
Alana masih tidak bisa menguasai hatinya. Sudah dua jam sejak Arun pulang, tapi hatinya masih berdetak cepat mengingat apa yang pria itu katakan dan lakukan padanya.
Jangan berprasangka terlalu jauh dulu. Arun tidak melakukan seperti yang dibayangkan orang pada umumnya, bukan..belum!
Arun hanya mencoba menguatkan Alana, menghibur gadis itu agar tetap tegar menghadapi keadaan ini.
"Apa kau baik-baik saja?" ucap Arun setelah 20 menit kebisuan melanda keduanya. Mereka duduk di teras rumah, hanya untuk menghindari fitnah para tetangga.
"Baik bang..," sahutnya pelan.
"Aku turut sedih mendengar..itu..kau..ga jadi nikah" ucap Arun salah tingkah, saat Alana tiba-tiba berani mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Arun.
"Makasih bang. Tapi seriusan abang ikut sedih? bukannya abang senang kalau aku gagal nikah? pasti dalam hati abang bilang 'sukurin kau Alana, siapa suruh milih Gara, ditinggal nikah kan?' gitu kan bang?" tebak Alana frontal.
Mungkin himpitan dan beban hidup yang terlalu besar dialaminya membuat Alana keluar dari zona aman, menjadi sosok wanita yang masa bodo. Tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini, toh hal yang paling buruk saja sudah dialaminya.
Alana merasa lelah harus menyenangkan hati setiap orang. Dia benci jadi peran figuran bagi pemeran utama dalam cerita hidupnya sendiri.
"Hah? mana ada aku berpikiran kayak gitu. Kok kau nuduh sih? tapi kau Alana bukan? kok jadi berubah gini?" ujar Arun kaget atas tuduhan Alana. Well, walau tidak semua tuduhan Alana yang dialamatkan padanya itu salah semua. Dia memang sedikit gembira..bukan..jujur di lega Alana tidak jadi menikah dengan Gara, tapi dia juga tidak ingin Alana bersedih karena berpisah dengan pria itu.
"Bukan nuduh. Nebak aja. Kalau ga, ya udah aku minta maaf" ucapnya meremas tangannya. Hatinya ga karuan selama duduk didekat pria itu.
"Mmmm..Al..aku cuma mau bilang, semua yang terjadi pasti ada alasannya. Rencana mu gagal, hari ini, tapi yakinlah Tuhan pasti sudah siapkan rencana indah buatmu"
"Iya bang. Mulai sekarang aku hanya mau fokus membesarkan Arlan. Hanya karena dia aku bisa setegar ini bang"
Tanpa disadari Alana, Arun berdiri dihadapan Alana, menarik tangan gadis itu untuk berdiri.
"Kalau kau butuh apa pun, jangan sungkan untuk menghubungi ku Al. Seperti janjiku dulu padamu, selamanya aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu"
__ADS_1
"Tapi kita bukan suami istri lagi bang. Lagian aku ga mau dianggap perusak rumah tangga orang, perebus suami orang" ucap Alana tiba-tiba sendu. Air matanya bergulir di pipi.
"Kalau pun bukan karena perasaanku saat ini padamu, anggap saja aku Abang ipar mu
Bukan kah abang ipar akan selalu membantu adik iparnya?"
Alana mengangguk mengerti. "Iya bang, abang ipar emang wajar nolong adik iparnya, tapi ga wajar kalau sampai meremas jemari adik ipar sendiri kan?" ucap Alana menaikkan satu alisnya ke atas. Gadis itu berhasil dengan sempurna merusak momen haru yang baru saja tercipta diantara mereka.
Dengan wajah memerah Arun melepas genggamannya. Eheem... ehem..kerongkongan Arun terasa tercekat hingga perlu berdehem beberapakali hingga berubah jadi batuk yang disamarkan.
"Kalau gitu aku pulang dulu Al. Malam ini biar Arlan tidur di rumah" ucap pria itu kembali setelah berhasil mengusir rasa groginya.
"Iya bang. Hati-hati di jalan" Arun belum beranjak. Hatinya bimbang untuk maju atau mundur. Tapi akhirnya dia melakukannya juga. Arun menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya. Mata mereka saling tatap sementara debar jantung keduanya saling bertalu.
Cup..
Arun mencium puncak kepala Alana. "Aku pulang"
Baru kali ini Alana merasakan kebosanan yang sangat besar pada dirinya. Arlan sudah memulai tidur siangnya dengan pulas di rumah Lily. Alana tidak tahu harus apa, maka demi membunuh rasa bosannya. Tiba-tiba satu ide muncul di otaknya.
Setengah jam kemudian, Alana sudah mulai sibuk dengan berbagi jenis bahan kue. Satu kue bolu yang diberi nama rasa yang dulu pernah ada oleh Alana tengah dipanggang di oven.
Nyatanya kue bolu itu sangat enak. Alana dengan semangat membuat kembali beberapa loyang. Niatnya, Alana akan membawa untuk Lily saat menjemput Arlan nanti.
Penuh bangga, Alana menatap tiga bolunya yang sudah dia buat dan juga dia hias di atas meja. Semua tampak cantik dan juga nikmat.
"Kalau gini, kenapa aku ga buka toko roti aja ya, kayak mbak Tatiana? itu impian ku banget punya toko roti sendiri" ucapnya pada angin yang berhembus. Senyumnya mulai terkembang mendapati ide yang baru saja tercetus. Akhirnya dia tahu tujuan hidupnya. Kalau untuk kuliah, mungkin Alana sudah ketinggalan, anak-anak seangkatannya sudah mulai kuliah sejak beberapa bulan lalu. Lagu pula, dia sadar bukan tipe orang yang suka belajar, saat SMA saja dia sering dibantu Gara.
Ah..kan, teringat lagi pada pria itu. "Gara lagi apa ya sekarang? lagi sayang-sayangan sama Nadia ga ya? eh..aku mikir apa sih, wajar kalau mereka begitu, kan udah suami isteri" ucapnya bermonolog. Raut wajahnya kembali sedih.
__ADS_1
Hatinya sakit gagal nikah, tapi yang tidak Alana pahami, kenapa perpisahan dengan Gara tidak membuatnya begitu sedih, seperti saat di talak Arun?
Ntah lah, yang jelas, Alana tidak membenci Gara, hanya ada kecewa. Lagi pula, ini bukan keinginan Gara, dan saat pria itu dulu tahu keadaan Alana yang menjadi istri sirih Arun saja masih mau menerima dirinya. Jadi Alana tidak ingin membenci Gara.
Tidak jodoh. Itu yang dia tekankan dalam hatinya.
Alana memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menjemput Arlan. Selang beberapa menit, Alana sudah siap dengan membawa Tote bag berisi kue-kue nya.
"Astaga bang, ngagetin tau ga?" umpat Alana kesal saat membuka pintu.
"Sorry. Lagian dari tadi aku ketok-ketok ga dibuka. Lagi ngapain sih Al?"
"Mandi bang. Ada apa abang kemari?"
Tapi Arun tidak menjawab, menggesernya tubuhnya agar Alana bisa melihat orang yang berdiri dibelakangnya.
"Bi Minah.." pekik Alana gembira. Meletakkan Tote bagnya lalu menghambur memeluk wanita itu.
"Non Al apa kabar?" tanya wanita itu menahan haru. Bulir bening sudah mulai menguak di sudut matanya.
"Aku baik bi. Bi Minah kemana aja? aku kangen" ucapnya melerai pelukan mereka. Ingin melihat wajah bi Minah lebih lekat.
"Bibi ya gitu non. Kerja serabutan"
Arun ikut terharu melihat momen itu. Sore tadi, saat Arun pulang kerja, pria itu melewati warung rujak. Entah mengapa, Arun kepikiran untuk singgah dan membelikan untuk Alana. Dia ingat waktu hamil Arlan dulu, Alana sempat memintanya mencari rujak. Saat menyantapnya wajah Alana tampak gembira, jadi Arun memutuskan untuk membelinya lagi walau Alana tidak sedang hamil.
Saat itu pula lah, Arun melihat bi Minah yang bekerja jadi pelayan di warung rujak itu. Bi Minah sedang melap meja bekas pengunjung. Setelah memastikan itu bi Minah, Arun membujuk wanita paruh bayah itu untuk ikut pulang dengannya.
"Mulai sekarang bi Minah tinggal di sini, jagain Alana" ucap Arun.
__ADS_1
"Makasih bang.." ucap Alana terharu.