Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Sebenarnya itu anak siapa?


__ADS_3

Usia bayi mungil itu hanya delapan bulan 3 minggu, dan sudah harus datang ke dunia. Bermula dari Dita yang tergelincir digenangan air kala mengejar tukang sate pinggir jalan, saat baru pulang dari Bandung. Ketuban pecah, dan dokter harus segera mengoperasinya demi keselamatan si bayi.


Dita segera dilarikan ke rumah sakit. Operasi sudah akan mulai dilaksanakan, namun Dita masih ingin berbicara dengan Alana, setidaknya dianggapnya bisa mengurangi rasa takut dan gugupnya, namun ternyata subuh itu Alana tidak mengangkat teleponnya.


"Bayi gue masih dalam perawatan, Al. Masuk incubator," terang Dita tersenyum kecut. Ada kesedihan tersirat di bola matanya.


"Jangan sedih, Ta. Pasti dedek bayinya cepat pulih "


"Iya, Al. Lo tahu, anak gue cakep banget. Hidungnya mancung dan kata dokter, untuk ukuran bayi kurang umur anak gue termasuk gede, 1,9 kilo, Al. Gede, kan?" Dita dengan bangganya bercerita. Sementara Arun dan kedua orang tuanya, duduk di sofa dengan santai mendengar kedua sahabat itu ngobrol.


Semua bisa dilalui, sesakit dan seburuk apapun kenyataan hidup, jadi jangan pernah menyerah. Itu yang ditanamkan orang tua Dita. Alih-alih menyembunyikan kehamilan Dita dari keluarga dan para sahabat, kedua orang tua itu justru membawa Dita kemanapun mereka pergi liburan. Rudi tidak mau meninggalkan anaknya sendiri dalam keadaan seperti saat itu, dia tidak ingin Dita merasa sendirian, ditinggalkan dan akhirnya punya pikiran pendek.


Justru pada saat ini lah, Dita benar-benar butuh perhatian, dukungan dan kasih sayang, agar dirinya semangat menyambut kelahiran anaknya. Dokter sudah menyampaikan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan keadaan bayi itu. Dia sehat dan semua anggota tubuhnya lengkap. Hanya saja memang perlu mendapatkan perawatan intensif dulu, dengan tujuan memantau kalau ada reaksi bayi yang tidak normal.


"Hanya sepuluh hari kok, nanti juga udah boleh dibawa pulang," terang Dita tersenyum. Atas permintaan Rudi, bayi mungil nan tampan itu dibawa keruangan Dita. Selain ingin mengenalkan dengan Arun dan Alana, sudah waktunya juga bayi itu diberi ASI.


"Kamu hebat, aku jadi terharu," ucap Alana menghapus bulir bening yang hampir mengenang dipelupuk mata. Melihat Dita memberi ASI pada bayinya seperti melihat sebuah lukisan indah. Ini lah arti dari kasih seorang ibu.


"Kenapa? kamu juga hebat, bahkan lebih hebat malah, bisa melahirkan normal"


"Sama aja, Ta. Baik normal atau pun Caesar, sama-sama mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anaknya. Dan mami bangga pada mu, nak. Sama kamu juga, Al," ujar Mita mendekati mereka. Mengamati Dita dengan cucunya, adalah satu anugrah dari Tuhan.


"Siapa namanya, Ta?" tanya Arun mendekat setelah bayi itu kenyang. Kini bayi merah itu tengah terlelap dalam timangan Mita.


"Belum tahu, bang. Belum dapat ide. Bagusnya siapa ya?"


Hening sejenak, seperti sedang mengheningkan cipta. Semua orang tampak tengah berpikir, ingin menyumbangkan ide.


"Kalau boleh papi titip satu, terserah nama tengah atau nama panggilan. Dari papi Angkasa. Papi yakin suatu hari nanti dia akan menjadi anak yang hebat, yang dikagumi banyak orang layaknya Angkasa"


"Bagus, Pi. Mulai sekarang namanya Angkasa. Kita panggil Dia Kasa," seru Dita bersemangat. Mengakui nama pemberian papinya memang cocok untuk anaknya.

__ADS_1


***


Setelah genap dua Minggu, dan Kasa juga sudah di rumah, hari ini Alana akan pergi ke rumah Dita. Sekalian dia ingin membawa Arlan.


Alana sudah mengantongi izin dari suaminya. Arun memang tidak bisa ikut karena pekerjaannya yang menumpuk akhir-akhir ini, tapi dia akan menjemput mereka untuk pulang bersama.


"Hati-hati di jalan, Al. Kenapa tadi ga ajak bi Minah aja?" tanya Arun saat Alana menghubunginya untuk meminta izin.


"Aku bisa kok, bang. Lagi pula, Arlan udah gede ini. Ga merepotkan, kok," jawabnya meyakinkan Arun bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Selain membawa roti dari tokonya, Alana memutuskan untuk membawa buah dan juga madu dan berbagai cemilan sehat untuk Dita.


"Arlan, mau eskrim?" tanya Alana melihat kearah tangan bocah tampan yang menunjuk stand eskrim BR.


"Mau.." sahutnya menggemaskan. Alana tersenyum, perkembangan putranya sangat cepat. Mengkonsumsi makanan sehat dan minyak ikan, baik untuk perkembangan Arlan.


Rasa gembira begitu terlihat di wajah Arlan, menerima mangkok eskrim medium yang dipesan Alana. Sejak tadi sepasang mata mengamati keduanya dengan senyum di bibir.


"Bangkai..." seru Alana bersemangat.


"Anak lo udah gede ya"


"He-eh" Alana mengangguk mengiyakan. "Gimana kabar nenek, bang? sehat, kan?"


"Sehat, malah makin enerjik. Lo ke rumah dong. Pasti tuh wanita tua bakal senang"


"Nanti deh kak. Lain kali aku mampir. Ini mau ke rumah sahabat aku, yang baru lahiran"


"Sahabat?"


"Iya, yang waktu itu aku cari di club," sahut Alana tidak menyadari perubahan mimik wajah Kai yang berubah drastis.

__ADS_1


"Dia melahirkan? bukannya dia..."


"Hah? abang ngomong apa tadi?" Alana tidak sempat menyimak ucapan Arun yang terhenti ditengah jalan, pasalnya Arlan meminta perhatian Alana. Bocah itu sudah tidak menginginkan sisa eskrim nya lagi.


"Temanmu itu memang hamil?"


"Iya, dan udah lahiran juga. Udah dua minggu malah"


"Apa ba-bayinya sehat?" tanya Kai. Mungkin tubuhnya masih ada dihadapan Alana, namun pikirannya sudah melayang memikirkan Dita.


Gadis itu melahirkan? apa itu anak gue? tapi yang waktu itu gue lihat di klinik? kenapa jadi begini sih? itu yang di lahir kan anak gue atau ga sih?


Batin Kai berperang. Dia ingin mencari tahu kebenarannya. Satu hal yang pasti akan dia lakukan nanti, Bara akan menghajar Perguson sialan itu habis-habisan!


"Bayinya lahir belum cukup umur, harus masuk incubator, tapi sekarang sih udah dibawa pulang" Alana masih betah bercerita. Dia begitu bangga memiliki teman seperti Dita, yang masih tetap tegar meski begitu banyak cobaan yang menerpanya.


"Kenapa belum cukup umur sudah dilahirkan?" desak Kai memuaskan rasa penasarannya.


"Dita tergelincir, hingga jatuh dan air ketuban pecah. Ga ada jalan lain, selain Dita harus di operasi saat itu"


"Operasi? ta-tapi sahabat lo itu baik-baik aja kan?" rentetan pertanyaan itu terus bergulir, hingga mereka tidak sadar kalau saat ini ngobrol sambil berdiri dan ditengah lalu lalang orang lewat.


"Dita baik. Semua udah kembali normal. Tapi aneh, kok bangkai antusias banget pengen tahu keadaan Dita dan Angkasa?" delik Alana memicingkan mata.


"Hah? Oh..gue cuma prihatin akan nasib sahabat lo itu. Tunggu, Angkasa siapa?"


"Anaknya Dita. Opanya yang kasih nama itu. Bagus kan?"


Enak aja main kasih nama anak gue sembarangan. Tanpa seizin gue lagi!


"Al, gue antar lo ke sana ya?"

__ADS_1


__ADS_2