
Alana sudah mengirimkan pesan pada Lily, di menunggu di lobby hotel. Kepala pusing dan tidak enak badan menjadi alasan Alana untuk tidak kembali ke ruang pesta.
Mengetahui keadaan Alana, Lily langsung mengajak Arun untuk pamit pulang pada mertuanya. Santi dan Bima bahkan sudah sejam lalu pulang, alasan yang sama dengan Alana, ibu mereka juga tiba-tiba tidak enak badan.
"Ma, kami pulang ya. Udah malam, lagi pula aku sedikit lelah" ucap Lily berimprovisasi.
"Oh iya sayang. Ga papa. Kamu jangan terlalu lelah. Jaga kesehatanmu dan juga cucu mama ya" sahut Ema mencium pipi Lily.
Tidak sabar melihat keadaan Alana, Lily berjalan lebih dulu dari Arun. Dari semua orang yang mengkhawatirkan Alana, dirinya lah yang paling takut terjadi hal buruk pada Alana. Ada calon anaknya nanti dalam perut Alana.
"Pelan-pelan hun, kau bisa jatuh" ujar Arun mengejar langkah Lily.
"Buruan hun, Alana ga enak badan, aku ga mau dia kenapa-napa"
Gadis itu duduk dalam kesendiriannya. Seakan alam ikut menangis untuk nya, hujan turun dengan deras. Alana suka hujan, bisa menyamarkan air matanya, menghibur hatinya dengan denting suara hujan yang jatuh ke bumi.
"Al, kenapa ga masuk ke dalam?" Lily menyentuh pundak Alana yang bengong menatap air hujan yang saling berkejaran.
"Ga papa kak. Aku mau lihat hujan" sahutnya asal. Tanpa melirik pun, Alana tahu sepasang mata elang itu tengah menatapnya. Arun memang mengamati Alana, ingin sekali rasanya memeluk gadis malang itu.
"Kenapa penampilanmu acak-acakan begini?" Lily tersadar melihat wajah dan rambut Alana yang sudah seperti orang baru saja berkelahi.
"Oh, ga papa kak. Aku tadi coba melepas tataan rambutku, kepala ku sakit harus diikat-ikat begitu.
"Kau kedinginan. Mana baju mu basah lagi" ucap Lily membantu Alana berdiri. Arun bergerak maju, menyampirkan jasnya yang sudah dia buka tadi ke punggung Alana. Sigap Alana menolak, tapi suara tajam Arun menghentikannya "Jangan dilepas"
Dengusan kesal keluar dari mulut Alana, terpaksa memakai jas itu. Perjalanan pulang semakin lama, hujan membuat jalanan semakin macet. Alana memilih tidur di bangku belakang. Kali ini dia tidak bohong, kepalanya sakit dan juga badannya tiba-tiba meriang.
Mungkin kalau saja bunuh diri tidak berdosa, dia memilih untuk mati saja. Hati dan tubuh nya tidak sekuat itu untuk bertahan lebih lama menjalani liku hidupnya yang menyedihkan.
__ADS_1
"Al, bangun..udah sampai" ucap Lily membangunkan Alana. Tapi berulang menggoyangkan lengan gadis itu, Alana tetap tidak bangun.
"Tubuhnya demam, hun" pekik Lily
"Biar aku gendong" sambar Arun, melepas seatbelt nya dan segera membopong Alana. Lily bisa lihat kepanikan di wajah Arun. Hatinya tiba-tiba berdetak cepat, membisikkan kecemburuan, namun segera ditepisnya. Arun hanya mencintainya, dia yakin akan hal itu.
Kepedulian Arun pada Alana hanya karena saat ini ada bayi dalam kandungannya. Lily yakin akan hal itu. Tidak perlu merisaukan apa pun.
"Hun.." Lily berdiri diambang pintu kamar Alana. Menatap ke arah punggung Arun yang membelakanginya. Pria itu tengah duduk di tepi tempat tidur, dengan menggenggam tangan Alana yang masih tertidur.
Kembali rasa sakit itu menyambar hatinya. Percikan rasa takut juga kembali dirasakannya. Lily tidak ingin menduga-duga dan memberi kesempatan buat rasa cemas menggerogoti jiwanya, Lily masuk dan berdiri di samping Arun.
"Kau keluar dulu hun, biar aku ganti baju Alana"
Walau enggan, Arun melepas tangan Alana dan mengikuti kata Lily untuk keluar.
Memilih untuk berpura-pura tidur saat suami istri itu sedang bicara hingga Arun keluar dan menutup pintu kamar.
Bergegas Lily membuka baju Alana. Tubuh gadis itu sudah tidak menggigil lagi. Lily hanya membuka gaun Alana dan membantu memakai kaos oblong putih panjang. Tidak lupa Lily memasukkan tangan Alana dalam selimut dan menyelimuti hingga leher gadis itu. Dia ingin keluar, namun hatinya ingin menyampaikan sesuatu pada Alana, hingga kembali Lily duduk di tempatnya semula.
"Al..entah kau mendengar atau tidak. Aku mau ngomong sesuatu padamu.." Lily memberi jeda pada kalimat nya.
"Dari semua hal buruk yang sudah aku lakukan padamu, percayalah Al, aku sangat menyayangimu. Mungkin keegoisan ku memintamu untuk mengandung anak ku, tapi percayalah, karena hanya kau yang aku percaya bisa menolong ku" titik air mata mulai jatuh di pipi Lily. Tangan Alana dia genggam erat, menyesali perbuatannya pada Alana.
"Kau mungkin membenciku. Aku tahu, aku jahat. Dan yang paling membuatku jijik pada diri ku sendiri, aku mulai takut akan kehadiranmu di sini. Yah Al..aku takut kalau Arun membuka hati padamu. Aku takut suaminya berpaling dari ku, Al.." Isak Lily kian terdengar halus. Alana juga merasa ga enak hati mendengar perkataan Lily.
Mungkin itu insting seorang istri. Bagaimana kalau sampai Lily tahu apa yang sudah mereka lakukan di belakangnya? tentang semua ciuman itu? Alana juga bersalah karena sempat satu kali menerima ciuman dari Arun.
"Al, aku bisa gila kalau sampai Arun menyukai gadis lain. Kau adikku, aku yakin kau tidak akan mengkhianati ku kan Al?"
__ADS_1
Lily menghapus air matanya. Sebelum menyelimuti Alana. "Selamat tidur Al," satu kecupan dihadiahinya di kening Alana.
Pintu di tutup, dan Alana membuka mata. Bulir bening merebak di pelupuk mata nya. Alana mengutuk pengkhianatan nya pada Lily. Dia bertekad mulai detik ini, tidak akan membiarkan Arun menyentuhnya.
***
"Mana Alana? kenapa tidak sarapan?" tanya Arun yang sudah lebih dulu berada di meja makan. Lily yang baru turun mendapat pertanyaan bahkan sebelum wanita itu duduk.
"Dia sarapan di kamar hun. Ga kuat berdiri. Pusing banget katanya"
"Kalau begitu kita bawa ke dokter" sambar Arun yang membuat Lily tersentak. Kepanikan bisa dilihatnya dari wajah suaminya. Ah.. kembali cemburu itu melanda.
"Dia ga mau. Tadi udah nelpon dokter kandungannya. Disuruh istirahat aja, biar pusingnya hilang"
"Benar, hanya begitu saja? ga papa dengan Alana.." bola mata Lily membulat, tidak suka Arun terlalu memperhatikan Alana.
"Dengan bayinya juga. Kau harus ingat, bayi itu sangat berharga untuk kita bukan?" timpal Arun kala menyadari tatapan tidak suka Lily.
"Oh..iya hun. Udah di tanya. Kalau sampai sore ga hilang pusingnya, baru Alana periksa. Kau jangan lupa kabari ke sekolah Alana, izin sama wali kelasnya"
Arun diam, hanya anggukan setuju. Selera makannya hilang, memilih pamit untuk berangkat ke kantor.
Urusan perizinan sakit Alana sudah selesai. Buru-buru Arun tancap gas menuju kantor. Di lapangan yang dilewatinya, Arun berpapasan dengan Gara yang baru ikut latihan di lapangan.
Tatapan tidak bersahabat muncul pada keduanya seperti musuh bebuyutan.
Pertemuan itu membuat mood Arun buruk. Belum lagi saat tiba di kantor, kedua mertuanya datang menemuinya.
"Run, kau sudah datang" sapa Bima berdiri dari duduknya.
__ADS_1