Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Pertemuan pertama


__ADS_3

"Udah sampai. Yok, bang turun," ajak Alana. Sejujurnya gadis itu tidak pernah menyangka kalau Kai akan serius untuk mengantarnya, bahkan demi datang kemari, niat awal bertemu dengan koleganya juga dibatalkan. Alana sempat dengar pembicaraannya dengan seseorang lewat sambungan telepon sesaat sebelum berangkat.


"Ayo, bang" ajak Alana lagi melihat Kai yang masih betah duduk tanpa berniat turun. Seatbelt nya saja belum dibuka. Pria itu melayangkan pandangannya, menatap rumah mewah dan megah.


Nyalinya sedikit gentar. Bimbang, apakah sebaiknya turun atau tidak. Jujur, dia belum siap untuk bertemu Dita, apalagi anak itu. Lantas kalau anak itu memang miliknya, darah dagingnya, setelah itu harus apa? menikahi Dita? itu jauh dari pikirannya!


"Ga ikut turun? apa abang mau langsung balik aja?" Alana bahkan sudah diluar. Menunduk melalui kaca, memastikan Kai ikut atau tidak.


"Gue ikut" jawabnya mantap. Ada dorongan untuk melihat bayi itu.


Seperti dugaannya, tentu saja Rudi terkejut melihat kemunculan Kai di rumahnya. Tentu saja dia kenal dengan pengusaha muda itu, bahkan keduanya pernah bekerjasama.


"Selamat siang, tuan...," ucapnya kikuk.


"Anda kemari?" Rudi menyambut uluran tangan Kai dengan sopan.


"Nganterin aku om. Tadi ketemu di mall" potong Alana yang berhasil membuat Kai bisa bernafas lega, tanpa harus pusing memikirkan alasan kedatangannya.


"Kalian kenal? temannya Arun juga?" Rudi mempersilahkan Kai duduk. Sofa yang terlihat empu itu nyatanya tidak menarik minatnya, pertimbangannya, kalau dia duduk, akan semakin lama dia ada di rumah itu, dan sejujurnya tidak membuatnya nyaman.


Melihat wajah Rudi, rasa bersalah Kai semakin menyiksa batinnya. Pria tua itu bisa dibilang mentor nya dalam berbisnis. Banyak mengajarkan dirinya strategi marketing, dan selama ini hubungan mereka sangat baik. Bagaimana kalau orang yang dihormatinya ini tahu kalau pria brengsek yang sudah merampas kehormatan putrinya justru pria yang ada di depannya saat ini?


"Kami berteman, tuan. Beberapa kali Alana pernah menolong saya," ucapnya kikuk. Kini mereka hanya tinggal berdua di ruangan itu. Matanya mulai mencari-cari keberadaan Dita, namun tidak juga terlihat.


Kalau pun tidak bisa bertemu gadis itu, Kai berharap siapapun turun dan menggendong anaknya, tapi harapannya masih jauh diangan-angan.


Sebisa mungkin Kita bersikap tenang. Mengikuti topik yang dibahas Rudi. "Katanya ada tamu, Pi?" sumpah demi apapun, suara Dita hampir saja membuat Kai pingsan terkejut. Gugup, dan keringat mulai muncul di dahinya.


Mata Kai tidak bisa lepas menatap sosok Dita yang berjalan menuju mereka dengan menggendong bayinya. Wajah gadis itu cantik seperti yang diingat Kai, namun entah mengapa ada aura dari Dita yang tampak berbeda. Wajahnya berseri, dan senyum gadis itu berhasil mengobrak- abrik hatinya.

__ADS_1


"Sini, Ta. Ini ada teman papi. Ternyata dia juga temenan sama Alana" panggil Rudi.


"Kayaknya kita pernah ketemu deh.."


Deg!


Cucuran keringat sudah membasahi wajah Kai. Apa Dita akhirnya sadar siapa dirinya?


"Kita pernah ketemu di nikahan Alana, kan?" Dita masih memperhatikan wajah Kai, sementara si tersangka sudah hampir menemui ajalnya.


"I-iya...," sahut Kai terbata.


"Lihat tuan Barrel, ini cucu saya. Ganteng, kan?" tunjuk Rudi setelah mengambil Angkasa dari tangan Dita. Mata bayi itu tepat melihatnya. Dunia Kai jungkir balik, perasaannya campur aduk. Dia terhipnotis melihat bola mata makhluk mungil itu. Sekilas melihat bayi itu mengingatkan dia pada seseorang yang pernah dia lihat, tapi sekuat apapun dia mengingat, tidak berhasil juga.


"Bagaimana? Anda juga tersihir oleh mata tajamnya, ya? Dia ini malaikat dihari kami, kehadirannya membawa kebahagiaan untuk keluarga ini"


"Benar, dia begitu tampan" tanpa sadar kalimat itu mengucur dari bibirnya.


Dia kenal dengan Kai, memiliki keahlian luar biasa dalam bisnis, punya jiwa kepemimpinan, semua hal baik yang dimiliki pria pekerja keras, tapi setiap orang pasti punya sisi buruknya, kan?


Sepak terjang Kai dalam dunia malam juga sudah jadi rahasia umum, semua orang tahu, tidak terkecuali dengan Rudi.


"Hah? oh..itu..,"


"Anda ingin menggendongnya?" tanya Rudi tersenyum. Pria tua itu begitu bahagia. Kehadiran Angkasa membuatnya lebih bersemangat. Dia merasa jadi lebih berguna lagi karena berhasil menyelamatkan hidup bayi ini dan juga ibunya.


"Apa boleh?" ucap Kai antusias. Sejak bertemu pandang dengan anak itu, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya.


Rudi berdiri, ingin memberikan Angkasa pada Kai, namun tepat saat itu Dita yang tadi kebelakang, langsung mengambil Kasa, yang belum sempat disentuh oleh pria malang itu. Wajahnya seketika tidak terima atas perbuatan Dita, namun dia bisa apa? mulut menganggapnya yang siap protes, kembali terkatup.

__ADS_1


"Kasa nen dulu ya, udah waktunya," ucap Dita mengambil anaknya dan membawa masuk. Tanpa sadar Kai bangkit, ingin menarik tangan Dita, agar memberikan Kasa untuk digendongnya, namun tangannya hanya bisa menggenggam angin.


"Ada apa, tuan Barrel?" kening Rudi berkerut melihat reaksi kesal Kai.


"Oh, maaf, tuan. Sayang sekali saya masih ingin bermain dengan cucu anda, tapi mungkin lain kali" ucapnya tersenyum kecut.


***


Dari mana datangnya sikap posesif yang dirasakan Kai saat ini? wajah bayi mungil itu terpatri di matanya. Setelah hatinya mengatakan kalau itu adalah anaknya. Lalu dia harus apa? mengambil anak itu dari keluarga Setyawan? tidak mungkin. Pengadilan pasti akan memenangkan Dita, selaku ibu.


"Manggil saya, bos?" Perguson masuk dengan wajah sumringah. Dia tidak tahu saja kalau dewa kematian sudah datang menjemputnya.


"Kemari" Bukan maju, Perguson malah berhenti. Kalau taring drakula Kai sudah tampak menyeringai, dan wajahnya sedingin suhu di kutub utara.


"Kenapa berhenti? kesini!"


"Kayaknya udaranya kurang bagus dengan saya, bos" Perguson meremas tangannya. Bertahun mengikuti pelahap maut itu, tentu saja membuat Perguson mengenalnya sangat baik. Saat ini amarah Kai berada di atas rata-rata, dan firasat Perguson mengatakan dirinya lah penyebab masalah ini.


"Kesini, atau mampusin lo!" hardik Kai yang berhasil membawa Perguson dengan cepat datang.


"Ada apa, bos? ka-kalau aku salah, aku mohon maaf bos. Aku mohon jangan pecat aku, bos. Lebih baik bos hajar, tapi please bos, jangan usir aku, bos. Baru juga bulan lalu beli apartemen, kalau bos pecat, aku mau bayar pake apa? tolong maafkan aku, bos" Perguson sudah bertekuk lutut dihadapan Kai.


"Waktu lo kasih kabar tentang Dita, sebenarnya siapa yang lo lihat mau aborsi di klinik itu!?" hardika Kai menatap tajam wajah Perguson.


"Itu...tentu saja non Dita, bos"


"Seyakin apa lo?" Kai melipat tangan di dada.


"Harusnya sih sangat yakin" ucapnya dengan suara semakin melemah.

__ADS_1


"Seharusnya? gara-gara informasi asal dari lo, gue sampai ga tahu, kalau Dita udah melahirkan yang gue yakin itu anak gue!"


__ADS_2