Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 17


__ADS_3

"Minumlah, elu udah terlalu banyak bicara." Arlan menyodorkan sebotol air mineral yang sudah lebih dulu dia buka tutupnya. Sania menerimanya dan menghabiskan setengah dari isinya.


Sania menunduk. Dia tidak menyangka kalau bisa menyelesaikan cerita yang sangat menyakitkan ini. Beberapa bulan terakhir, dia berusaha untuk melupakan semua kepahitan itu. Bahkan dengan bercerita, dia kembali teringat wajah wanita yang sudah melahirkan nya, yang tubuhnya terbujur kaku setelah meminum racun.


Sania terduduk lemah, tubuhnya merosot ke lantai. Saat itu dia baru saja pulang sekolah setelah lebih dua Minggu tidak masuk pasca penangkapan ayahnya. Dia butuh waktu meratapi dan membenahi diri hingga punya keberanian kembali ke sekolah.


Siapa sangka, hari pertama dia masuk sekolah, menjadi hari terakhir dia melihat ibunya. Pagi harinya, ibunya masih memeluknya saat pamit ke sekolah. Tidak ada hal yang mencurigakan, ataupun tanda ibu akan mengakhiri hidupnya.


Begitu sampai di pagar rumah, Sania sudah melihat banyak orang berada di rumahnya.


"Sania, kamu sabar ya, Nak. Bude tadi cari ibu kamu, saat masuk, ibumu sudah tergeletak di lantai," cerita tetangga samping rumahnya.


Dunia Sania hancur berkeping-keping. Dia sudah tidak punya siapa pun lagi di sisinya. Dengan ketegaran yang tersisa, dia ikut menguburkan sang ibu. Sania pasrah, dia juga tidak akan kembali ke sekolah lagi yang pastinya akan menjadi bahan perbincangan anak-anak yang lain.


Namun, pemilik sekolah Bhinneka ternyata teman baik orang tuanya. Bertemu dengan Sania saat penguburan ibunya dan menawarkan untuk memberikan beasiswa di sana. Dermawan itu juga memberikan bulanan untuk Sania yang langsung masuk ke rekening gadis itu tiap bulannya.


Sania pikir setelah pindah sekolah, hidupnya sudah bisa dia tata lagi. Dia meyakinkan dirinya, masih ada cahaya mentari esok yang boleh dia nikmati bersama ayahnya. Sania akan sabar menanti ayahnya keluar dari penjara.


Selama ayahnya ditahan, sudah tiga kali Sania berkunjung meski ayahnya selalu menolak untuk bertemu dengannya. Hanya selembar surat yang dititipkan ayahnya pada sipir lapas.


Ayahnya meminta untuk tidak datang menemui dirinya, semua itu dilakukan demi kebaikan Sania, agar putrinya itu tidak dicap sebagai anak koruptor oleh masyarakat, terlebih teman-teman Sania.


"Arlan, mulai besok, jangan datang lagi, jangan cari aku. Besok, aku akan mengundurkan diri."


Arlan diam lagi. Dia bangkit dan segera membayar semua tagihan mereka. "Ayo."


"Bodohnya aku, kenapa harus bilang begitu pada Arlan. Belum tentu juga dia akan mencariku. Ge-er banget, sih!" ucap Sania dalam hati, ada ras malu menyerangnya lagi.


Arlan mengantar Sania setelah mereka mengelilingi kota. Keduanya diam tanpa sepatah katapun di atas motor.

__ADS_1


"Makasih untuk traktirannya. Padahal, duit kamu juga masih ada sama aku, kembalian pas beli roti waktu itu," terang Sania menarik garis bibirnya. Dia gugup dan bingung, harus langsung masuk saja atau menunggu Arlan pergi, pasalnya pria itu masih berada di atas motornya, tapi mesin sudah dimatikan.


Ingin mampir? Ini sudah malam. Sania merasa tidak enak pada tetangga.


"Hentikan mengatakan hal bodoh! Ingat perkataan gue ini. Besok, lusa, dan seterusnya lu harus masuk sekolah. Kalau lu mencoba menghilang, gue akan mencari lu sampai ke neraka sekalipun. Abaikan semua hinaan orang, angkat kepala lu, karena lu lebih berharga dari mereka!"


Kenapa Sania jadi semakin ingin menangis. Embusan angin yang di sepanjang jalan tadi sudah memberikan sedikit kelegaan dan seenggaknya buat dirinya membaik walau sedikit, tapi sekarang?


Kenapa Arlan harus se-sweet itu, sih?


Sania sudah tidak tahan, memilih untuk berbalik memunggungi Arlan dan melepaskan tangisnya. Bahu yang gemetar sudah menjelaskan pada pria itu bahwa saat ini Sania perlu melepaskan tangisnya.


Arlan juga bingung. Tapi bisikan dalam hatinya mendorongnya untuk turun dan memeluk Sania dari belakang.


"Jangan takut, ada aku bersama mu."


Sumpah, dari semua ucapan yang pernah dikatakan Arlan, ini lah yang paling menenangkan. Sania yang rapuh saat ini sangat membutuhkannya. Arlan memeluk selama 10 menit, membiarkan gadis itu bermain dengan tangisnya. Dia tunggu sampai Sania merasa lega.


"Sekarang kamu masuk, istirahat. Besok harus sekolah!"


Sudah beberapa kali Arlan tidak memakai lu-gue lagi saat bicara dengan Sania, dan gadis itu merasa tersentuh. Dia hanya mengangguk memberikan rasa lega pada Arlan.


***


"Gue mau bicara sama lu!" Rahang Arlan mengeras, mencoba menahan amarahnya. Sesaat setelah mengantar Sania pulang, Agatha menghubunginya dan memintanya datang ke bar tempat gadis itu dan beberapa temannya mengadakan pesta.


"Sayang, kamu udah sampai?" pekik Agatha semringah.


"Kemari!" Paksa Arlan, menarik tangan Agatha hingga hampir saja wanita itu terjerembab.

__ADS_1


"Ar, jangan kasar begitu. Kamu mau ngomong apa? Kiss me, Babe." Agatha menarik tangannya hingga berhenti di tengah ruangan. Tanpa canggung, bahkan begitu bangga disaksikan teman-temannya, gadis itu mengalungkan tangannya di leher Arlan.


"Dasar gadis gila!" Sikap kasar Arlan yang melepaskan diri dari pelukan Agatha, tidak membuat gadis itu menyerah. Dia masih berusaha menempelkan tubuhnya pada Arlan.


"Kamu kenapa, sih? Sejak gadis norak itu masuk, kamu berubah, menjauhi aku!"


"Gue kemari cuma mau memperingatkan. Jangan pernah lu ganggu lagi, Sania. Jangan pernah! Sampai gue tahu lu macam-macam sama dia, sampai buat dia nangis, lu bakal menyesal pernah dilahirkan di dunia ini!"


Baru kali ini Agatha melihat sorot mata pembunuh dari mata Arlan. Dia bergidik ngeri. Agatha ketakutan, dan membiarkan Arlan meninggalkannya setelah ancaman yang cukup serius padanya.


"Sial! Kenapa Arlan sampai belain Sania segitu nya, sih?" umpatnya mengepal tinju.


***


Pagi-pagi sekali, Arlan sudah datang menjemput Sania. Dia sengaja bangun lagi, agar bisa memastikan gadis itu berangkat ke sekolah.


Hanya Arlan yang tahu betapa satu malam ini dia dihantui kegelisahan kehilangan gadis itu. Dia sendiri juga tidak mengerti, kenapa dia bisa masuk lebih dalam lagi. Sania terluka, dia juga merasakan hal yang sama.


Kepahitan kisah hidup yang dialami gadis itu membuatnya ingin selalu melindunginya.


"Kamu di sini?" Sania mundur selangkah ketika mendapati Arlan menunggunya di ujung gang kecil ke arah rumahnya, tanpa menghubungi terlebih dahulu.


Melangkah dengan kepala menunduk membuat gadis itu tidak menyadari keberadaan Arlan di sana.


"Selamat pagi. Syukur deh, lu masih hidup," jawabnya menyerahkan helm ke tangan Sania. Dia mengamati, helm baru, masih ada wangi toko.


"Ini helm siapa? Kamu beli?"


"Udah pakai, bacot!"

__ADS_1


Lagi-lagi hati Sania terbuai, harusnya Arlan tidak perlu mengkhawatirkannya sebesar itu. "Jangan terlalu baik, dong, nanti aku semakin sulit melepasmu!"


__ADS_2