Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 27


__ADS_3

"Pakai yang benar," ucap Arlan mengancingkan jaket jeans miliknya yang dipakai Sania atas permintaan pria itu. Sania hanya bisa tersenyum. Dia sangat bahagia. Mungkin dia lah gadis yang paling bahagia di dunia ini sekarang.


Tidak ada yang berubah dari sikap Arlan setelah apa yang terjadi. Ketakutannya yang beranggapan kalau Arlan akan berubah dan menjauhi setelah buah terlarang itu dia makan, nyatanya salah. Arlan bukan kebanyakan tokoh dalam sinetron atau pun di berita dalam dunia nyata. Dia bertanggung jawab. Bahkan, Sania berani bersaksi kalau Arlan semakin mencintainya dan sangat protektif padanya. Hanya satu yang kurang, belum ada pernyataan cinta dari pria itu.


Tidak mengapa. Apalah artinya pernyataan cinta dan kalimat 'Maukah kau menjadi pacarku', yang terpenting adalah perbuatan yang membuktikan kalau dia sangat sayang pada Sania.


"Nanti kamu masuk angin, kamu aja yang pakai. Kamu yang bawa motornya, kan?"


"Jangan bawel, nanti aku cium di sini."


Kalau sudah begitu, lidah Sania berubah keluh. Pipinya merona jadinya. Ah, entahlah. Dia terjebak dengan rasa cinta yang buatnya tak berdaya. Sebulan sudah sejak pertama mereka melakukan hal itu, dan eratnya hubungan mereka buat keduanya melupakan batasan dan terbuai oleh kenikmatan saja. Berulang mengulang perbuatan yang seharusnya dihalalkan dulu.


Sania tak berdaya setiap Arlan memintanya. Kelembutan pria itu benar-benar membuang akal sehatnya.


"Sudah!" Arlan selesai mengancing, lalu naik ke atas motor. Sudah pukul 10 malam. Tubuh Sania sangat lelah, hari ini begitu banyak pelanggan yang mendatangi restoran, seolah semua manusia yang kelaparan datang ke restoran itu dan minta dilayani.


"Kamu udah isi formulirnya?" tanya Arlan setelah memulai perjalanan. Dia sengaja melaju dengan kecepatan rendah karena masih ingin bersama Sania.


Arlan begitu memuja gadis itu. Tidak pernah bosan dan selalu ingin bersama. Pernyataan yang belum dikatakan pada gadis itu, bahwa dia sangat takut kehilangan Sania. Pernah terpikirkan untuk menikah muda saja mereka, tapi Arlan merasa kurang pas karena dia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Lagi pula, ayahnya bersikeras memintanya melanjutkan kuliah.


Arlan mengalah, karena apa yang dikatakan sang ayah ada benarnya. Dia ingin membangun rumah tangga yang diimpikan semua gadis. Dia ingin memberikan dunia pada Sania.


"Belum," jawab Sania sedikit takut. Dia selalu menjaga agar Arlan jangan sampai kecewa padanya.


Roda motor Arlan berdecit karena rem mendadak yang dilakukan pria itu. Menoleh menghadap Sania. "Kenapa? Kamu gak mau kuliah bareng aku?"


Nah kan, benar. Arlan pasti marah. Sania hanya bisa menunduk pasrah. Harus gimana dia menjawab perkataan pria itu. Dia sangat ingin kuliah, tapi dia juga gak punya uang. Biaya kuliah bukan sedikit, dan tabungannya belum cukup.

__ADS_1


Dua hari lalu dia menjenguk ayahnya di penjara ditemani Arlan. Tetap saja pria itu menolak untuk menemui Sania. Dari balik sel, petugas hanya membawa satu carik kertas yang dibawa penjaga. Sania mengenali sebagai tulisan ayahnya.


'Jangan pernah datang lagi. Fokuslah pada masa depanmu. Papa menolak niatmu untuk menyewa pengacara untuk mengurus papa.'


Air mata Sania tumpah. Setahun sudah ayahnya di dalam sana, tapi tetap saja pria itu tidak sudi menemuinya. Apa hanya Sania yang merasakan rindu pada pria itu? Sementara dia tidak merasakan apapun pada Sania, darah dagingnya?


Penolakan ayahnya untuk diurus, membuat tabungan Sania yang sejak awal untuk ayahnya, masih terkumpul, tapi tetap saja masih kurang kalau untuk biaya kuliahnya nanti.


"Sania.... Hey, lihat aku. Kamu mau kan kita sama-sama? Kuliah bersama hingga selesai?"


Sania hanya mengangguk. Berat rasanya untuk jujur. Bagaimana caranya agar Arlan paham, dia tidak ingin menyusahkan pria itu dengan memakai tabungan Arlan untuk biaya kuliahnya meski Arlan memaksa.


Dia masih punya harga diri, meski sok berprinsip nyatanya butuh.


"Aku gak mau tahu, kamu harus serahkan formulir itu besok biar kita bisa ikut ujian seleksi masuk perguruan tinggi."


Tak ada kata yang keluar dari bibir Sania lagi. Lebih baik menurut dari pada kekasih hatinya itu marah.


"What's up, every body," teriak Kasa dengan wajah riangnya. Di balik sikap tempramental nya, Kasa lebih sering tersenyum dari pada Arlan, terlebih saat bersama di basecamp mereka.


"Riang amat, lu, cewek mana lagi yang berhasil lu ajak nge*we? Yang baru? Kenalin kita dong, bekas lu juga gak papa," sambar Tomi mendudukkan diri. Sejak tadi dia berbaring di sofa sambil menikmati permainan game di ponselnya.


"Otak lu mesum aja isinya. Ini bukan soal cewek, tapi Roki. Pengacara gue udah berhasil nuntut dia dihukum 20 tahun penjara!" tegasnya dengan wajah girang.


Meski tidak semua perkataan Tomi dia tampik. Dia memang sedang gembira dan menjadi pria yang paling bahagia saat ini karena hubungannya dengan Ayra. Dia menyesal, kenapa tidak sejak dulu menerima perhatian gadis itu.


Bahkan sekarang justru dia yang lebih posesif pada Ayra. Meski satu yayasan yang sama, tapi Ayra perlu daftar ulang di sekolah Bhineka, dan Kasa selalu setia menemaninya.

__ADS_1


Belum ada yang curiga hubungan mereka, baik orang tua Ayra ataupun Kasa. Hanya Arlan sesekali memergoki mereka saling pandang. Ayra yang meminta agar mereka merahasiakan hubungan mereka saat ini. Tunggu dia memakai seragam abu-abu agar bisa dapat lampu merah dari Arun untuk pacaran.


"Mampus dia! Syukuri!" umpat Gilang hi-five dengan Dito. Semua gembira mendengar putusan itu.


"Lu gak senang? Butek amat wajah lu?" tanya Kasa menurunkan kaki Arlan yang sedang rebahan dan duduk di sampingnya.


"Senang. Masa iya itu aja gak bisa diurus pengacara lu," timpal Arlan menoleh sinis pada Saka.


"******, Lu!" umpatnya menendang ujung sepatu Arlan.


"Btw, gue mau kasih ini. Buat lu. Duitnya juga akan gue transfer ke rekening lu!" lanjut Kasa mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dia mengaku kalah.


"Buat apa?" Arlan menaikkan satu alisnya.


"Buat lu lah. Lu udah menang taruhan dengan mendapatkan Sania. Gue mengaku kalah," jawab Kasa.


"Taruhan? Maksud lu taruhan gila kalian kemarin? Masih lanjut?" timpal Tomi yang langsung disikut oleh Gilang. Dia lah yang pertamakali menyadari kalau Sania sudah berada diambang pintu tengah, berdiri mematung dengan wajah pucat pasi menatap Arlan.


"San..."


"Sania..."


Arlan Kasa yang sama terkejutnya berdiri, menatap ke arah Sania. Gadis itu tak bereaksi, tetap diam dengan riak wajah yang sangat menyedihkan.


"Aku pulang dulu," cicitnya setelah bisa menguasai diri. Melangkah ke arah Sofa tempat Kasa dan Arlan duduk mengambil tas yang ada di belakang Arlan.


"Sania, tunggu," kejar Arlan yang sudah bingung harus berkata apa. Kasa juga ikut mengejar. Mana dia tahu kalau Sania ada di dalam.

__ADS_1


"San, kami bisa jelaskan semuanya. Ini gak seperti yang lu dengar," Kasa ikut keluar, mengejar langkah seribu Sania. Dia jadi merasa bersalah.


"Dasar mulut sialan! Taruhan ******!" umpatnya mengutuk kebodohannya sendiri.


__ADS_2