Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Risalah hati


__ADS_3

"Kamu harus segera tanya adik kamu itu Ly, ga mungkin mama salah, dari bentuk tubuh dan pinggangnya mama yakin dia sedang hamil" ujar Ema ngotot. Sampai motor sport milik Gara hilang dari pandangan, mama Ema masih terus menatap lurus ke depan.


Kalau wajah Lily berubah pucat, Arun justru menyembunyikan tawa geli nya. Dia sudah tidak sabar melihat reaksi mama nya kalau tahu Alana benar hamil dan yang menjadi dalang nya adalah anaknya sendiri, Arun Dirgantara.


Sejujurnya, Arun ingin semua ini segera terungkap. Dia ingin semua orang tahu kalau Alana juga istrinya yang sah. Tentu saja dengan tujuan agar dirinya bebas mengejar cinta Alana. Tapi dia juga tidak bisa menutup mata akan keadaan Lily nantinya. Dia tidak sanggup melihat Lily bersedih, walau semua ini terjadi karena kesalahan Lily juga yang sudah merancang semuanya, memasukkan Alana dalam hidupnya, hingga Arun menyediakan tempat untuk Alana di sudut hatinya.


Cinta tidak bisa memilih pada siapa dia akan berlabuh. Sama halnya dengan Arun, dirinya sama sekali tidak menyangka kalau seorang Alana bisa menyentuh hatinya yang keras. Mengubah sikap tidak perduli nya menjadi memuja, rasa benci menjadi mendamba.


Yang bisa Arun lakukan saat ini hanya menunggu bom waktu itu meledak, sementara untuk saat ini, perasaannya yang besar pada Alana harus dia redam dulu.


"Mungkin karena Alana belakangan ini banyak makan ma, jadi makin gemuk dibandingkan saat terakhir kali mama ketemu dengan dia" jawab Lily meremas jemarinya. Lily akan selalu seperti itu, setiap ada hal yang merisaukan hatinya, dia akan gugup, meremas jemarinya karena panik.


"Mama ini sudah banyak pengalaman, bisa membedakan mana wanita yang sedang hamil dan mana yang bukan" Ema masih kekeuh atas penilaiannya. Lily bisa apa hanya menunduk dan diam.


"Mama yakin, dia pasti lagi hamil anak pacarnya itu. Dasar ya anak sekarang, s*x bebas sudah bukan hal tabu lagi. Udah sama kayak bintang, bebas tanpa aturan"


"Mama, jangan ngomong sembarangan, sampai menyamai sama binatang lagi" hardik Arun tidak terima.


"Jelas dong, masih sekolah udah bunting. Dasar emang si Alana murahan, sama aja kayak mamanya"


"Cukup ma!!" suara Arun menggelegar sembari berdiri dari duduknya. Dia sudah tidak bisa mentorelir lagi semua hinaan yang di berikan Ema pada Alana.


"Run, kamu bentak mama? kamu kenapa? kok sebegitu marahnya sih? yang mama omongin itu Alana bukan Lily, kok sampai marah begitu sih kamu?" suara Ema menciut. Dia kaget sekaligus sedih. Ini kali pertama anaknya bicara kasar padanya.


"Siapa pun itu, mama ga berhak mengatai orang seperti itu ma. Apalagi Alana itu juga bagian keluarga ini" putus Arun kesal.

__ADS_1


"Udah hun, mama cuma ngasih pendapatnya" Lily memutari meja, untuk berdiri disamping Arun, mencoba menenangkan suaminya.


"Kau juga, sama aja. Harusnya kamu bisa membela kehormatan Alana. Kau sendiri tuduhan mama itu tidak fair untuk Alana" Arun menepis tangan Lily dan meninggalkan kedua wanita yang ada dalam hidupnya itu.


***


Mama Reni menyambut gembira kedatangan Alana dan Gara. Suasana rumah saudara Gara sudah ramai, beberapa keluarga sudah datang. Saat kemarin menjelaskan perihal undangan ini, Alana sudah diberitahukan bahwa keluarga Gara biasa mengadakan arisan keluarga. Dan kali ini di rumah tante Maya, kakak tertua mama Reni.


Sepanjang jalan hingga tiba di rumah, Gara hanya diam. Sesekali menjawab pertanyaan Alana, lalu selebihnya menutup rapat mulutnya.


Pikiran Gara berkecamuk. Banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Terlebih setelah mendengar perkataan Ema.


Jika diurut lagi kebelakang, bukan hanya Ema yang menduga Alana sedang hamil. Beberapa wanita yang mereka jumpai saat jalan atau pun nongkrong di suatu tempat, pasti menebak Alana tengah hamil.


Dia ingat, beberapa bulan lalu, Alana juga sempat mual dan muntah-muntah di sekolah, tapi Alana menegaskan dirinya hanya masuk angin. Berlalunya waktu, Alana sudah tidak pernah mual lagi, diganti nafsu makan yang meningkat. Bentuk tubuh dan juga dada Alana seiring waktu juga berubah.


Segera Gara menutup artikel itu, menghempas segara kecurigaan yang dia rasakan. Sekuat hatinya dia meyakini bahwa Alana nya sedang tidak hamil. Lagi pula dia kenal Alana, dia gadis baik-baik, pendiam. Hanya ada dirinya, Wisnu dan Fajar, pria yang Alana kenal. Dirinya lah yang menjadi cinta pertama sekaligus pacar pertama Alana. Jadi jika dia saja tidak menyentuh Alana, lalu bagaimana mungkin gadis itu bisa hamil?


Sekali lagi, Gara menyingkirkan pemikiran yang dianggapnya bodoh itu. Dia percaya seratus ribu persen pada Alana.


Sibuk membantu jamuan, Alana tidak terlalu punya waktu buat bicara dengan Gara, yang sesekali diliriknya kearah tempat pria itu tadi ditinggalkan nya, tapi Gara sudah tidak ada di sana.


Mama Reni sangat baik pada Alana. Pada semua anggota keluarga mama Reni memperkenalkan Alana adalah calon menantunya dan akan dilamar selepas lulus sekolah tiga bulan lagi.


"Kamu kok diam aja sih Ga?" tanya Alana saat mereka sudah membelah jalanan untuk pulang.

__ADS_1


"Hah? ga papa sayang. Aku cuma lagi ga enak badan aja"


"Kamu sakit? kita ke dokter ya" sambar Alana panik. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Gara.


"Ga papa Beb. Aku baik aja kok"


Sekian lama mengenal Gara tentu saja Alana tahu sifat dan pribadi Gara. Saat ini pria itu pasti sedang punya beban pikiran. Tapi apa? Alana coba menggulung benang merah sejak perubahan di wajah Gara. Bermula kala Ema mengatakan dirinya seperti wanita hamil. Sontak wajah Alana memucat.


Pikiran berkecamuk menebak apakah Gara termakan omongan tante Ema dan percaya kalau dirinya hamil?


Motor berhenti tepat di depan rumah, kali ini Gara tidak langsung masuk ke halaman. Ragu-ragu Alana turun. Kakinya begitu gemetar menginjakkan kaki. Jika benar omongan tante Ema lah yang menjadi perubahan sikap Gara, maka Alana bersiap untuk mati detik itu juga kalau sampai pria itu meninggalkannya.


"Kamu ga turun Ga?" tanyanya pelan. Tidak bisa dipungkiri, rasa takut masih bergelayut manja. Dia bisa kehilangan apapun saat ini, tapi tidak dengan Gara. Pria itu udara untuknya bernafas.


"Lain kali ya Al. Kamu masuk gih, udah malam. Jaga kesehatanmu" ucapnya membelai pipi Alana lembut, dan mencium kening Alana.


Semua yang dilakukan Gara masih sama. Masih memperlakukan Alana penuh kelembutan. Tapi sorot mata Gara saat menatap Alana lekat tidak bisa bohong, ada hal yang mengganggu pikiran pria itu.


"Ga..ada yang mau kamu omongin sama aku? aku bisa lihat dari mata kamu, kalau kamu lagi terganggu akan sesuatu" tanya Alana menarik tangan Gara, meremat jemari itu. Dia tidak ingin kehilangan kompas nya, dia ingin pergi tidur dengan perasaan tenang, kalau besok dan hari-hari yang akan datang masih ada Gara dalam hidupnya.


"Ga ada Al. Kamu jangan khawatir. Aku hanya kelelahan sedikit. Kamu masuk ya"


"Ga..jangan gini, aku ga tenang. Aku mohon, kalau ada yang mengganggu ingin kamu tanya, katakan aja, Ga. Please.."


"Al, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku?"

__ADS_1


__ADS_2