Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Berakhir


__ADS_3

Ruangan itu mendadak hening, namun begitu permintaan Alana bergema di telinga Arun. Wajahnya memucat. Dia paling benci kata itu, tapi ini sudah kali kedua Alana pinta darinya.


"Al, kamu jangan bicara begitu. Lagi pula Arlan masih sakit"


"Maaf kak Lily, kalau aku ikut campur. Tapi aku mendukung perkataan Alana. Ini sudah saatnya kalian membebaskan Alana dari kungkungan kalian. Alana berhak bahagia. Lagi pula sesuai perjanjian, setelah Arlan lahir, Alana akan diceraikan" sambar Gara mendominasi percakapan.


Sebenarnya saat Gara dan kedua temannya hendak ke rumah sakit ini, mereka yang memilih lewat pintu dua rumah sakit yang melewati taman belakang agar lebih cepat sampai dan melihat Arun dan Lily yang tengah bertengkar hebat.


Sedikit banyak mereka bertiga mendengar perdebatan suami istri itu karena Dita menarik tangan Gara untuk untuk berhenti sejenak. Dita takut kalau nanti akan terjadi hal buruk pada Lily, tapi setelah memastikan Arun tidak akan bersikap b*nci dengan memukul wanita, ketiga nya pun pergi dari sana.


Dalam kamar itu lah, ketiganya menuntut Alana untuk segera keluar dari lingkaran pernikahan tidak sehat ini.


"Selama ada lo diantara mereka, Lily akan selalu menderita" ucap Dita meyakinkan Alana.


"Lagi pula Al, untuk apa lagi kamu mempertahankan pernikahan ini lebih lama. Seperti katamu dulu, tugasmu sudah akhir dan kamu akan diceraikan. Kamu juga harus pikirkan perasaanku Al. Aku sudah lama menunggumu, bersabar sampai kau berpisah dengan bang Arun. Ini saatnya Al" ucap Gara menggenggam tangan Alana. Dia tahu gadis yang kini menunduk dan diam itu sedang dilema.


"Al, aku ingin segera menikahi mu. Jadi aku mohon padamu, jangan gantung lagi perasaanku" tambah Gara.


"Tapi bagaimana dengan Arlan? aku tidak bisa meninggalkannya sendiri, terlebih setelah kejadian ini" Alana mendongak, mengangkat wajahnya menatap Gara yang duduk di sampingnya.


"Arlan akan tinggal bersama kita. Kalau mereka tidak memberikan, kita akan tempuh jalur hukum. Aku akan menyayanginya seperti darah-dagingku sendiri" tegas Gara menyakinkan.


"Al, jangan ragu lagi. Apa yang disampaikan Gara itu sudah tepat. Kita semua ada disini untukmu" tambah Fajar yang sedari tadi lebih banyak diam.


Sekali lagi Alana mendongak menatap mata Gara mencari kepastian yang bisa dia pegang. "Al.." setelah Gara memanggil nama Alana lembut, gadis itu akhirnya mengangguk.


Tidak lama kemudian Arun masuk dan disusul Lily yang tampak kusut.


"Tapi Ga, kasihan Arlan kalau mereka berpisah lagi. Arlan membutuhkan mamanya" ucap Lily.

__ADS_1


"Justru karena itu kak, Arlan akan ikut dengan Alana" tegas Gara.


"Tidak bisakah kau melembutkan hatimu? tetap di sisiku demi anak kita jika perasaanku tidak penting untukmu" tiba-tiba Arun buka suara ditengah perdebatan Lily dan Gara. Suara Arun terdengar lembut hingga mampu membungkam semua orang yang ada di sana, termasuk Alana. Ada kabut bening yang coba dipertahankan Arun untuk tidak keluar. Sekuat tenaganya, Alana tahu itu.


"Maaf bang. Aku tetap ingin pisah, dan aku akan membawa Arlan bersamaku" sahut Alana merasakan sedih yang begitu besar dalam hatinya.


Maafkan aku bang. Aku harus memilih jalan ini demi kebaikan kita semua. Perasaan yang sudah sempat hadir untukmu, akan aku buang. Bahkan sejak awal aku sudah sadar, mencintaimu lalu melupakanmu, sama halnya dengan aku membunuh diriku perlahan. Aku mati, tanpa kehilangan denyut nadiku, Karena aku sudah mencintaimu dalam diam..dalam terluka..


"Ga boleh Al. Aku mohon. Aku dan Arun tidak akan mengizinkanmu membawa Arlan" ucap Lily histeris. Takut akan bayangan Ema yang mengusirnya dari keluarga Dirgantara membuat Lily menjambak rambutnya.


"Maaf kak. Dari awal kepergian ku, aku udah bilang, aku akan menyerahkan Arlan untuk kakak jaga dan kakak rawat penuh kasih, tapi kalau sampai hal buruk terjadi pada Arlan, aku akan membawanya pergi" ucap Alana tegas, bak singa betina yang siap menerkam siapa pun yang ingin mengambil anaknya dari sisinya.


"Hun.." teriak Lily meminta dukungan.


"Aku tidak akan perduli, apapun lagi yang bang Arun ucapkan, sekalipun aku harus menderita, aku akan perjuangkan Arlan bersamaku" sambar Alana menatap tajam pada Lily.


"Haruskah aku berlutut padamu, agar kau mau tetap tinggal?" sebulir kristal asin jatuh di pipi Arun yang dengan cepat dia hapus.


Tapi Arun terlalu tidak perduli dengan anggapan Gara, baginya yang terpenting adalah membujuk hati Alana. Hatinya terlalu sakit mengetahui rencana Alana ingin menikah dengan Gara hingga minta cerai.


"Al... aku mohon. Kasih aku kesempatan untuk membahagiakan mu dan anak kita," ucapnya memelas.


"Jangan begitu bang, aku mohon," ucap Alana mendongak menatap Arun yang juga sama terlukanya seperti dirinya.


"Tapi aku benar-benar ga bisa melepas mu, Al."


"Lepaskan aku bang. Aku mohon talak aku, biarkan aku bahagia dengan langkah yang aku ambil," pinta Alana menyatukan kedua tangan di dada, memohon pada Arun.


"Jadi itu yang kau inginkan? perpisahan?"

__ADS_1


"Iya bang.."


Arun memejamkan matanya seiring tarikan nafas yang dalam. Perih, sakit di relung hatinya. Tapi akan lebih sakit jika Alana ada di sisinya, tapi menatap benci padanya. Cintanya pada Alana terlalu besar untuk melihatnya menderita.


Arun kini berada dihadapan Alana, pria yang berstatus sebagai suami dalam pernikahan siri yang bahkan tidak tercatat dalam negara kini menarik tangan Alana untuk bangkit berdiri.


Alana menundukkan kepalanya, batinnya berkecamuk perih. I**nikah akhir dari drama pernikahanku?


"Bang?" lirih Alana perlahan mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang sudah satu tahun menjalin status dengannya.


Arun menggenggam tangan Alana dan mengatupnya diantara kedua tangannya sendiri, ia memejamkan matanya dan bersiap meluncurkan rentetan kosakata yang harus mengakhiri hubungan mereka.


Mungkin Tuhan sekarang tengah menatap iba bagaimana dua hambanya harus mengakhiri kisahnya. Bukan kah Tuhan membenci perceraian?


"Alana..." Arun membuka suara yang membuat Alana tidak karuan. "Aku mencinta mu, aku sangat menyayangi mu, tapi aku lebih ingin melihatmu bahagia. Jika aku bukan pilihan untuk membuatmu bahagia, maka aku akan terima." Alana sudah tidak bisa membendung air matanya, begitu pun Lily yang ikut terisak. Perasaan bersalah kembali muncul di hatinya, dirinya menjadi pihak yang patut dipersalahkan.


"Bukan salahmu hadir dalam hubungan ini, seolah-olah kamu adalah pelaku yang nyatanya adalah korban dari semua kejadian ini. Aku salah sejak awal menerima ide gila untuk menikahi mu, tapi aku tidak akan pernah menyesali pernah mencintaimu."


Alana membuang muka. Matanya sendu mendengar kalimat Arun yang wajahnya memerah menahan perasaannya.


Arun mendekap tangan Alana di dadanya, membiarkan kehangatan dari tubuhnya menjalar ke tubuh Alana seiring badai dingin dari kalimat berikutnya akan diucapkan.


"Aku sadar, aku tidak bisa memberikan kamu kebahagian yang kau inginkan. Aku minta maaf Al...."


ย Kalimat terakhir Arun terpotong seiring jatuhnya tetesan air mata dari wajah Alana. Gadis itu tidak sanggup harus lebih lama berdiri dihadapan Arun, menyaksikan luka dan kesedihan yang pria itu rasakan kini.


"Alana Adhinata, aku talak kamu."


***Hiksz..๐Ÿ˜ญ akhirnya pisah juga papa mama Alrun..sedih aku tuh๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


btw, jangan bully aku dong, nanti aku down๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…โœŒ๏ธโœŒ๏ธ๐Ÿ˜‚ oh iya nunggu aku up lagi, kuy mampir di novel keren ini, makasih, ๐Ÿ™๐Ÿ˜˜



__ADS_2