Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kai dan Masa Lalu


__ADS_3

Perasaan sayang Kai, sudah muncul untuk Kasa. Bayi itu kini sedang tertidur pulas setelah mandi paginya. Wajah tenang bayi itu mampu meredam rasa sakit yang selama ini bersarang dihari Kaisar.


Entah mengapa, melihat Kasa, mengingatkan dirinya pada masa kecilnya dulu, anak yang tidak diinginkan, yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Perlahan, Kai terbiasa dengan kehadiran Kasa di sisinya, menemani bayi itu dan mengajaknya bicara sesuatu hal yang menyenangkan buat Kai. Perasaan takut berpisah justru kini sering menghantuinya. Dia takut, kalau bangun di pagi hari, dia tidak bisa melihat Kasa lagi.


Berasalan kalau kini yang paling dia takutkan adalah hasil tes DNA itu menunjukkan Kasa bukan anaknya! Apakah dia sanggup melupakan anak itu begitu saja?


Kai ingat, sewaktu kecil, dia begitu menginginkan perhatian ibunya, menginginkan cinta dan pengakuan dari ibunya tentang keberadaannya yang tidak dianggap. Namun nyatanya, hingga sampai pergi pun, wanita itu menutup matanya akan keberadaan Kaisar kecil sebagai anaknya.


Dari neneknya, Kai tahu kalau ibunya terpaksa menerima perjodohan dengan ayahnya, karena paksaan orang tuanya. Nimar, ibunya memendam benci pada sang ayah, yang dengan tangan terbuka menerima perjodohan itu.


Hati Nimar hancur, dia terpaksa meninggalkan kekasih hatinya, demi menikah dengan Barrel, ayah Kai. Rumah tangga bak di neraka karena memang dibangun atas dasar kebencian.


Setahun pernikahan itu berjalan, lahir lah Kai. Namun rasa benci Nimar pada suaminya tak kunjung surut. Keberadaan Kai tidak serta mertua membuat Nimar jatuh cinta dan menerima Barrel, tapi justru semakin membenci pria itu. Nimar beranggapan kalau kehadiran Kai menjadi penghalang perpisahan Nimar dengan Barrel.


Kai kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mandiri. Walau tanpa perhatian dari Nimar, Kai tidak menjadi anak yang nakal. Dia rajin belajar hingga menjadi juara disekolah, penuh semangat memberikan nilainya pada Nimar, namun tanpa hati, wanita itu justru merobek hasil laporan nilai Kai.


Kai tidak menangis. Dia tidak membenci ibunya. Hari berlalu, Kai mengikuti banyak kegiatan yang berhasil mendapatkan medali dan piala, mulai perlombaan sains, hingga karate, lagi-lagi dia ingin membuat ibunya bangga, namun dengan sampai hatinya, Nimar membuang dan membakar piala itu.


"Dasar anak tidak berguna! kau tidak perlu menunjukkan semua ini padaku, kau tahu, aku sangat membencimu. Jika saja aku bisa membunuhmu sewaktu baru lahir, maka akan aku lakukan" salak Nimar sore itu, mengambil kayu rotan dari gudang, dan memukul tubuh Kai dibawah siraman hujan.


Persoalan sepele, Kai hanya bertanya, kenapa Nimar tidak mencintai. Wanita itu murka, diingatkan kembali dengan penyebab doa harus berpisah dengan kekasihnya. Nimar murka, dan mulai memukuli Kai kecil dengan kayu rotan. Wajah Kai yang begitu mirip dengan ayahnya membuat Nimar sangat membenci Kai.


Sekuat tenaga, Kai menahan sakit ditubuhnya. Setiap hentakan kayu rotan di kulitnya, Kai akan memejamkan matanya, tidak bersuara meminta ampun apalagi menangis. Hatinya terluka, namun rasa cintanya yang besar pada ibunya, membuat Kai tidak bisa membenci Nimar.


Tepat saat Kai berumur 9 tahun, kejadian naas menimpa Barrel, kecelakaan yang tak terelakkan terjadi, hingga kaki Barrel harus diamputasi. Barrel cacat, dan tidak berdaya. Keadaan itu dimanfaatkan Nimar untuk pergi dari rumah malam itu.


"Mama jangan pergi, aku mohon. Jangan tinggalkan aku, ma. Aku janji akan jadi anak yang baik, aku janji akan patuh pada semua perkataan, mama" Kai memohon dengan terisak, mengikuti langkah Nimar yang sibuk memasukan barang-barangnya ke dalam koper.

__ADS_1


Nimar tidak buka suara, sedikitpun tidak ingin bicara dengan Kai, terus menyelesaikan pekerjaannya.


Sampai ketengah ruangan, Kau mengejar ibunya, sujud memegang kaki Nimar, agar wanita itu tidak jadi pergi, namun tanpa perasaannya, Nimar menendang Kai hingga terpelanting jauh. Barrel yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya mampu melihat keadaan itu dengan tetesan air mata.


Disaksikan gerimis malam, Nimar pergi meninggalkan Kai dengan segala duka di hatinya. Sejak saat itu, Kai membenci Nimar, membenci semua wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai alat pelampiasan nafsunya sebagai bentuk dirinya merendahkan mereka.


Kebencian sejak hari naas itu terus membukit, membuat Kai tidak percaya sama sekali dengan wanita, apalagi pernikahan. Dia takut, apa yang terjadi padanya sewaktu dulu, kembali dirasakan anaknya.


Rasa haus yang menyapa, membuat Kai memutuskan ke dapur. Perlahan, menutup pintu dengan pelan, agar anak itu tidak terbangun.


Baru akan kembali ke atas, suara Mita membuatnya membatalkan niatnya.


"Sar, kamu mau ke atas ya?" suara Mita menghentikan langkah Kaisar yang baru saja akan menaiki anak tangga pertama.


"Iya, bu," sahutnya kikuk.


"Kasa, udah tidur?"


"Bagus lah kau begitu. Ibu nitip ini, ya. Tolong kasih sama Dita" Mita menyerahkan segelas susu berwarna mocca pada Kaisar.


Kalau mau jujur, dia menyesal sudah turun tadi. Mandat yang diberikan Mita sangat berat untuk dia lakukan saat ini, namun dia tidak punya pilihan lain, kan?


Tok...tok..tok..


"Masuk.." suara nyaring Dita terdengar menyuruhnya masuk. Hampir saja Kai pingsan menyaksikan pemandangan didalam ruangan itu.


"Masuk kasar, jangan berdiri didepan pintu, ntar ada yang lewat kan berabe" ucap Dita berbalik menghadap Kaisar.


Begitu daun pintu itu terbuka, yang pertama Kai lihat adalah punggung mulus Dita yang terpampang tanpa sehelai benangpun, putih seperti kanvas yang siap untuk diwarnai.

__ADS_1


Mendapat hardikan, Kai segera masuk dan menutup pintu, dia tidak ingin orang lain melihat tubuh Dita yang begitu...ah, sudahlah!


Tangan Dita menjepit b*a hitam di dadanya, menutupi sebagian bongkahan kenyal itu, walau lebih banyak yang terlihat.


"Untung kasar datang. Bantuin pasang, kak" pintanya menoleh kearah Kai.


"Hah? ngapain?"


"Kaitkan b*a aku di belakang" ucapnya sudah kembali berbalik, menunggu Kai membantu.


Jantung Kai berdegup kencang. Tiga hari tinggal di rumah ini, entah sudah berapa kali dia gelisah, jantungnya terus berdetak lebih cepat dari detak normal, disuguhi pemandangan yang membuat imannya goyah, tubuhnya memanas dan pikirannya menjadi kotor. Kai yakin, seminggu di sini otak nya bakal hang, dan bisa mati mendadak.


"Buruan, kak" desak Dita kembali menoleh.


Tangan gemetar Kai mulai mengaitkan kancing b*a Dita, menahan diri untuk tidak membalikkan tubuh gadis itu, lalu menciumi leher hingga ujung kakinya.


"Lihat nih kak, semua b*a aku kekecilan. Dadaku membesar selama menyusui Kasa," ucap Dita melompat-lompat kecil hingga permukaan dadanya bergetar, terombang-ambing ke sana kemari.


Duh, ni anak nya, gue embat juga nih!


Hal pertama yang ingin dilakukan Kaisar setelah melihat hal itu, dia akan menarik tubuh Dita, menempatkannya di bawah tubuhnya, dan mulai menciumi setiap jengkal tubuh menggiurkan kan itu. Memasuki secara paksa hingga d*sahan yang pernah Dita keluarkan malam itu kembali didengarnya.


Demi menghalau pikiran kotornya, Kai memukul kepalanya, agar bayangan Dita menggeliat di atas ranjang, bisa terhempas, pergi dari pikirannya. Hufffh...


"Kasar kenapa?" tanya Dita khawatir melihat tingkah Kai.


"Ga papa, hanya butuh kamar mandi, sepuluh menit" ucapnya segera keluar dari kamar Dita.


*** yuk mampir, gadis🙏

__ADS_1



__ADS_2