
Toko roti Alana sudah hampir rampung, mungkin awal bulan depan nanti dia sudah bisa mulai menjalankan usahanya. Setiap harinya, Alana akan meninjau perkembangan tokonya.
Untuk masalah karyawan, Alana sudah merekrut dua orang gadis yang melamar. Lowongan itu Alana buat bukan di media cetak koran, tapi di sosial media yang bertajuk loker, yang dikhususkan bagi siapa saja yang ingin mencari karyawan.
Juli dan Mindo. Awalnya Alana ingin menerima tiga orang, bermaksud menerima satu orang karyawan pria, tapi saat dia menceritakan maksudnya pada Lily dan di dengar Arun, pria yang saat itu sedang berkutat dengan laptopnya, melarang tegas. "Jangan. Aku ga suka kau terima karyawan pria"
"Loh kenapa hun? kan bagus ada yang bisa diandalkan kalau terjadi hal yang tidak diinginkan" sambar Lily. Awalnya dia tidak mengerti, namun semakin getol Arun melarang paham lah dirinya.
"Udah Al, ikutin aja kata-kata Arun, dia kan pebisnis, pasti lebih ngerti" lanjut Lily.
Hari ini, Alana kembali berada di tokonya. Wajahnya penuh senyum dan harapan saat dia melihat nama tokonya dipajang di atas pintu masuk. Lovebread .
"Udah pas letaknya mbak?" tanya salah satu pekerja yang membenahi ruko.
"Udah pas mas. Makasih" sahutnya sumringah.
***
Alana baru saja memasuki ruang tamu saat melihat Santi dan Bima duduk di sana. Wajah tidak bersahabat Santi mampu membuat Alana menjadi tegang. "Ibu.."
Plaaaak!
__ADS_1
Satu tamparan keras menjadi jawaban atas sapaan Alana tadi. Begitu kerasnya menampar hingga wajah Alana terhempas ke samping. Pipi putih Alana memerah kini bekas tampar tangan Santi. "Dasar anak terkutuk. Menyesal aku tidak membunuhmu saat dulu dibawa ke rumahku" salaknya dengan suara menggelegar. Tidak puas dengan tamparannya tadi, kini Santi menjambak Alana dan menjatuhkannya dilantai. "Biadab kau ya, guna-guna apa kau buat sama Arlan sampai dia kasih perusahaan milik kami untukmu?" geramnya semakin emosi.
"Ampun Bu, ampun.."
Suara jeritan Santi dan tangis Alana membuat bi Minah yang sejak tadi mengurus Arlan, keluar untuk melihat.
Saat kedatang kedua orang tua Santi itu, bi Minah sebenarnya enggan mempersiapkan mereka masuk, tapi karena Bima dan Santi memaksa dengan menerobos masuk, bi Minah tidak punya pilihan lain.
"Kau masuk sana, pembantu sialan" hardik Santi hingga bi Minah memilih untuk masuk.
"Ga pake ampun-ampun. Apa kau pikir kau udah hebat karena ngasih anak untuk Arun, hah? dasar pel*cur keturunan pelakor! bagaimanapun aku mendidik mu, darah pelakor dalam tubuhmu tidak akan mengubah sifat binal mu, dasar *******!" ucapnya kembali menampar wajah Alana kiri dan kanan.
Alana sempat melirik kearah Bima, meminta pertolongan atas penyiksaan yang dia dapat, tapi Bima seolah tidak perduli, justru membuang muka. Mungkin ikut kesal karena dia perusahaannya kini atas nama Alana. Gadis yang dianggap debu dan tidak berharga, nyatanya menjadi orang yang lebih berkuasa darinya.
Rasa sakit menyerang kepala Alana, rasanya kulit kepalanya kini terlepas sudah beserta rambutnya. "Aku ga tau apa-apa Bu, lepaskan aku bu, sakit"
"Nyonya, saya mohon, lepaskan non Alana, saya mohon nyonya" ucap bi Minah ikut berlutut disamping Alana. Suara tangis Arlan kini semakin kencang, seiring mendengar suara bentakan dari Santi. Air mata Arlan terus bercucuran menatap ke arah mamanya yang juga ikut menangis menahan sakit akibat rambutnya yang di tarik.
"Nyonya.."belum sampai selesai bicara, Bima sudah menarik tangan bi Minah, agar masuk kedalam, tapi bi Minah tidak mau. Saat kegaduhan itu berlangsung, Lily yang kebetulan datang membawa rantang berisi makanan berlari memasuki rumah kala mendengar suara tangis Arlan. Dia pikir anak itu dalam bahaya berada diluar pengawasan Alana atau bi Minah.
"Ibu.." pekiknya terperanjat. Santi menoleh tapi masih tidak melepas tangannya dari rambut Alana.
__ADS_1
"Apa ibu gila? lepas Bu! apa yang sudah ibu lakukan sama Alana?" ujar Lily mencoba melepas rambut Alana dari tangan ibunya.
"Lepaskan tangan ibu Ly, biar ibu bunuh sekalian anak ini. Anak tidak tau di untung. Sudah bagus kau kami pelihara, tapi begini balasan mu?"
"Ini ada apa Bu? lepaskan dulu rambut Alana" pinta Lily memohon. Santi akhirnya mengalah, melepaskan tangannya dari rambut Alana yang kini sudah banyak yang rontok di tangannya.
"Gadis biadab ini sudah mengambil perusahaan kita, milik ayah mu" umpat Santi masih ingin maju mencengkram Alana, tapi Lily maju dan memapah Alana untuk bangkit.
Miris memang, ditilik dari masa lalu, seolah takdir memang ingin mempermainkan hati Bima. Dulu saat Santi memergoki Bima dan ibunya Alana yang sedang bersama, perusahaan itu lah yang memberatkan Bima untuk memilih pergi dengan ibu kandung Alana. Ancaman Santi yang akan mengambil perusahaan itu membuat Bima memilih tinggal di sisi Santi. Kini anak dari wanita yang ditinggalkannya itu justru menjadi pemilik perusahaan yang dia dan Santi agungkan itu.
Lily tampak diam. Dia tidak mengatakan apapun. Tentu saja reaksinya datar, karena Lily sudah tahu. Yah, dia tahu sebulan lalu, saat ingin mencari kartu keluarga demi kelengkapan berkas di rumah sakit, Lily menemukan berkas laporan kepemilikan perusahaan ayahnya yang telah dibalik namakan atas Alana.
Sedih, pasti. Lily tidak menyangka kalau Arun akan menghukum orang tuanya seperti itu. Tapi Lily juga tidak mengatakan apapun pada Arun. Dia ingat tahun sebelumnya saat pertengkaran nya dengan Arun, ketika mengetahui Arun lah yang sudah membeli perusahaan ayahnya. Pertengahan itu hanya menguras tenaga, emosi dan air matanya. Arun tidak akan mengubah keputusannya.
Lagi pula, perusahaan itu diberikan Arun pada Alana, sebagai harta gono-gini selepas bercerai, yang menurut Lily wajar karena sebelum menikah pun mereka sudah menjanjikan sesuatu untuk masa depan gadis itu.
"Kenapa kau diam Ly? apa kau sudah tahu?" kali ini Bima bangkit. Jika benar anaknya sudah tahu namun menutup mulut dari mereka, sungguh dia akan kecewa sekali.
"Maaf yah, bu..itu semua keinginan Arun, lagi pula itu miliknya, hartanya"
"Lily, ibu kecewa padamu. Kenapa sekarang kau jadi memihak pada mereka? pasti gadis ini yang mengguna-gunai mu, ibu tidak terima"
__ADS_1
Santi kembali maju, ingin memukul Alana, tapi tangan Arun yang baru tiba di sana menahan dan melempar kembali tangan wanita berhati batu itu. "Sekali lagi ibu berani menyentuh sehelai rambut Alana, akan ku jebloskan ibu ke penjara" seketika Santi mundur, wajahnya pias tidak menyangka Arun akan muncul.