
"Jangan cemberut dong Al, aku minta maaf ya kalau mama buat kau jadi merasa tersudutkan?" ucap Arun masih menggenggam tangan Alana. Baru Lima menit lalu Ema pergi dari sana dengan membawa kesepakatan diantara mereka.
Sementara Poppy harus menelan rasa malunya karena dijadikan alat bagi Ema.
"Tante gimana sih, kok malah nantang mantan Arun biar mereka cepat nikah sih?" rungut nya kecewa.
"Terus, tante harus ngomong gimana dong?" sahut Ema cuek bebek, mulai menjalankan mobilnya pulang.
"Harusnya itu, tante maksa Arun untuk nikah sama aku, ga usah ngasih kesempatan buat si janda itu"
"Hush, gitu-gitu Alana janda nya si Arun loh, anak tante. Gini ya Poppy, bagi tante, siapa aja yang jadi istrinya Arun ga masalah sama tante. Mau sama kamu oke, sama Alana juga oke. Malah lebih baik sama Alana sih, karena mereka kan udah punya anak, kasih cucu tante" terang Ema tidak perduli dengan riak kesal di wajah Poppy.
"Al.."
"Apa sih bang? udah ah, ga usah dibahas lagi. Aku mau lihat Arlan, siapa tahu udah bangun. Lagian Dita juga belum makan siang, aku mau pulang"
"Tapi jangan ngambek lagi. Maaf kalau mama salah. Tapi dia hanya ingin kita bersatu, agar Arlan punya keluarga yang utuh"
Tidak ada bantahan dari Alana. Dia mengakui apa yang dikatakan Arun itu benar. Jangan karena prinsip yang dianggap dia benar, namun belum tentu juga nilai kebenarannya, Arlan buah hatinya jadi korban. Dia juga seorang anak, jika menikah dengan Arun, maka Ema akan jadi ibu mertuanya. Menyenangkan hati mertua tidak ada salahnya kan?
Mengakhiri masa diamnya, Alana mengangkat wajahnya menatap lekat pada Arun lalu tersenyum. "Iya, aku ga akan ngambek lagi. Aku akan jadi calon istri penurut" ucapnya lembut sembari membelai pipi Arun.
***
Peribahasa dikasih hati minta jantung kayaknya pas buat Ema. Awalnya dia meminta hanya 6 bulan masa berkabung untuk mengenang Lily lalu mereka akan menikah, kini berubah lagi.
Pagi tadi, Ema sengaja datang ke toko roti Alana. "Al..setelah dipikir-pikir, mama minta kalian nikahnya bulan depan aja ya? kan untuk masa berkabung tiga bulan udah cukup" ucapnya duduk berhadapan dengan Alana.
"Tapi tante.."
"Ok gini deh, dua bulan lagi. Ok, jadi cukup lah lima bulan. Dalam dua bulan ini kita rampungkan semuanya, dari pakaian, undangan dan juga gedung. Oh..jangan sampai lupa catering "
__ADS_1
Tak tahu harus berkata apa, Alana kembali menelan salivanya. Tenggorakan nya terasa kering dan tercekat. Diteguknya teh hangat yang ada dihadapannya.
"Nenek lampir bilang apa?" suara Dita yang baru keluar dari ruangan Alana berhasil mengagetkannya.
"Dita ih, ga boleh gitu. Walau gimanapun dia kan mamanya bang Arun, calon ibu mertua aku juga"
"Sadar Woi, dia juga udah pernah kali jadi mertua lo" cibirnya duduk di tempat Ema tadi.
Melihat Alana yang hanya tarik nafas berat, Dita tahu ada beban dalam pikiran Alana. "Kenapa lo? bisa ga sih lo sesekali jangan jadi pihak yang disakiti mulu? dilihat dari wajah lo, pasti lo terbebani ya punya mertua kayak dia? udah ga usah lo nikah sama anaknya, bereskan?" celotehnya panjang lebar.
Dia benci pada orang-orang yang menindas Alana. Sejak SMA Dita selalu berdiri paling depan untuk menolong Alana yang memilih untuk diam dari pada urusan jadi semakin runyam.
"Aku cuma takut kalau nanti udah nikah, tante Ema bakal ngatur rumah tangga kita juga ga ya? aku tahu bang Arun sayang dan sangat menghormati mamanya, jadi..ah..ga tahu ah. pusing.." Alana mengacak rambutnya sendiri.
Dita memili diam. Dia tahu kalau mulut berbisanya bicara, Alana akan semakin terbebani dan menjadi sedih, dan dia ga mau itu terjadi.
***
Biasanya, Arun akan menjemputnya pukul 5 sore, tapi masih pukul 3, pria itu sudah muncul dengan wajah penuh senyum untuk Alana.
"Loh, udah pulang bang?" Alana melirik jam dipergelangan tangannya, beranggapan karena terlalu asik bekerja hingga tidak menyadari sudah pukul 5, tapi keningnya mengkerut saya jarum jam menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit.
"Iya, habis kangen sama mu" bisik Arun mencondongkan tubuhnya ke mesin kasir agar terdengar oleh Alana.
"Ueeek...gombal!!" cela Dita berakting ingin muntah.
Seketika Arun terkejut, tak menyangka kalau Dita ada di dalam dan mendengar semua ucapannya.
"Lo disini Dit? belum pulang juga?" sapa Arun tengsin.
"Gue bakal di sisi Alana sampai mati. Sorry merepotkan. For your information ya bang, gue sama Alana ini udah kayak twins kalau dipisah, salah satu dari kita bisa gila" jawabnya sembarangan. Dita bangkit dari duduknya di sudut ruangan di samping kaki Alana hingga tidak terlihat Arun.
__ADS_1
"Segitunya ya, terus kalau ntar kita pas malam pengantin, lo ikut juga?" pancing Arun kesal. Dita baginya lebih mengerikan dari Gara. Maniak Dita pada Alana membuat Arun tersisih.
Suatu kali Arun pernah bertanya pada Alana, apa Dita itu pelangi hingga begitu menempel pada Alana. "Dita itu normal bang. Malah dia suka sama cowok macho yang sedikit urakan kayak anggota grub band" terang Alana, yang membuat Arun bisa bernafas lega.
"Idih, najis. Calon suami lo mesum tuh Al" cibirnya keluar dan masuk keruangan Alana untuk rebahkan lagi.
Seberat-beratnya rival cowok, pasti lebih berat berhadapan dengan cewek. "Abang belum jawab, kenapa cepat pulang?"
"Oh, iya sampe lupa. Ada yang ingin abang tunjukkan. Ikut dengan ku" Arun mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alana.
Kali ini apa lagi yang akan dilakukan Arun padanya? kemarin saat perjalanan pulang ke rumah, Arun singgah ke toko bunga dan membeli banyak bunga untuknya hingga jok belakang penuh.
"Kita mau kemana lagi kali ini bang?"
"Nanti juga kau akan tahu" jawab Arun mengulum senyum.
Mobil Aston Martin Vantage milik Arun berhenti disebuah rumah besar nan megah. Ini jauh lebih megah dari rumah yang selama ini Alana tempati. "Kenapa ga bilang mau ngajak aku ke rumah teman abang?" bisik Alana yang berdiri di samping Arun tepat di depan gerbang hitam yang tampak angkuh berdiri dengan megahnya.
Arun hanya tersenyum, menggengam tangan Alana, dan melangkah maju mendekat. Enam digit nomor Arun tekan, lalu pintu gerbang itu terbuka lebar, mempersilahkan mereka masuk.
Belum selesai kebingungan Alana, Arun sudah mengajaknya masuk lebih dalam lagi, membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Suka?" tanya Arun yang melingkarkan tangannya di pinggang ramping Alana.
"Hah?" Alana belum kembali dari rasa bingungnya.
"Kau suka rumahnya?"
"Eh..Iya suka"
"Ini akan jadi rumah kita nantinya, memulai hidup baru kita, melupakan tiap kesedihan yang pernah adaa. Hanya ada kebahagiaan kau, aku dan anak kita"
__ADS_1