
Kedatangan Dita dan kedua sahabat Gara menyelamatkan Alana dari tebakan Gara yang hampir membuat pingsan dirinya.
Berlima mereka berjalan ke dalam kelas. Ketiga pria itu sudah larut dalam pembicaraan pertandingan bola liga Inggris yang tadi malam.
"Wajah lo pucat Al, lo sakit?" Dita meletakkan punggung tangannya di dahi Alana.
"Gue baik-baik aja Ta"
"Tapi benar loh, wajah lo pucat" timpal Wisnu.
"Udah, lo pada ga usah ganggu bini gue. Ta, lo pindah ke bangku gue, biar gue ditempat lo" pinta Gara tanpa menunggu persetujuan Dita, sudah memindahkan buku dan tas gadis itu kebelakang.
"Aku antar pulang ya?" ucap Gara lembut. Tapu justru kelembutannya itu yang semakin menyiksa Alana. Dia merasa kotor dan menjijikkan, tidak pantas mendapatkan perlakuan baik dari Gara sementara di dalam kandungannya ada anak pria lain.
"Ga usah Ga. Aku kuat kok"
Ditengah pelajaran, Alana harus menahan rasa pusingnya dan keinginan untuk tidur. Beruntung hari ini hanya remedial saja hingga cepat pulang sekolah.
Gara memaksa untuk mengantarnya pulang. Alana tidak mendebat karena untuk naik ojek pasti tidak akan senyaman rebahan dipunggung Gara. Tepat diujung jalan keluar dari komplek sekolah, Mata Alana menangkap kang rujak dengan gerobak nya. Gadis itu menelan air liur melihat deretan buah segar itu.
Meminta Gara untuk berhenti sudah diujung lidahnya, tapi buru-buru niat tersebut dibatalkannya. Dia tidak ingin menambah kecurigaan Gara. Jadi mereka hanya melewati penjual rujak itu dengan Alana yang hanya bisa menelan saliva nya.
Tiba di rumah, buru-buru Alana yang belum mengganti seragam sekolahnya berhambur ke kulkas, mengacak-acak isinya, tapi yang diinginkan tidak ditemukan.
"Nyari apa non?" suara bi Minah yang masuk ke dapur membawa cangkir bekas kopi dan meletakkan di wastafel menatap heran melihat tingkah Alana.
"Kita punya stok mangga ga bi?" ucapnya memelas. Rasa inginnya sudah sampai ke ubun-ubun. Padahal selama ini dia tidak terlalu menyukai buah yang satu ini, parahnya dia justru menginginkan yang mengkal.
"Buah mangga? kayaknya kosong non. Si non pengen minum jus mangga? biar bibi beli dulu di warung" tawar bi Minah.
"Oh, ga usah deh bi. Kirain ada. Aku ke kamar dulu bi" ucapnya mencubit pipi bi Minah. Matanya sempat melirik ke gelas kotor yang tadi dibawa bi Minah.
"Ini gelas siapa bi? tadi ada tamu?"
__ADS_1
"Bukan tamu non. Ini bekas pak Arun"
"Loh, emang bang Arun di rumah?" wajah Alana mendadak gelisah.
"Iya, tuan di ruang kerjanya. Kurang enak badan katanya, jadi cepat pulang. Jam 11 udah balik tadi non"
Alana hanya mengangguk, lalu pamit pergi. Dia harus buru-buru masuk kamar biar tidak bertemu Arun, tapi dorongan dari dalam semakin kuat. Air liur sudah semakin banyak membayangkan nikmatnya buah mangga muda itu.
"Kenapa Al? wajahmu kok sedih gitu?" Lily menghentikan Alana saat mereka berpapasan di anak tangga.
"Kak, aku pengen banget makan mangga muda. Ga tahu kenapa. Bawaannya kesal kalau ga dapat" ucapnya mengeluh.
"Itu namanya ngidam sayang" terang Lily merangkul Alana. "Sebentar ya kita cari"
"Kamu tunggu disini, biar kakak yang cari kang rujak yang biasa mangkal di komplek ini ya"
Alana mengangguk, tapi tetap tidak merasa senang. Ada yang mengganjal di hatinya. "Kok masih cemberut?" tanya Lily.
"Katakan Al, ada apa? dengar, ibu hamil itu wajar kalau banyak mau nya. Apa lagi trimester pertama, pasti pengen ini, mau itu. Namanya ngidam. Kalau kau ga bilang apa yang kau inginkan, kasihan anak yang ada dalam kandungan mu. Kata orang, anaknya bisa ileran loh kalau yang dipengenin ga kesampaian" kembali Lily menerangkan pada Alana. Seolah dia sudah pernah merasakan ngidam.
Semua itu Lily peroleh dari rajinnya membaca artikel di media sosial seputar ibu dan juga kehamilannya.
"Aku..aku maunya mangga mudanya dibeli sama bang Arun" ucapnya nyaris tidak terdengar saat menyebut nama Arun.
"Oh..itu. Ga papa Al. Itu wajar, malah kau jangan heran, kalau nanti ada saatnya, kau ingin selalu di dekat Arun, karena dia papa anak ini" ucap Lily tertawa.
Mendengar penuturan Lily membuat bola mata Alana membulat sempurna. Apa yang dikatakan Lily tepat. Dorongan ingin didekat Arun sangat kuat, dia sendiri pun kadang tidak mengerti. Tapi semua perasaan dan keinginan itu dia tepis, membingkai kebencian sebagai tembok pembatas antara mereka.
"Ya sudah, kau rebahan aja di kamar. Kakak akan minta Arun untuk cari buahnya"
"Tapi kata bi Minah, bang Arun pulang karena tidak enak badan. Ga usah aja deh kak" Alana mencegat langkah Lily yang akan melangkah.
"Ga papa. Ini kewajiban dia sebagai ayahnya. Udah kau tenang saja" Lily membelai puncak kepala Alana dan segera keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Lily masuk keruang kerja suaminya, melihat pria itu tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. "Hun, Alana ngidam mangga muda, dia pengen sampai merasa tersiksa"
"Oh iya. Terus?" Arun yang biasanya tidak tertarik dengan hal yang berhubungan dengan Alana, kini langsung antusias mendekat pada Lily. Dari wajahnya tampak ke khawatiran.
Lily tidak menyangka reaksi Arun akan seperti itu, saat dirinya menyampaikan perihal keinginan Alana.
"Alana ngidam mangga muda, dan ingin kau yang beli"
Hanya butuh sekali saja Lily mengucapkan kalimat perintahnya, Arun dengan sigap mengiyakan. Bahkan saat Lily mengatakan ingin menemaninya, Arun melarang, meminta Lily untuk menjaga Alana.
Setelah berputar-putar mencari Arun akhirnya menemukan penjual mangga muda. Dengan semangat Arun memborong semua mangga yang dijual oleh kang rujak itu.
"Ini kembaliannya pak"
"Ga usah buat bapak aja" balasnya gembira. Ada rasa bangga dihatinya karena Alana menginginkan dirinya yang membeli mangga ini. Apapun akan dia lakukan untuk menyenangkan hati Alana, terlebih anak yang dikandung gadis itu juga anaknya kan?
Sepeti kata Lily sebulan lalu, saat memberinya wejangan. "Kita harus kerja sama hun, me jaga dan merawat Alana. Jangan membencinya lagi. Pengorbanannya sudah sangat besar untuk kita. Terlebih nanti saat Alana hamil, kau harus jadi suami siaga. Memberikan apapun yang dia inginkan"
Jadi tidak salah kalau dia menjadi suami siaga sejak dini. Dengan wajah sumringah Arun membawa satu plastik besar mangga muda, lengkap dengan bumbu kacangnya.
"Dapat hun?" sambut Lily berdiri melihat Arun memasuki rumah.
"Nih.." ucapnya mengangkat kantong kresek besar.
"Ya ampun, hun..banyak banget. Buat apa semua ini?"
"Ya kasih Alana lah. Biar dia puas makan nya"
"Ini malah buat mules kalau semua dimakan" Lily geleng-geleng sembari tertawa. Buru-buru menerima kantongan itu dan membawa ke dapur untuk dipotong dan siap disajikan.
"Mau kemana bi?" tegur Arun yang melihat bi Minah melintasinya.
"Diminta ibu manggil non Al di kamarnya, pak" Alana hanya mengangguk. Dia ingin melihat wajah Alana yang tersenyum manis padanya saat mengucapkan terima kasih.
__ADS_1