Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
You look so beautiful


__ADS_3

Hari yang dinantikan tiba, seolah alam mendukung, langit tampak begitu cerah hari ini. Ballroom mewah disalah satu hotel berbintang yang akan dijadikan tempat resepsi sudah dihias dengan begitu indah.


"Jangan dilihatin terus, aku malu bang" desis Alana buang muka, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Mendapat teguran begitu, Arun justru tersenyum. Dadanya kini plong, hatinya begitu bahagia.


Pagi tadi acara pengucapan janji suci mereka sudah berjalan dengan lancar, dihadiri kedua belah pihak keluarga, menambah kebahagiaan itu berlipat-lipat rasanya.


Alana bahkan tidak hentinya menangis, kala Bima memberikan ucapan selamat dan juga doa restunya. Santi yang duduk di samping suaminya itu pun tak bisa membendung air matanya.


Acara itu berjalan penuh haru, namun diakhir dihujani kebahagiaan. Sesi photo keluarga pun tak lupa di lakukan. Kini Alana Adhinata resmi menjadi istri sah dan satu-satunya istri Arundaya Dirgantara.


"Kenapa nangis" bisik Arun seusai acara pagi tadi, dengan jemarinya Arun menghapus air mata di pipi Alana.


"Terima kasih bang, sudah membuatku bahagia. Terima sudah menjadikan ku satu-satunya istrimu"


"Tidak akan ada yang kedua. Hanya ada kita, tidak akan pernah lagi ada tiga hati dalam satu atap" balas Arun mencium kening Alana.


Kini pasutri yang sudah berganti pakaian itu duduk bersanding di pelaminan menerima ucapan selamat dari banyaknya tamu undangan yang seolah tidak ada habisnya.


"Kayaknya temanku dan juga teman mu sedikit deh, ini kok banyak banget ya yang datang?" ucap Arun yang baru bisa duduk setelah setengah jam berdiri menerima ucapan selamat dan juga salaman dengan para tamu.


"Bagus dong kalau banyak yang datang, selain dapat doa pastinya banyak dapat amplop, bisa balik modal kita buat biaya pesta ini bang" cengiran Alana yang membuat Arun geleng kepala lihat pemikiran istrinya ini.


"Al, suami mu ini ga gembel amat sampai harus ngarepin amplop buat balikin modal pesta. Capek tau ga nyalamin satu-satu. Mana banyak yang ga aku kenal lagi" jawab Arun.


"Tamu mama papa, ayah dan ibu juga kali bang, jadi wajar banyak yang ga Abang kenal. Aku aja cuma Juli, Mindo, Fajar sama Dita yang aku kenal. Eh..Dita mana ya bang? tadi masih dekat sini" Alana baru sadar sahabat nya yang satu itu sudah tidak ada di dekatnya.


***


Orang yang sedang dicari Alana justru sedang menikmati eskrim dan juga sate padang nya di pojok ruangan itu, jauh dari pandangan orang-orang.


Mami dan juga papinya sudah berbaur dengan teman-teman mereka yang ternyata berteman dekat dengan Ema dan Wiga.

__ADS_1


Dari pada mengikuti kemauan Rika, maminya Dita yang ingin mengenalkan putrinya itu pada teman arisannya, gadis itu memilih untuk duduk sembari menikmati santapannya.


Belakangan ini Dita begitu doyan makan. Semua makanan yang dia lihat selalu tampak nikmat di pandangannya hingga meneteskan air liurnya.


Bahkan seminggu lalu, saat Rika menghidangkan gulai kepala kakap, satu buah kepala ikan itu habis dia buat sendiri hingga Rika geleng-geleng kepala.


"Ta, belakangan ini mami lihat kamu banyak makan, ga takut gendut kamu nak?"


"Dih, mami, aku makan salah, kemarin malas makan diomelin juga dikatain kayak penyakitan sangking kurusnya"


"Iya, tapi.."


"Sudah mi, biarin aja. Dita ini masa pertumbuhan. Usianya aja baru 18 tahun" sambar papinya yang ikut duduk dimeja makan.


"Hampir 19 Pi.." protes Dita membenarkan, lalu lanjut makan.


Namun ketidak pedulian gadis itu ternyata menarik minat seseorang di ujung sana. Awalnya pria itu sekilas memperhatikan karena bosan mendengar cerita dari rekan bisnisnya yang sama-sama menjadi tamu undangan. Tapi wajah Dita justru menarik perhatian pria bertampang sangar itu hingga melongo dan ingin mendekat kearah Dita, namun langkahnya terhenti, kala seorang pria menarik tangan Dita meninggalkan meja itu.


Begitu sampai di depan pintu Ballroom, disambut oleh photo kedua mempelai di sisi kiri dan kanan pintu masuk dengan ukuran yang besar, saat itu lah Arun sadar, dia sedang menghadiri pesta pernikahan Alana.


Ingin mundur, tapi tepat di belakang tubuhnya sudah berdiri CEO PT Liga Nusa yang sedang menjalin kerja sama dengannya.


"Wah, pak Kaisar sudah tiba. Kalau begitu kita masuk barengan saja" ucap pak pria tambun itu yang tidak bisa dielak Kaisar lagi.


Rasa penasaran Kaisar membuatnya menelusuri seisi ruangan itu, menyelidik satu persatu ratusan orang yang ada di sana.


Kembali lagi langkah nya terjegal dan harus berhenti kala, Wiga menyapanya. Dulu mereka pernah bekerja sama, saat itu Kaisar baru saja menggantikan posisi neneknya sebagai pemimpin perusahaan.


"Terima kasih sudah berkenan hadir di pesta pernikahan anak saya" ucap Wiga penuh hormat pada tiap tamunya. Tepat saat giliran Kaisar, Wiga pun mengucapkan terima kasih untuk kerja sama yang baik yang selama ini terjalin.


Kaisar beserta beberapa tamu undangan yang kebanyakan merupakan pengusaha, naik ke pelaminan untuk menyalami pengantin.

__ADS_1


"Selamat ya.." ucap Kaisar menjabat tangan Arun. Pria itu hanya mengangguk sebagai balasan karena tahu mereka sempat punya cerita yang kurang menyenangkan.


"Selamat Al.." kali ini Kaisar berdiri lama dihadapan Alana, menjabat tangan gadis itu dengan erat.


"Makasih bangkai udah datang.."


"Maaf, ini salamannya cukup sekian dan terimakasih ya. Ini istri orang, dan kebetulan suaminya ada di samping sini, jadi tolong dilepas" gamam Arun sembari menyatukan giginya saat berbicara.


"Abang apa-apaan sih, ga boleh bersikap gitu ah sama tamu" tegur Alana.


"Kok malah belain dia Al? suami mana yang senang tangan istrinya digenggam erat sama pria lain kayak gitu, dihadapan aku lagi" sambar Arun. Alana hanya bisa diam, tidak ingin mendebat. Kini dia adalah istri Arun, sebagai istri yang baik, dia harus menurut perkataan suami.


"Dengar ya Al, aku sangat mencintaimu, aku adalah pria pencemburu yang tidak akan mentolerir siapa pun pria mengganggumu, apa lagi mencoba menarik perhatianmu"


Alana tersenyum senang, dicintai sebegitu besarnya oleh Arun membuatnya merasa berarti dalam hidup ini.


"Aku juga sangat mencintaimu, tidak akan pernah meninggalkanmu, kau harus percaya padaku bang, cinta kita besar, lebih kuat dari apa pun" gumam Alana yang membuat Arun tersenyum bahagia.


Kaisar baru saja akan keluar dari ruangan penuh hiruk-pikuk itu saat dia tanpa sengaja berpapasan dengan Dita. "Maaf, buru-buru" ucap Dita dengan piring bekas kue ditangannya.


Mata Kaisar masih menatap dalam pada wajah gadis itu, menyelidik dan memastikan Dita lah orang yang selama ini menghantuinya dengan rasa bersalah.


"Kamu ga ingat aku?" tanpa sadar Kai bertanya.


"Ngapain gue ngingat lo? emang lo siapa?"


***


Hai, maaf lama ga up. Nunggu up, baca yang ini juga ya, makasih🙏


__ADS_1


__ADS_2