Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Pagi itu, setelah penantian yang begitu lama, Perguson akhirnya menunjukkan wajahnya di kediaman Setyawan. "Gue kira lo udah mampus, ga nongol-nongol di sini!" umpat Kai menendang kaki Perguson di bawah meja. Hanya ada mereka berdua.


Alasan utama Perguson tidak baru datang pada hari kelima, karena selain hasil tes yang belum keluar, serta harus menemani Amanda ke sana kemari mencari Kaisar, begitu pun dengan nenek Rosi yang menerornya akan keberadaan Kai.


"Hasilnya belum keluar, bos. Paling cepat dua Minggu hingga satu bulan," terang Perguson mengusap jempolnya yang baru saja dilepas Kai dari injakan kakinya.


"Kenapa bisa selama itu? lo kasih duit banyak, biar cepat dikerjain tuh!" hardik Kai jadi semakin kesal karena artinya dia harus tinggal lebih lama di rumah itu. Padahal dia sudah membayangkan akan meninggalkan rumah itu, tempat dirinya tersiksa dengan godaan Dita dan juga penyamarannya.


"Ga bisa bos. Terpaksa bos harus tinggal lebih lama lagi disini," ucap Perguson pelan, takut di tendang Kai lagi. Sebenarnya dia juga menderita kalau bos nya tidak pulang juga, nenek Rosi pasti akan menggangunya terus.


"Lo enak ngomong, gue gimana menjalani kehidupan di sini? tersiksa gue? mana kerjaan di kantor menumpuk pasti selama gue tinggal," cibirnya kesal.


"Ya mau gimana lagi, bos"


***


Tidak ada yang bisa Kai lalukan selain pasrah. Seminggu tinggal bersama Dita dan Kasa, membuat Kai seolah memiliki keluarga sendiri, keluarga kecil yang selama ini jauh dari impiannya.


Kai baru saja selesai mandi sore, dan kembali menjadi Sari. Begitu mengambil Kasa dari boxnya, Kai membawa putranya ke bawah. Sejak pagi, Dita pergi dengan Mita. Pamitnya pada Kai, ingin membeli perlengkapannya yang sudah habis, tapi siangnya hanya Mita yang pulang, dengan membawa banyak belanjaan.


Rasa ingin tahunya begitu besar, tapi Kai menahan lidahnya. Dia hanya berharap Dita segera pulang, karena tidak baik meninggalkan anaknya terlalu lama.


Langkah Kai terhenti, telinganya sayup-sayup mendengar suara orang mengobrol di ruang gazebo samping, yang ada di taman bunga Mita. Rencananya, Kai akan membawa anaknya duduk di sana, menikmati udah sore yang lembut.


"Makasih udah mau aku ajak jalan," ucap pria yang sama sekali tidak Kai kenal. Ini juga baru pertama dia lihat ada disini.

__ADS_1


"Sama-sama. Makasih juga untuk oleh-oleh nya" jawab Dita tersenyum. Kai bisa melihat senyum yang diberikan Dita begitu lepas, membuat wajah cantiknya semakin mempesona, dan jujur, Kai tidak suka.


Siapa pria itu, kenapa mereka tampak begitu dekat, seperti sudah lama kenal?


Memuaskan rasa penasarannya, Kai keluar dari tempat persembunyiannya, sekaligus dia ingin pria itu tahu, kalau Dita bukan sekedar ABG lagi, dia sudah punya anak!


Kai ingin lihat, apakah pria itu masih menebarkan jurus cintanya pada Dita, walau sudah tahu kalau gadis itu telah memiliki anak?


"Nah, itu mama" suara Kai dibuat sekeras mungkin, menekankan kata mama pada Kasa, yang bertujuan untuk disadari pria asing itu.


"Sini...sayang mama. Maaf ya, mama tinggal lama. Kasa ga rewel kan, Kasar?" tanya Dita menimang Kasa tampak tersenyum senang.


"Ga!" sahutnya singkat, mencerminkan rasa kesal dan tidak sukanya. Matanya terus saja melirik pria itu, tidak suka duduk berdempetan dengan Dita.


"Ini namanya, Kasa? halo tampan, salam kenal dengan om Marco"


"Oh iya, Kasar. Ini kenalkan Marco, teman masa kecil aku yang baru pulang dari Paris. Dia pintar banget, kuliah cuma empat tahun, baru wisuda, cumlaude lagi"


"Oh.." sahut Kai malas, menunjukkan rasa tidak perduli nya.


"Hai, Kasar. Terimakasih sudah menjaga dan merawat Kasa," ucap nya mengulurkan tangan. Namun Kai tidak menerimanya, justru mengambil Kasa kembali.


"Kasa masuk dulu, mau ganti pampers," ucapnya kembali masuk ke dalam. Kini dia tahu, pria itu lah yang tempo hari dikatakan Perguson.


"Jadi itu, calon bapak lo, Kasa? jangan mau, dia lemah" cicitnya pada Kasa. Bayi itu hanya tertawa melihat mimik wajah jutek Kai yang sedang ingin makan orang.

__ADS_1


Dua jam Kai mondar-mandir di kamar Kasa. Menunggu Dita naik, tapi hingga anaknya tertidur, Dita masih ada di bawah bersama pria itu. Bahkan dari kamarnya, Kai bisa mendengar suara tawa cekikikan dari keduanya yang membuat hatinya kembali memanas.


Itu si omicron kok belum pulang juga sih?" umpatnya kesal. Menendang, box bayi Kasa tanpa sengaja hingga anak itu terbangun, dan menangis.


"Oh, sayang... sayang, nak...cup..cup.." Kai mengangkat Kasa dan menimang-nimang di tangannya. Satu ide muncul hingga menyunggingkan senyum di bibirnya.


Bergegas Kasa meletakkan Kasa kembali dalam box, walau bayi itu masih menangis. "Sebentar ya, sayang"


Kai berlari ke bawah, menuruni anak tangga hingga sekali tiga, agar cepat sampai di bawah. Huufffh... terdengar nafasnya tersengal ketika tiba di depan kedua pasang anak manusia itu. Kai menunduk kelelahan. Mencoba menarik nafas. "Ada apa, Kasar?" Dita berdiri, memegangi lengan Kai yang sedang memegang perutnya. Kai masih tersengal-sengal mengambil nafas. Umur memang tidak bohong, sudah membuatnya kelelahan hanya dengan berlari sedekat itu.


"Kasa, nangis. Buruan" tanpa melirik wajah bingung Marco, Kai sudah menarik tangan Dita, berlari masuk ke rumah, dan saat menaiki tangga, spontan Kai menggendong Dita ala bridal, menaiki tangga. Kai takut kalau Kasa akan lebih histeris tangisnya kalau dibiarkan lama sendirian.


"Kasar..." pekik Dita kaget. Namun Kai tidak perduli. Baru setelah di dalam kamar, Kain menurunkan Dita. "Ih..i... itu, Ka..sa..nang..is. Dia ma..u nen katanya"


Dasar Kai, sejak kapan Kasa bisa ngomong apa yang dia mau? tapi Dita tidak sempat membantah karena melihat Kasa memang sedang menangis di boxnya. Buru-buru Dita masuk kamar mandi cuci tangan dan menggendong Kasa.


"Sayang mama...sayang...Kasa haus ya," Dita sudah mengambil posisi di tepi ranjang, menarik kaos oblong nya hingga batas dada, dan mulai memberikan Kasa nen.


"Maaf ya sayang, mamanya keasikan ngobrol," ucap Dita membelai lembut rambut Kasa yang hitam lebat.


"Makanya, anak itu prioritas utama. Jangan karena asik ngobrol anak di lupakan," hardik Kai melipat tangan.


"Pria gitu aja, pakek dilayani sampai anak sendiri di lupakan. Kalau pun kamu nyaman sama dia, ingat kamu itu udah jadi seorang ibu, harus mengurus anak yang pertama jadi tanggung jawab mu!"


Dita tertegun, menatap kearah Kaisar. Wajah pria itu sewot dan penuh amarah. "Kenapa sih wajahnya Kasar seram amat. Kok jadi galakan dia ketimbang gue? suka-suka gue dong ngobrol sama siapa?" gumam Dita dalam hati.

__ADS_1


"Udah, aku mau balik ke kamar. Kamu ga usah balik ke luar lagi, suruh aja si omicron itu pulang!" Kai sudah melangkah pergi, meninggalkan Dita yang bengong tak habis pikir.


__ADS_2