
"Aku menunggu" lanjut Arun kala melihat gadisnya masih saja membisu. Demi membunuh gelisah yang melandanya, Alana meremat jemarinya. Dia bukan tidak ingin bicara, hanya saja bingung dari mana awalnya.
"Baik lah, kalau kau tidak mau bicara" Arun bangkit berniat untuk melangkah pergi.
"Mau kemana?" henti Alana sedikit panik. Begitulah sifat suaminya, memilih untuk pergi meredam amarahnya dari pada harus bertengkar dengan Alana. Kalau sudah seperti itu, Arun akan mendiami Alana hingga gadis itu meminta maaf.
"Pulang.." Arun sudah melangkah meninggalkan ruangan itu dengan Alana yang masih terpelongo.
Balik kesadarannya, Alana bergegas mengejar Arun yang seperti terbang, sudah sampai saja di parkiran. Dengan nafas terengah-engah, Alana masuk duduk di samping Arun yang lagi-lagi mengunci rapat mulutnya.
"Abang kenapa ninggalin aku?" ujarnya merengut. Nafasnya terdengar masih tersengal, duduk dengan melipat tangan di dada, bibi cemberut menatap lurus ke depan.
Amarah dan rasa kesal Arun masih belum reda hingga dia tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Alana dan memilih untuk menjalankan kuda besinya hingga tiba di rumah.
Perang dingin masih berlangsung bahkan hingga merambat ke meja makan. Arun masih bertahan dengan sikap dingin dan diamnya, justru Alana yang tidak tahan. Sejak menikah sebulan lalu, dia sudah terbiasa dimanjakan Arun, bahkan untuk tidur pun Alana akan lebih merasa lebih nyenyak kalau Arun membelai punggungnya hingga terlelap.
Arlan baru saja di letakkan dalam box bayi berukuran besar hampir menghabiskan setengah dari ruang kamar itu, buru-buru Alana mencari Arun, dia tidak ingin lebih lama dicuekin pria itu.
"Tok..tok.." ucap Alana setelah menyembulkan kepalanya kedalam, tanpa mengetuk, hanya dengan suara berupa ketukan. Kebiasaan yang biasanya bisa buat Arun tersenyum menyambut kedatangannya. Namun kali ini tampaknya tidak berhasil, pria itu hanya menatap sekilas lalu kembali pada kerjaannya.
Ehem..Alana mengendap-endap seolah tidak terlihat, berjalan kebelakang Arun lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu, membenamkan wajahnya di leher pria itu, menghirup rasa mint yang selalu jadi kesukaan nya.
"Jangan marah lagi dong bang" bisik nya mengendus leher jenjang Arun yang kini tampak berdiri bulu roma nya.
Sekuat tenaga Arun menahan diri untuk tidak berbalik, mengepal tangannya menahan gejolak dan sensasi yang di timbulkan Alana pada tubuhnya. Dia selalu lemah jika berhadapan dengan Alana.
Tidak mendapat reaksi, Alana lebih melancarkan aksinya. Mengecup setiap jengkal kulit Arun hingga bermain dengan tengkuk dan telinganya.
"Al.." akhirnya yang dinanti Alana tiba. Yes..pria itu sudah kalah. Senyum Alana mengembang di sudut bibirnya. Ternyata ajaran Juli, karyawannya yang sudah menjanda di usia 15 tahun berhasil melumpuhkan amarah Arun.
Alana tidak berhenti, terus memberi kecupan yang terasa panas di kulit Arun. Tidak sampai disitu, tangan Alana turun menelusuri dada bidang Arun, merasakan detak jantung pria itu yang berdetak lebih cepat. Bahkan p*ting Aru. tampak mengeras dibalik kaos putih pas badannya.
__ADS_1
"Hentikan Al..aku.." gumam Arun terbuai. Batang miliknya bahkan sudah mengeras dibawah sana. Alana tidak perduli, terus menjelajah, tangan dan juga bibirnya memborbardir tubuh Arun.
Pria itu menyerah, menarik tangan Alana, hingga gadis itu memutari kursi dan sekali tarik, bokong indahnya sudah mendarat mulus di pangkuan Arun. Keduanya saling menatap. Pandangan mata pria itu turun ke bibir istrinya yang tampak menggoda, merah dan basah.
Ya Tuhan, kalau begini aku tidak akan bisa marah padanya! Persetan dengan semua itu!
Kedua tangan besar Arun menangkup pipi Alana membawa bibir gadis itu mendekat untuk dilum*tnya. Dia kalah, dia tidak akan sanggup menolak pesona Alana.
Ciuman dalam dan nikmat itu berubah menjadi liar. Tubuh keduanya panas terbakar rasa dan bir*hi masing-masing. Dengan gerakan lembut Arun mengangkat tubuh Alana, membuatnya mengangkang di pangkuannya tanpa menghentikan ciuman panas itu.
"Aku menginginkanmu, sekarang..di sini" bisik Arun yang membuat jantung Alana semakin berdetak kencang. Perlahan Alana mengangguk, karena dia pun kini sudah tidak berpikir jelas, dia juga menginginkan apa yang kini tengah diminta pria itu.
Tangan kanan Arun, menarik boxernya hingga dibawah lutut, lalu membuka penutup milik Alana. Semua berjalan cepat, keinginan itu sudah tidak bisa terbendung diantara keduanya.
Kulit Alana terasa panas, gadis itu basah dan sudah siap. Perlahan Arun menarik daster istrinya ke atas hingga tidak menutupi tubuh gadis itu. Tidak berlama, Arun bermain dengan kedua benda kesukaannya, mengh*sap dan memainkan puncaknya.
"Bang.." des*h Alana, semakin terbakar oleh panas gairah yang diciptakan Arun. Suara desah*n gadis itu menjadi musik pengiring yang mampu memacu adrenalin nya.
Sekali lagi Arun mengangkat tubuh Alana, memposisikan tepat pada miliknya. "Aauw" rintih Alana membulatkan mata, tidak sempat mengatakan apapun, Arun sudah ******* kembali bibir mungil itu yang kini sudah tampak membengkak karena ulah Arun.
Tanpa malu, Alana mulai menggoyang panggulnya, mengikuti ritme gerakan Arun. Mereka menjadi satu kesatuan dalam permainan panas itu. Racuan dan juga d*sahan dari keduanya saling sahut-sahutan. Hampir setengah jam meliuk-liuk di atas tubuh Arun, kini ledakan itu menghampiri. Lava itu siap untuk dimuntahkan.
"Al.."
"Mmm.."d*sah Alana manja, tidak bisa lagi berkata, permainan ini terlalu nikmat, terlalu menyita akan sehatnya.
"Aku mau.. aaach, aku mau.." racu Alana menancapkan kukunya di punggung Arun saat gelegar itu menyerang. Tubuhnya seperti ingin meledak terbelah.
"Iya sayang, kita sama-sama" sahut Arun dengan nafas tersengal-sengal.
"Aaaach..teriaknya keduanya bersamaan, seiring bukti gairah mereka keluar. Keduanya saling berpelukan erat,
__ADS_1
Tubuh Alana merosot lemas di dada Arun, rasanya tenaganya tersedot habis dalam permainan berkeringat itu. Keduanya masih menata pernafasan yang masih berat, hingga bisa menghirup udara dengan teratur.
"Masih marah?" ucap Alana menatap mata Arun, lengannya masih bergelayutan dileher Arun, mengunci wajah pria itu hanya untuk melihatnya saja.
"Kenapa kau harus menguji kesabaran ku? selalu berhasil membuatku mengkhawatirkan mu hingga hampir gila" kali ini tangan Arun yang ada di bokong Alana meremas gemes karena mengingat tingkah Alana yang membuatnya kesal.
"Aku ga berniat buat abang kesal"
"Terus? kenapa hingga detik ini kau masih tidak memberikan penjelasan padaku?"
"Awalnya tadi mau ngomong, tapi abang langsung nyosor. Jangan marah lagi dong bang, kan udah dikasih enak" godanya mengerlingkan sebelah matanya sembari tersenyum simpul.
"Dasar!" Arun menarik gemes hidung Alana hingga gadis itu mer*ntih sakit.
"Tadi aku ke rumah nenek Rosi, nenek nya bangkai..."
"Apa?" kaget mendengar penuturan Alana, hingga menarik tubuhnya kebelakang, memberi ruang diantara mereka.
"Dengar dulu, jangan pasang tampang marah. Aku ke sana karena katanya nenek Rosi sakit, dan bangkai minta aku kasih penjelasan pada neneknya, yang selalu menuntut ingin aku dan bangkai menikah"
"Dasar keluarga gila!" umpat Arun geram.
"Sayang, dengar dulu. Nenek Rosi baik. Makanya setelah aku kasih pengertian, buktinya beliau bisa terima" terang Alana mengelus dada Arun dengan telapak tangannya.
"Aku ga suka kau berhubungan lagi dengan pria itu!" perintah Arun tegas.
"Cemburu ya? Ciee..suamiku cemburu" goda Alana tertawa riang.
"Iya, aku memang cemburu. Dan jika rasa cemburuku sudah menyerang, aku bisa jadi psikopat. Dengar..." Arun mengangkat dagu Alana. "Aku mencintaimu sepenuh hatiku, mencintaimu lebih dari apapun, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun mendekatimu, apalagi sampai merebut mu, siapa pun dia akan aku habisi!"
***Hai..hai, maaf belakang ini cuma up sedikit. lagi sibuk🙏😁
__ADS_1
aku bawa novel keren nih, nunggu aku up, bisa mampir di sini, terimakasih 🙏😁