
Keadaan Lily semakin lemah. Disudut ruangan Arun terduduk lemas menanti kabar dari dokter yang tengah merawatnya. Arun tidak percaya, sulit menerima kenyataan kalau istrinya saat ini sangat menderita, menghadapi rasa sakitnya sendiri.
"Bang, aku mohon kau harus kuat. Demi kak Lily" ucap Alana lirih. Dia sendiri tak henti-hentinya menangis dan terus berdoa untuk keselamatan Lily.
Setengah jam lebih memeriksa, dokter dan timnya keluar dari ruangan Lily berada.
"Keluarga ibu Lily?"
Suami istri Adhinata serta Arun dan Alana bangkit. "Saya suaminya"
"Kami semua keluarganya dokter" lanjut Alana.
"Baiklah, kalian bisa ikut keruangan saya. Ada hal yang berkaitan dengan pasien yang harus saya jelaskan"
Dalam diam, semua ikut dalam ruangan itu. Was-was menerima berita yang mungkin tidak diinginkan tentang Lily.
"Silahkan duduk, bapak ibu" ucap dokter mempersilakan.
"Dokter, bagaimana putri kami?" Santi dengan matanya yang mulai memerah tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Bu Lily saat ini saat lemah. Maaf tapi sepertinya pasien harus dirawat inap di sini" terang dokter.
"Sebenarnya kanker yang diidap istri saya sudah stadium berapa dok? dia masih bisa sembuhkan dok? saya mohon lakukan yang terbaik, selamatkan istri saya. Jika memang harus dirujuk ke rumah sakit di luar negeri, saya akan bawa dok. Saya mampu" ucap Arun tidak lagi memahami apa saja yang dia ucapkan. Alana melirik ke arah Arun, pria itu sangat terpukul akan keadaan Lily.
"Kita lihat perkembangannya dulu pak. Kita usahakan yang terbaik. Untuk saat ini, saya harus jujur, pasien sudah masuk stadium tiga. Seluruh lapisan lambung sudah digerogoti kanker atau banyak pertumbuhan kanker kecil yang menyebar luas ke kelenjar getah bening. Kita berusaha agar keadaan pasien semakin membaik, jangan sampai masuk stadium 4, karena jika sudah terjadi penyebaran kanker lambung pada tahap ini sudah semakin parah dan mencapai organ tubuh yang jauh. Kalau sudah begitu hanya keajaiban yang bisa kita harapkan" terang dokter Ridho panjang lebar.
"Putriku" isak Santi merasa terpukul. Mencengkram bagian dadanya yang terasa perih. Membayangkan putri semata wayangnya merasa kesakitan didalam sana karena penyakit terkutuk itu yang kini tengah menggerogoti tubuhnya.
"Ibu dan semua keluarga tenang dulu ya, kita tim medis akan berusaha sekuat tenang untuk menyembuhkan pasien. Hanya saja untuk memerangi penyakit ini, kita semua harus bekerja sama, menciptakan suasana yang menyenangkan agar pasien tidak terbebani dan selalu merasa dicintai semua anggota keluarga. Hanya itu obat yang paling mujarab yang saya tahu yang bisa membantu kesembuhan pasien. Penyakit apapun itu" terang dokter Ridho coba menenangkan kepanikan keluarga Lily, terlebih ibunya.
Keterangan dokter Ridho menampar Santi sangat kuat. Kesombongan dan juga congkak dalam hatinya membuatnya harus menerima hukuman separah ini. Kembali terbayang ucapan Lily padanya. Jangan menyalahkan Alana atas semua yang terjadi pada mereka.
__ADS_1
Ya Allah, benarkah ini hukuman bagi hamba? jangan jadikan anak hamba sebagai alat untuk menghukum ku ya Allah. Lily tidak bersalah atas semua kejahatan ku selama ini. Ampuni hamba ya Allah..
Santi menghapus air matanya. Dia butuh udara, butuh sendiri, dan butuh merenung. Tanpa permisi Santi keluar dari ruangan itu. Berlari keluar, duduk di bangku taman yang banyak lalu-lalang orang lewat.
Tidak lagi perduli akan pandangan orang padanya. Santi memuaskan tangisnya. Mengeluarkan setiap sesak di dadanya lewat tangisan.
"Bu.." tangan Bima kini menyentuh pundaknya. Pria itu segera ikut keluar saat melihat istrinya menahan laju air mata, keluar dari ruang dokter itu.
"Ini semua salah kita. Kenapa Lily yang harus menanggung karma yang kita buat pak?" ucapnya disela tangisnya. Bima mengambil tempat untuk duduk disebelah Santi, meremas tangan wanita itu agar lebih tenang. Santi merebahkan kepalanya di pundak Bima lalu kembali menangisi takdirnya.
***
Hari kedua dirawat di rumah sakit, Lily siuman. Orang pertama yang dia lihat adalah wajah Arun yang tersenyum padanya. Wajah pria itu tampak lusuh, Lily tebak dia pasti kurang tidur.
"Hai.." sapa Lily dengan suara tercekat.
"Hai.. boleh kenalan?" ucap Arun coba mengembangkan senyum. Dia membawa Lily ke hari dimana mereka pertama kali berkenalan.
Arun terdiam. Dia tidak berkata apapun lagi. Tidak, bukan karena dia tidak ingat apa kalimat lanjutannya. Tapi Arun tidak tahan untuk tidak menangis. Bola matanya sudah perih menahan agar bukit kristal asin itu jangan sampai turun. Dia ingat apa yang dokter Ridho katakan, jadi dia berusaha untuk menjalankannya.
"Hei..Hun, mau kah kau duduk di sampingku?" bisik Lily. Dia pun sama dengan Arun, mencoba membendung air matanya. Dia tahu pria itu sangat sedih saat ini mengetahui penyakitnya.
Lily pun begitu, dia takut. Bahkan sangat takut. Dia bahkan takut untuk tidur, takut kalau tidak bisa bangun lagi setelahnya. Dia masih ingin bersama Arun. Begitu besar cintanya pada pria ini, kenapa Tuhan harus memisahkan mereka?
Perlahan Arun mendekat, duduk disamping Lily dan menggengam tangan wanita itu penuh kasih. "Bukan kah kau lelah duduk begini? berbaringlah" ucap Arun.
"Punggungku gatal terlalu lama berbaring. Biarkan aku duduk sebentar saja. Kau tidak kerja?" Arun menggeleng. Persetan dengan urusan kantor, meeting dan proyek yang sedang dia kerjakan, Lily lebih penting.
"Aku mau menemanimu" jawab Arun.
"Aku mohon jangan mengasihi ku, hun"
__ADS_1
"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi aku memang ingin berada di sisimu saat ini"
"Hun, kalau aku mati.."
"Bisakah kau diam. Aku ga mau dengar" tes! satu bulir jatuh dari matanya. Jatuh tepat di lengannya.
"Dengarkan dulu. Please.." Lily menangkup dagu pria itu, memutar wajahnya agar menatapnya.
"Aku tahu, umurku tidak lama lagi. Kau tahu yang paling berat untuk ku meninggalkan dunia ini adalah karena kau, hun. Aku takut, setelah aku tidak ada, kau salah menemukan gadis pengganti ku" Arun masih diam. Satu tetes kembali jatuh.
"Tapi kini aku sudah tenang. Hun, berjanji lah satu hal padaku"
Arun tidak mau menoleh. Dia tetap saja menunduk, seolah menghitung setiap detik yang begitu menyiksa.
"Hun, aku mohon, kabulkan keinginanku ya,hun
Ini permintaan terakhir ku"
"Katakan.." ucap Arun memberanikan diri menatap Lily.
"Ada dua. Pertama, berjanjilah untuk menjaga Alana, nikahi dia secara resmi, jadikan dia satu-satunya wanita mu, karena dia tidak pantas jadi yang kedua. Aku tahu, hun..kau sangat mencintai dia, bahkan melebihi aku. Kau tahu, itu sedikit menyakitkan tapi kini rasa sakit itu sudah hilang, aku ikhlas lahir batin" ada jeda dan hembusan nafas dari Lily yang terdengar berat oleh Arun.
"Kau mau kan hun? gantikan aku menjaga adik yang paling ku sayang, adikku satu-satunya. Jangan biarkan satu orang pun menyakitinya lagi" air mata Lily terus saja mengalir, begitu pun dengan Arun. Mereka berdua tampak kompak menangis bersama saling menggenggam.
"Yang kedua?"
"Aku ingin kau membawaku ke Jepang. Kota yang dulu pernah ingin kita datangi tapi sampai sekarang ga jadi" ucapnya menyelipkan senyum diantara tangisnya.
"Aku ingin pergi membawa kenangan bersamamu. Membawa kenangan indah dalam hatiku, bahwa kau hanya milikku. Hanya aku wanita yang kau cinta, dan hanya ada kita. Tidak ada cerita satu atap tiga hati.."
***Aish..aku mewek lagi😭😭😥 sejatinya hati hanya bisa tulus mencintai satu orang saja, jika ada hati yang bisa menerima dua hati secara bersaman, percayalah salah satunya bukan cinta..😥🥺
__ADS_1