Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 42


__ADS_3

Embusan angin membelai lembut jiwa-jiwa tersesat, menuntun pulang pada riba kerinduan. Hati yang hancur, mungkin bisa tertata lagi. Biarkan luka dibawa terbang berganti rindu, dan maaf sebagai jalan membawa ke sana.


5 tahun setelahnya...


"Aku boleh membawa ini, Mama?" Sania menoleh pada suara malaikat kecil yang ada di belakangnya. Sebuah mainan robot di tangan kecilnya. Wajahnya selalu mampu memenangkan hatinya.


"Baiklah, tapi hanya itu. Kamu udah berjanji akan memberikan mainanmu untuk Fred."


"I know, tapi ini hadiah papa saat aku berhasil mencetak gol, last year."


Sania tersenyum, merentangkan tangan meminta pelukan dari Sadewa. Anak itu berlari masuk ke dalam pelukan ibunya.


Sadewa, buktinya cintanya pada Arlan. Anak itu mewarisi semua yang ada pada diri pria itu. Hal itu yang kadang buat Sania cemburu. Dia yang mengandung, tapi kenapa semua yang ada pada diri Arlan lah yang melekat pada Sadewa.


Hadirnya Sadewa dalam hidupnya, membuat Sania menjadi lebih bahagia. Benar kata Kasa, dia akan menyesal kalau sampai membuang anak itu dulu.


Beruntungnya, Sadewa lahir dengan fisik sempurna, kuat dan tidak ada cacat. Oleh Kasa, anak itu diberi nama Sadewa.


"Kenapa Sadewa?" tanya Sania saat malam kelahiran Dewa.


"Agar dia bertumbuh jadi anak pintar dan kuat, yang akan melindungi dan membela kehormatan ibunya."


Ah, Kasa. Betapa pria itu adalah jelmaan malaikat dalam hidup Sania. Pria yang tidak pernah mengeluh selama hampir enam tahun mereka hidup bersama.


Dia selalu memperlakukan Sania dengan baik, mengurusnya dan terutama menghormati wanita itu.


"Papaaaa," pekik Dewa melepas pelukannya dari Sania lalu berlari ke arah Kasa yang baru pulang.


"Dasar!" cibir Sania tersenyum. Melihat kebersamaan Kasa dan Dewa yang saling menyayangi adalah salah satu momen favoritnya. Dewa sangat menyayangi Kasa, bahkan kadang Sania merasa lebih dari sayang padanya.

__ADS_1


Kasa menepati semua janjinya sebelum mereka menikah. Dia menjaga Sania, menghormatinya, bahkan tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Dia juga selalu menyayangi Dewa seperti anaknya sendiri, tidak pernah sekalipun marah pada anak itu, yang jelas-jelas adalah anak dari pria yang sudah menghancurkan masa depannya.


Semua yang terbaik dan buat keduanya bahagia selalu Kasa upayakan, meski Sania tahu, kalau Kasa menyimpan luka yang teramat sangat.


Pada dua tahun pernikahannya, Sania baru tahu kalau selama ini Kasa sangat mencintai Ayra. Perpisahan keduanya membuat Kasa sangat menderita, hanya saja dia pintar menyembunyikan di hadapan Sania, hingga suatu malam, Kasa pulang dalam keadaan mabuk. Dia tidak pernah seperti itu. Kalau pun dia pamit pergi nongkrong dengan teman-teman kuliahnya, dia tidak pernah pulang dalam keadaan mabuk.


Sania membantu mengganti pakaian Kasa setelah temannya membaringkan Kasa di kamarnya.


"Ayra.... Ayraaaa... Kenapa kamu meragukan perasaan? Kenapa kamu gak bisa melihat cintaku yang tulus?" racunya. Dia menyimpan kesedihan yang mendalam. Sania hanya bisa termangu mendengar celotehan Kasa.


Pria itu membuka mata, melihat Sania yang ada di depannya, pria itu terduduk. "Ay, aku sangat mencintaimu. Sakit, Ay. Di sini." Kasa menarik tangan Sania dan meletakkan tangan gadis itu di dada Kasa. "Sesak, Ay. Aku sulit bernapas setiap rasa rindu itu datang." Kasa belum sadar dan masih menganggap Sania adalah Ayra.


Suara Kasa begitu sendu. Bisa Sania pahami sesakit apa perasaannya saat ini. Dia ingin menangis, tidak tega melihat Kasa.


"Iya, Kasa, aku tahu. Aku minta maaf." Sania menangis dengan suaranya tertahan. Dia menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah itu semakin besar. Atas kebodohannya, banyak hati yang sudah dia sakiti.


Sania merasa terpukul, selama ini dialah yang sudah merusak hubungan Ayra dan Kasa. Sania tidak pernah mengetahui kalau selama ini keduanya punya hubungan. Kalaulah dia tahu.


Paginya, Sania segera memperjelas hal itu pada Kasa. Tidak ada reaksi apapun dari Kasa selain menyunggingkan senyum pada Sania.


"Aku serius. Kenapa kamu gak pernah ceritamu? Tidak ada kata terlambat untuk cinta, Kasa. Sebaiknya kamu cari Ayra, dan katakan semuanya."


"Sudahlah, San. Tidak semudah itu. Dia juga pasti sudah bersama pria lain. Aku minta jangan pernah membahas soal Ayra."


Sania terdiam, mengamati pria yang ada di depannya dengan segala pikiran yang bercabang dan tentu saja rasa berdosa yang menggunung.


"Lihat itu, ada yang cemburu," ucap Kasa tertawa, menunjuk ke arah wajah Sania.


"Iya, Pa. Mama gak ada temannya." Dewa ikut tergelak. Keduanya begitu kompak mengolok-olok dirinya.

__ADS_1


"Sudah, ah. Nanti Mama nangis. Sana peluk Mamamu lagi." Dewa menurut. Dia berlari dan melingkarkan tangannya di leher Sania.


"Semuanya sudah siap?"


"Udah. Apa mau diangkut sekarang?"


"Iya, San. Besok siang kita sudah berangkat. Kamu bahagia?"


Sania tersenyum diikuti angguknya. Akhirnya mereka pulang setelah lima tahun hidup di negri orang. Atas kecerdasannya, Sania bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya selama enam tahun ini. Semua itu atas kebaikan mertuanya yang memaksa Sania untuk melanjutkan kuliahnya meski dalam keadaan hamil.


Sania mengulurkan tangannya pada Kasa. Pria itu tahu harus apa, menyambut uluran tangan itu dan duduk di depan Kasa. Dewa sudah melepas Sania dan mengikuti Fred yang datang memanggilnya untuk bermain.


"Terima kasih sudah menjadi malaikat bagi kami," ucapnya terbata, air matanya sudah mau turun saja. Dia hampir tidak bisa menahan, menguatkan genggaman tangannya pada Kasa.


Pria itu menarik tangan Sania, mengarahkan ke bibirnya, mencium punggung tangan wanita itu.


"Terima kasih juga sudah berjuang sejauh ini. Menjadi ibu yang hebat untuk Dewa. Selebihnya, tidak ada yang perlu dirisaukan. Tidak ada balas budi seperti yang selalu kamu katakan. Aku tidak mengharapkannya, San. Jika ingin membalas kebaikanku seperti katamu, maka berjanjilah kalau kamu akan hidup bahagia."


Tangis Sania pecah.Kasa menariknya dalam pelukan dan menenangkan Sania. Tidak mudah menjalani hidup sebagai Sania. Kasa tahu kalau gadis itu tersenyum, dan selalu berusaha terlihat bahagia di depannya hanya demi membuat Kasa tenang. Pria itu tahu, di tiap malamnya, Sania selalu memimpikan Arlan. Keduanya milih jalan yang pada akhirnya membuat keduanya merasakan sakit yang luar biasa.


***


"Papa, apa Oma dan Opa akan menjemput kita? Aku sudah rindu pada mereka." Sejak di pesawat, Dewa tidak hentinya berceloteh, tidak sabar bertemu Dita dan Kaisar.


"Pasti. Nanti begitu pesawat ini landing, mereka pasti sudah ada di sana, menunggu kita," jawab Kasa mengacak rambut lurus Dewa.


"Bisakah kalian mengajakku dalam pembicaraan ini? Aku seperti orang asing diantara dua orang yang aku sayangi," timpal Sania mengerucutkan bibir.


"Mama, ini pembicaraan antara dua pria. Don't be sad, we always love you," balas Dewa dan keduanya tertawa hingga buat Sania hanya bisa mengatupkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2