
Tubuh Alana merosot jatuh saat mendengar ucapan Lily. Tubuh gemetar. Rasa bersalah kini menghantuinya. Karena keegoisannya mempertahankan harga diri dan juga janji pada Lily dan Santi, anaknya yang jadi korban.
Arlan kecilnya jadi korban dari keegoisan mereka semua, termasuk Alana. Ingin sekali malam ini juga dia pergi ke rumah sakit, tapi besok pagi dia harus cek toko dulu. Tatiana sedang ke luar negri bersama suaminya Arkana, jadi menitipkan toko pada Alana. Dia juga tidak mungkin mengatakan alasan anak sakit, karena setahu Tatiana dia masih gadis, dia tidak ingin merusak kepercayaan wanita baik itu.
"Iya kak. Aku akan kesana besok siang. Aku harus cek kerjaan aku dulu. Kakak jaga Arlan ya, tunggu aku pasti datang" ucap Alana sebelum menutup teleponnya.
Hingga dini hari Alana tidak bisa terpejam sedetikpun. Bayangan wajah Arlan yang menangis kesakitan, kedinginan membuatnya tak henti menangis.
Menjelang subuh, barulah Alana bisa terpejam. Tapi baru satu jam tertidur, Alana tersentak dari mimpi buruknya. Dalam mimpinya Arlan tidak henti-hentinya menangis, tangannya terus melambai pada Alana. Saat Alana mendekat dan ingin menggendong Arlan, anak itu tiba-tiba hilang dan berubah jadi kabut putih. Saat itu lah Alana tersentak dan kembali menangis.
***
"Bangun hun, pindah ke tempat tidur sana" ucap Lily menyentuh pundak Arun yang tertidur di sisi tempat tidur. Pria itu baru bisa tertidur dua jam, terus berjaga. Saat tengah malam Arlan bangun dan kembali menangis, Arun yang kalap terus berdiri memperhatikan tim medis memeriksa Arlan hingga bayi itu kembali tenang dan bisa tidur lagi. Baru lah setelah, entah sejak kapan dia pun lupa, saat meletakkan kepala di dekat tangan Arlan, Arun jatuh tertidur.
"Udah jam berapa sekarang?" Arun mengucek matanya, mencoba menyesap udara pagi yang terasa dingin.
"Masih pukul 6 hun. Kau pulang lah dulu, istirahat di rumah, biar lebih nyaman. Biar aku yang jaga anak kita"
Meninggalkan Arlan rasanya sangat sulit, tapi dia memang butuh untuk mengganti pakaian, jadi memilih untuk segera pulang sebentar hanya untuk mengganti pakaian. Dia juga harus mengabari kantor untuk izin tidak masuk hari ini. Kesembuhan anaknya lebih dari apa pun juga.
"Baik lah. Mumpung Arlan juga masih tidur, aku pulang sebentar ya. Kalau ada apa-apa kabari aku langsung" Lily hanya mengangguk.
***
__ADS_1
Efek terjaga semalaman, membuat Arun tidak fokus dalam menyetir, hampir saja di menabrak truk yang melaju dari arah depannya. Rasa ngantuk menyerangnya. Dua hari ini dia memang tidak tidur cukup. Arun jadi menyesal minum hingga mabuk yang berujung harus tidur di kantor. Sampai di kantor pun dia tidak dapat tidur, terus memikirkan Alana.
Dan sepanjang malam menjaga Arlan benar-benar membuat tubuhnya tidak bisa dikondisikan lagi untuk tetap bekerja, walau hanya sekedar terjaga.
Handuk yang sudah dipegangnya dilempar ke sisi kursi. Niat untuk mandi pun terkalahkan oleh rayuan rasa ngantuk. Arun menimbang akan tidur dua jam saja, lagi pula Arlan juga masih tidur. Nanti saat kembali ke rumah sakit, akan tepat saat putranya pun sudah bangun.
***
Selepas mengecek stok bahan di pantry, Alana menyerahkan tanggung jawab mengurus toko pada Nita, salah satu karyawan yang sudah lama juga bekerja di situ.
"Nit, aku izin keluar sebentar ya. Aku ada keperluan mendesak" ucapnya.
"Santai aja Al. Pergilah, lagian ini juga tanggung jawab gue kan jaga toko" ucap Nita yang memang sangat baik padanya. Kalau karyawan lain tidak suka pada Alana karena Tatiana menganggapnya anak emas karena pintar masak, Nita justru bersikap ramah dan mau berteman tulus dengan Alana.
Sebelum berangkat, Alana mengirim pesan pada Lily. Nomor yang lamanya memang sudah tidak aktif, saat Alana menerima telepon dari Lily tadi malam, dia pun binging kakaknya itu dapat nomornya dari mana. Tapi itu tidak penting, siapa pun yang memberikan nomornya pada Lily, itu sudah tepat. Karena dia akan lebih menyesal lagi kalau sampai tidak mendapat kabar tentang anaknya.
Ketukan di pintu membuat Lily segera bangkit. Dia sudah bisa menebak siapa yang datang. "Al..akhirnya kau datang" ucap Lily setelah membuka pintu, menghambur memeluk Alana.
"Maafkan aku Al. Gara-gara aku Arlan jadi masuk rumah sakit" ucap nya terisak. Rasa bersalahnya membuat Lily selalu menangis kalau sudah mengingat keadaan Arlan.
"Sudah kak, jangan nangis lagi. Yang penting Arlan sekarang udah baik-baik aja. Aku mau lihat Arlan dulu kak" ucap Alana menegakkan tubun Lily.
Kaki bergetar Alana melangkah mendekati tempat tidur. Bayi itu ada di sana tertidur lelap.
__ADS_1
Lingkar matanya tampak menghitam, mungkin itu akibat Arlan susah tidur selama beberapa hari ini, hingga diare menyerangnya.
Pada Alana Lily sudah mengakui semuanya. Tidak ada yang Lily sembunyikan, karena dia takut jika dia tidak jujur maka yang menjadi taruhannya adalah nyawa Arlan.
Orang boleh menganggap dia jahat, karena memisahkan Arlan dari ibunya, tapi hanya Tuhan dan Lily yang tahu betapa dia sangat menyayangi anak itu.
Seolah kebetulan, saat tangan Alana menyentuh pipi Arlan, beberapa menit kemudian anak itu terbangun, menangis sekencang-kencangnya hingga Lily kembali panik. Yah, Lily kini sudah trauma. Sebelum membawa Arlan ke rumah sakit, Lily berusaha menenangkan Arlan yang menangis dengan memberinya lebih banyak susu, hingga anak itu megap dan setelah dilepas dodot nya, Arlan menangis sekencang-kencangnya, hingga Lily semakin panik.
Jadi kalau sekarang Lily mendengar suara tangis Arlan, dia akan ketakutan. "Gimana ini Al, kenapa Arlan nangis kuat banget?"
Tidak menanggapi kepanikan Lily, Alana segera menggendong Arlan, menciumi pipi anaknya. "Sayang..ini mama nak. Jangan nangis. Maafin mama udah ninggalin Arlan. Diam ya sayang..mama disini, akan jaga Arlan.. sayang mama.." ucap Alana berulang-ulang.
Ajaibnya, seolah mengerti ucapan Alana, belaian tangan lembut Alana di punggung Arlan membuat bayi dua bulan itu diam. Hanya merengek kecil.
"Kak, tolong pegang Arlan bentar" pinta Alana.
Tapi si bodoh Lily justru menggeleng. "Aku takut Al, kalau aku yang gendong dia akan nangis lagi"
Tidak punya pilihan Alana meletakkan Arlan di tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi. Dari dalam sayup-sayup terdengar suara Arlan yang semakin kencang kembali menangis.
"Cepetan Al, kau ngapin sih dikamar mandi?" salak Lily semakin bingung. Tangisan Arlan membuat otaknya beku, tidak tahu berpikir benar.
Alan pun keluar, dengan kancing kemeja bagian atas sudah dia buka. Alana sudah membersihan kulit dadanya dengan air hangat. Dia tidak ingin Arlan kena bakteri lagi dari debu yang mungkin saja menempel di kulit Alana.
__ADS_1
Tergesa-gesa Alana menggendong bayinya yang masih menangis dengan kerasnya. "Sayang mama..Arlan haus ya nak?"
Setelah menemukan pusat kehidupannya, Arlan diam, mengemut tiap tetes yang dia butuhkan. Seolah kesempatan yang telah lama hilang, kini dapat dia rengkuh kembali. "Mama sayang Arlan.."bisik Alana menghapus bulir bening yang jatuh.