
"Mbak.... Mbak.... Bisa kita mulai? Silakan naik ke atas ranjang," ulang wanita yang menjadi eksekutor nantinya. Sesaat dia berhalusinasi, membayangkan betapa sakitnya saat janin itu dipaksa keluar.
Sania kembali ke dunia nyata. Tersentak oleh tarikan suster mengajak bergegas. Kembali dia melihat ke arah peralatan yang sudah disterilkan.
Bulir keringat membasahi kening Sania. Tubuhnya bergetar hebat. Dalam benaknya bercampur aduk. Perasaannya juga tak karuan. Rasa bersalah dan takut menggerogoti jiwanya.
Bisikan yang membujuk agar dia berhenti sampai disini saja masih menggema. Masih ada waktu untuk membatalkan niatnya.
Besi ranjang terasa dingin, tapi anehnya seperti menyetrum di kulit Sania. Bunyi pisau dan gunting saling beradu diletakkan di sebuah nampan terbuat dari stainles.
"Ayo, Mbak, ********** dibuka," lanjut suster setelah Sania duduk di tepi ranjang. Tangannya bergetar memegangi pinggiran ranjang untuk bangkit. Baru mengangkat rok selutut nya, pintu terbuka secara paksa.
Semua pasang mata yang ada di ruangan itu menoleh pada pembuat onar.
"Ka-sa!"
Mata Kasa terbelalak melihat Sania yang bersiap mengangkat roknya. Bola mata Kasa mengitari ruangan, lalu fokusnya tertuju pada wanita bertubuh tambun yang jadi bidan eksekutor.
"Praktek ilegal Anda ini bisa saya laporkan!" ancam Kasa membuat wajah si wanita memucat. Kasa tak ingin berlama lagi di ruangan pengap dan bau darah itu, menarik tangan Sania keluar.
"Kasa!" Pekik Sania masih bingung, harus ikut atau tetap stay. Dia sudah sejauh ini, meski hanya mendua.
"Aku bilang kita pulang!" Ucapan Kasa tidak bisa ditawar. Sania dipaksa, diseret keluar dari sana.
"Masuk!" perintah Kasa membuka pintu mobil, tapi Sania bergeming. Semua terasa berat. Kalau dia ikut pulang dengan Kasa sekarang, tidak akan ada lagi keberanian yang dia punya untuk kembali datang ke tempat seperti ini besok atau lusa. Lagi pula usia kehamilannya sudah makin tua, akan susah untuk dikeluarkan nanti.
"Kalau kamu gak mau masuk, aku akan paksa!"
Nyali Sania menciut. Kasa kenapa begitu berbeda hari ini. Selama ini dia tidak pernah berteriak saat bicara padanya. Terpaksa dia masuk ke dalam mobil dengan wajah masam dari pada Kasa membuat keributan di tempat itu.
"Dari mana kamu tahu aku di sini?"
__ADS_1
Dengusan Kasa terdengar. Dia malas menjawab karena masih marah pada Sania. Gadis itu
Kalau saja dia tidak jeli mengamati pesan Sania saat di klinik tadi, Kasa tidak akan tahu kalau gadis itu punya niat untuk aborsi.
'Kasa, aku minta maaf.'
Pesan singkat itu awalnya dia abaikan. Kembali berbincang dengan Dito. Tinggal mereka berdua yang sering menghuni basecamp karena Gilang dan Tomi sudah berangkat ke luar negri.
Namun, disela perbincangan mereka, Kasa tergoda untuk membaca pesan itu. Jantungnya seketika berhenti berdetak.
'Kamu lagi dimana?'
Sampai 10 menit berlalu, pesan itu tidak mendapatkan balasan. Pikiran Kasa sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Sania. Dia mulai melacak keberadaan gadis itu lewat titik koordinatnya.
Wajahnya pias melihat lokasi serta satu nama klinik yang dianggapnya aneh. Tanpa pamit, Kasa melesat pergi.
Di perjalanan, Kasa sudah coba menghubungi Arlan, tapi pria itu tidak menjawab. Kasa memutuskan untuk pergi sendirian.
Langit mulai menghitam di atas sana. Belakangan ini hujan sering kali turun tidak terduga. Saat dia keluar dari kosan, masih cerah, siang ini sudah gelap lagi. Diliriknya sekilas ke arah Kasa, tapi ekspresi pria itu datar.
Pikiran Kasa yang sedang kacau memikirkan hubungannya dengan Ayra yang kandas, membuat emosinya tidak terkontrol. Ditambah lagi dengan ulah Sania yang mencoba aborsi.
Kasa banting setir, meminggirkan mobilnya, lalu menatap tajam penuh emosi pada Sania. Dia harus bicara serius dengan gadis itu. Kasa tidak mau dihantui rasa takut kalau-kalau Sania melakukan aborsi lagi.
"Kamu sadar gak, sih, kalau kamu bisa mati karena melakukan hal bodoh kayak tadi. Apa yang ada dalam pikiranmu?"
Sania terkesiap, pria yang saat ini memarahinya itu seperti bukan Kasa. Sania sampai bergidik ngeri melihat tatapan menguliti Kasa.
"Kenapa kamu lakukan itu Sania? Dia anak kamu, darah dagingmu. Tega kamu melenyapkannya? Kamu mau jadi pembunuh?"
"Kamu pikir aku mau mengambil langkah ini kalau gak terpaksa? Aku juga gak punya pilihan. Aku juga takut." Suara Sania bergetar. Dia muak disalahkan meski ini salahnya.
__ADS_1
Kasa terdiam. Dia tidak ingin terlalu mendorong Sania ke puncak tebing kesalahannya. Ini semua karena Arlan yang tidak mau bertanggung jawab atas bayinya.
Sania menghubunginya malam setelah Arlan pulang dari kosannya.
"Dia tidak mau punya anak sekarang." Itu kalimat pembuka diberikan Sania ketika di seberang sana terdengar suara Kasa mengatakan 'halo'.
"Kamu sudah mengatakan padanya? Mengatakan kalau kamu sedang mengandung anaknya?" Dia masih belum percaya kalau sahabatnya itu se-bajingan itu, mau berbuat tidak mau bertanggung jawab.
"Gak. Tapi aku coba tanya bagaimana kalau dia punya anak. Dia bilang dia belum siap, masih ada impian yang ingin dia wujudkan." Kasa bisa merasakan kegetiran dalam nada suara Sania. Pasti sakit sekali dikecewakan oleh orang yang sangat dicintai.
Telinga Sania hanya mendengar embusan napas Kasa yang berat. Dia meminta Sania untuk tenang, dan dia janji akan mencari solusinya. Kasa lalu menutup telepon dan berusaha mencari Arlan.
Pria itu menemukan sahabat itu sedang berada di bar dalam keadaan mabuk parah, hingga tidak mungkin diajak bicara.
Titik hujan mulai berjatuhan di kaca mobil. Sania mendongak ke atas. Langit mendung seperti hatinya yang kelabu.
Tuhan, apakah aku masih pantas mendapatkan maafMu? Aku sudah terlalu jauh melangkah.
"Aku mohon Sania, jangan lakukan itu. Anak itu gak berdosa. Perbuatan kalian yang berdosa, bukan dia. Kenapa dia jadi korban?" Kasa mulai mengajak Sania bicara. Dia paham kondisi Sania saat ini yang merasa terpojok, tapi tidak dibenarkan membunuh janin yang tidak bersalah.
Sania menghapus air matanya yang mulai turun seperti rintik hujan yang mulai jatuh ke kaca mobil mewah Kasa. Dia masih memalingkan wajahnya agar tidak dilihat oleh Kasa.
"Kamu sudah dewasa, berani kamu melakukannya, artinya kamu sudah tahu konsekuensinya. Kamu harus bisa bertanggung jawab atas perbuatanmu. Kamu melakukannya bukan tanpa sadar, dan kamu tahu betul kalau bercinta bisa buat hamil!"
"Aku bukan gak mau bertanggung jawab, hanya saja aku takut. Aku juga semakin lama merasakan sesuatu di hatiku setiap mengingatnya," Sania membiarkan tangisnya membasahi kemejanya. Dia fokus membelai perutnya. Tanpa sadar sebaris kata maaf dilantunkan dalam hatinya. Dia menatap wajah Kasa dengan linangan air mata yang semakin banyak turun.
"Kalau begitu, ambil tanggung jawab itu. Lahirkan dan besarkan anak itu."
"Sania terenyuh. Pandangannya masih kabur karena tertutupi air mata. Suara Kasa tegas, dia serius meminta hal itu pada Sania.
"Menikahlah denganku. Aku akan jadi ayah dari anak itu!"
__ADS_1