalian mengatakan kecewa pada Alana, karena saat dirinya yang mengajak makan bersama, Alana menolak tapi dengan pria lain, Alana punya waktu. Tapi niat untuk itu diundurnya tadi malam berhubung dia juga sudah pulang kerja pukul 11 malam. Alana pasti sudah tidur dan Arun tidak ingin mengganggu istirahat gadis itu.


Menunggu di ruang tamu membuat jantung Arun tak karuan. Dia takut saat bertanya nanti Alana berbohong. Dia takut kecewa sebelum memulai hubungan mereka.


Derap langkah yang semakin mendekat membuat jantung Arun semakin tidak karuan. Lagi pula ini pertemuan mereka setelah sebulan masa berkabung mereka.


"Bang Arun? Pagi-pagi udah kesini? Gak kerja?" tanya Alana duduk di sofa yang lain. Arlan yang ada di gendongan Alana tampak mengulurkan tangan pada Arun minta digendong.


"Aduh, jagoan Papa. Kangen sama Papa, ya? Sama, Papa juga kangen Arlan. Kangen juga sama mama kamu, tapi kayaknya mama gak kangen Papa tuh," ucap Arun mendudukkan Arlan di pangkuannya. Bocah itu semakin gembul karena sudah mulai Mpasi.


Alana yang mendengar hanya menunduk malu. Dia juga rindu. Sangat malah. Tapi malu dan juga sedikit canggung untuk mulai berdekatan dengan Arun lagi.


"Abang udah sarapan?" tanya Alana mengalihkan rasa gugupnya.


"Belum. Pengen sarapan di sini, pengen makan nasi goreng buatan mu," jawabnya menatap dengan mata teduh yang membuat hati Alana meleleh rasanya.


"Eehem.. Sebentar kalau gitu. Aku buatkan, Bang," Alana beranjak meninggalkan kedua pengisi hatinya itu untuk bermain.


Bahagia rasanya melihat Arun lahap menyantap nasi goreng buatannya hingga membuat Alana bengong sendiri.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Bang," ucap Alana sembari tersenyum. Apa iya masakannya seenak itu? Dari kecil dia sudah terbiasa memasak. Bi Jum dulu suka mengajari sewaktu di rumah Santi. Ada juga gunanya dia diperlakukan bak pembantu yang tidak digaji, dia jadi mahir mengerjakan pekerjaan rumah.


"Habis," kata Arun sembari menunjuk piring kosongnya bak anak kecil yang ingin diberi tepuk tangan. Bukan tepuk tangan, Alana hanya menyuguhi dengan senyum termanisnya yang membuat jantung Arun berdetak cepat.


Arun mengulurkan tangannya, meletakkan tangannya di atas tepat dihadapan Alana. Telapak tangannya terbuka menyambut Alana. Gadis itu tersenyum, menerima uluran tangan itu.


Melihat sikap lembut Alana padanya yang menerima dirinya, Arun yakin bahwa Alana tidak memiliki hubungan spesial dengan pria itu.


Dorongan untuk menanyakan hal itu sangat kuat, namun Arun memilih untuk diam. Dia tidak ingin meragukan Alana. Dia percaya pada gadis itu. Lagi pula, Arun tidak ingin merusak momen indah mereka saat ini.


Bergandengan tangan Alana mengantar Arun hingga ke depan mobilnya. "Hari ini agendanya apa?" Tangan Arun mengeratkan genggaman tangannya.


"Ke toko, Bang. Hari ini bahan untuk produksi kue sampai," sambarnya penuh semangat. Melihat kegembiraan yang terpancar di wajah Alana, Arun pun ikut gembira. Tawa gadis itu seolah bisa menjadi booster bagi dirinya menjalani hari ini.


"Kalau gitu, kita makan siang bareng, ya?"


Alana hanya mengangguk dan tersenyum sembari membentuk tanda oke dengan jarinya.


***


Lelah memang, tapi karena dilakukan dengan gembira, semuanya bisa selesai. Tinggal menunggu barang pendukung lainnya seperti cangkir, cup dan juga hal-hal kecil lainnya yang di butuhkan nanti.


Ketiga gadis itu asik bercerita saat seorang pria memakai stelan jas masuk dalam toko, membuka pintu yang bertuliskan closed tergantung disana dengan kasar.


Serentak ketiganya kaget dan menoleh ke arah pintu. "Bangkai, kenapa kemari?" pekik Alana.


"Woi, kok kaget gitu lu, kan gue udah bilang bakal jemput lu kesini. Hari ini kita jumpai nenek gue," ucapnya berkacak pinggang.


"Oh iya. Aku lupa."


"Ck!! dasar cewek ingus!" geramnya mengepalkan tangan. Alana hanya cengengesan sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.


"Jangan bilang lu ga bawa gaun yang pantas."

__ADS_1


"Emang ini kurang pantas?" Alana mendelik menatap pakaian yang dia kenakan. Sopan dan juga rapi kok. Kemeja biru dongker dipadukan dengan celana chinos hitam.


"Udah deh, buruan ikut gue!" murkanya menarik tangan Alana secara paksa.


"Tunggu dulu dong, Bangkai, aku titip toko ke mereka dulu."


Alana pun menghempas pegangannya Kai lalu pamit pada kedua karyawannya.


Kaisar tidak langsung membawa Alana ke rumah neneknya, tetapi ke salah satu butik langganannya. Yup, langganan cewek-cewek yang pernah jadi kekasih semingguan- nya


"Hai handsome, udah lama gak mampir. Siapose? ciwi baru yey?" sapa si pemilik butik yang agak nyentrik dengan riasan ala wanita dan tentu saja melambai.


"Udah jangan banyak bacot. Buruan, lo kasih gaun yang cocok buat gadis ini, sekalian lo dandani dikit deh, biar ada bentuknya," ucap Kai duduk selonjoran di sofa dan mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


Tidak sampai setengah jam, pria lentur itu keluar bersama Alana yang sudah berubah.


"Ini Elu, ngus?"


"Ngas ngus ngas ngus, nama aku Alana, Bangkai!" jawabnya kesal.


"Yeee, jangan sewot, dong. Lu manggil gue bangkai aja gue terima. Udah, kita go."


***


Rumah elit itu bak istana, bangunan dengan gaya Eropa menambah kesan megah dan angkuhnya bangunan itu. "Woi, mangap Woi masuk laler baru tau rasa," ucap Kai geli melihat reaksi Alana yang terpelongo melihat rumah nenek nya Kai.


"Ini kita ke rumah nenekmu, atau lagi syuting sinetron ikan terbang? Rumahnya gede banget bang."


"Jelas dong, keluarga kita kan tajir," sambarnya jumawa. Alana hanya bisa menarik ke atas sudut bibirnya. Dasar manusia sombong, tengil..!


Masih dengan tampang bloon plus terheran-heran nya melihat seisi rumah, Alana yang berjalan dibelakang Kai menabrak punggung pria yang berhenti mendadak.


"Aduh...!" R*ntihnya ingin memaki Kai yang berhenti tanpa kasih aba-aba. Namun, melihat sosok yang duduk di sofa megah berwarna gold itu membuat Alana membatalkan niatnya.

__ADS_1


"Nek, ini pacar aku, Alana."


__ADS_2