
"Udah dapat belum, Ma?" Ayra mengingat sesuatu yang lupa ditanyakan sejak kemarin pada ibunya.
"Apa?" Kening Alana berkerut. Sementara Arlan hanya mendengus. Selalu saja ada drama di pagi hari. Kenapa sih, dia harus ikut sarapan pagi di meja ibu, padahal hari ini libur. Tapi begitulah peraturan di rumah mereka. Mau hari libur atau hari biasa, setiap pagi hari kumpul di meja makan.
Sejak tadi, telinganya sudah pekak mendengar celoteh dan rengekan Ayra yang minta ini minta itu. Permintaan gila gadis itu yang paling ekstrim, dia ingin les panjat tebing setelah gagal minta izin ikut les anggar.
"Kamu anak gadis, Papa ingin kamu itu lebih kemayu. Pilihlah kegiatan ekskul yang normalnya anak perempuan lakukan. Misalnya ikut les balet, les piano, atau bahkan les menjahit," celetuk Arun yang menolak mentah-mentah proposal putrinya. Alhasil, sepanjang setelah jam tadi, drama dimulai.
Rengekan itu berhenti kala Arun mengatakan 'Nanti Papa pikirkan' yang artinya dia tidak akan memikirkan sama sekali. Bahkan bisa ditebak pasti tetap tidak akan disetujui.
Kini setelah ruang makan itu kondusif, muncul lagi pertanyaan di benak Ayra.
"Mama kok lupa, sih, itu guru privat untuk aku."
Kali ini Alana manggut-manggut. Kalau di babak sebelumnya Alana dan Arun satu tim menolak ide gila Ayra, kali ini pun mereka pasti mendukung.
"Iya, Tante Melody belum kasih kabar. Katanya mau kirim nomor guru privatnya, tadi sampai sekarang belum ada masuk. Bentar deh, Mama tanyain, soalnya mau ketemuan juga. Oh, iya, Abang, anterin Mama arisan, ya?"
Sudah Arlan tebak, dirinya akan kena imbasnya. "Papa aja deh, Ma. Aku mau tidur seharian di rumah."
Wajah Alana berubah sedih. Sifat Ayra tidak beda jauh dengan Alana. Manja, dan kalau keinginannya tidak dipenuhi, pasti memasang wajah terzolimi.
"Biar Papa yang antar, ya Ma," sambar Arun tidak sanggup melihat wajah Alana yang berubah mendung. Arun pun menyempatkan melirik tajam pada putranya yang sudah sekali menuruti permintaan ibunya.
***
Alana hendak berjalan ke halaman restoran, tempat arisan dengan teman-temannya. Janji bertemu pukul 3 sore, dan dia lebih cepat 15 menit. Saat menyusuri halaman, Alana yang sibuk mengotak-atik ponselnya guna mengabari teman-temannya kalau dia sudah sampai, tidak menyadari kalau dirinya diikuti seorang pria yang semakin lama sudah mendekat padanya. Sekejap, menarik tas Alana dan segara kabur sebelum diteriaki wanita itu.
"Jambret!" teriak Alana ikut mengejar tapi pria itu sudah keluar dari parkiran restoran, berlari menjauh dari sana. Teriakan Alana didengar oleh orang yang kebetulan berada di sekitar jalan, dan ikut mengejar.
__ADS_1
Aksi itu tidak luput dari fokus seorang gadis yang sigap melempar tumit jambret itu hingga tersungkur di tanah. Saat itulah dia bergegas mengambil tas Alana dan berlari menjauh. Sebenarnya dia juga takut kalau sampai jambret itu bangun dan mengejarnya. Beruntung, beberapa pria yang lewat membekuk jambret itu hingga tidak bisa mengejarnya.
"Ini, Bu." Gadis itu menyerahkan tas tangan Alana.
"Kamu berani sekali. Terima kasih, Nak," Alana menerima tas tangannya lalu memeluk dewi penyelamatnya itu.
"Terima kasih, banyak."
"Iya, Bu. Sama-sama," balasnya sedikit kaku. Menerima pelukan sebagai ucapan terima kasih padanya sedikit membuatnya canggung. Dia hanya spontan melempar jambret itu karena tulus ingin membantu.
"Tante gak ingin menyakiti hatimu dengan memberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih. Tante juga tebak, kamu gak mau menerimanya," ucap Alana sebelah melerai pelukan mereka.
"Tante benar. Gak usah kasih apa-apa. Aku tulus membantu. Sekarang udah aman, aku permisi dulu, Tante," tukasnya tersenyum.
"Tunggu, Tante berharap kita bisa bertemu lagi. Tante ingin mengundangmu ke rumah, mau kan?" Alana benar-benar tidak tahu cara apa yang harus dia lakukan untuk menunjukkan rasa terimakasih nya pada gadis itu.
"Gak usah Tante, jangan repot-repot. Aku pamit ya, Tante. Sebaiknya Tante masuk, mau ke restoran itu, kan?" tunjuk nya.
"Gak usah, Tante. Makasih. Aku mau kerja, udah terlambat soalnya. Permisi."
Alana hanya bisa memandangi punggung gadis itu. Setelah menjauh dan bilang di balik bangunan yang ada di ujung jalan, Alana baru sadar dia belum menanyakan nama gadis itu.
"Al, kamu bilang di grup udah sampai, tapi waktu aku sampai, kamu gak ada?" tanya Dita menyambut kedatangan Alana dengan memberikan ciuman di pipi.
Alana pun duduk dan menceritakan semuanya. "Kenapa Arlan gak sekalian ngantar sampe dalem?"
"Dia ada pertemuan sama koleganya. Tadi bilang, sih, mau ngantar sampe dalam, tapi tau sendiri restoran ini ramainya gimana, bakal susah cari parkiran. Jadi, aku putuskan sampe depan parkiran aja," terang Alana. "Eh, kamu jangan cerita sama Bangkai ya, nanti dia cerita lagi sama Arlan. Aku gak mau mas Arlan jadi khawatir. Nanti, aku mau jalan kalian, gak bakal dikasih lagi."
"Iya. Yang penting kamu baik-baik aja."
__ADS_1
Teman-teman mereka yang lain mulai bermunculan. Arisan diadakan sekali sebulan pada saat Minggu pertama setiap bulannya. Tidak besar, hanya 50 juta sekali tarik.
Bagi Arun, apapun kegiatan Alana, asal membuat gadis itu bahagia, Arun pasti dukung. Dia tahu bagaimana sibuk dan juga membosankannya Alana di rumah. Jadi, untuk sekali sebulan jalan dengan teman-temannya, adalah hal yang wajar.
Tidak gampang jadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga. Meski ada asisten rumah tangga, tetap saja semua menu dan keperluan anak, Alana usahakan dilakukannya sendiri.
"Jadi, yang dapat arisan kali ini adalah Mbak Maya," ucap Nita menunjukkan secarik kertas bertulis nama Maya.
Yang lain mengangguk, lalu segera mentransfer uang arisan ke rekening Maya.
"Oh, iya, Mel, Guru privat yang katamu waktu itu kamu rekomendasi ke aku, masih ngajar gak?"
"Oh, masih, Al. Sorry, aku lupa kasih nomornya. Bentar aku kirim ke kamu," jawab Melody.
***
Alana sudah menghubungi calon guru privat untuk Ayra dan hari ini akan mulai mengajar. "Mana, Ma? Kok belum datang?"
"Mungkin macet, kamu sabar, ya Sayang."
Baru selesai mengatakan hal itu, Bi Inah mengantarkan seseorang masuk ke ruang keluarga.
"Bu, guru non Ayra sudah datang."
"Loh, kamu?" pekik Alana, bola matanya membulat melihat gadis yang masuk bersama Bi Inah.
"Selamat sore Tante," balas gadis itu yang mencoba tersenyum. Dia juga terkejut mengetahui Alana lah yang menghubungi dan meminta menjadi guru anaknya. Dunia ini begitu sempit ternyata. Baru dua hari lalu mereka bertemu, kini keduanya terjalin hubungan kerja sama.
"Kita memang jodoh, ya. Tante senang sekali bisa ketemu kamu lagi." Alana mendekat dan memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?"
"Sania, Tante."