Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Meminta Restu


__ADS_3

Sebulan sudah Alana menempati rumah barunya. Hidupnya kini lebih tenang. Kalau Lily hampir setiap hari datang kerumahnya untuk bermain dengan Arlan, Arun sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di rumahnya.


Sesekali Lily akan membawa Arlan untuk menginap di rumah mereka, lalu besoknya diantar lagi ke rumah Alana. Mungkin saat Arlan dibawa ke sana lah, Arun bisa memuaskan rindunya pada Arlan.


Meskipun tidak pernah bertemu lagi, Arun tetap memenuhi kebutuhan Alana dan juga Arlan dengan mengirimi sejumlah uang ke rekening Alana. Itu kesepakatannya. Alana harus mau menerima uang yang di kirim oleh Arun, demi memenuhi kebutuhan Arlan, jika menolak Arun akan mengambil Arlan kembali.


"Aku tidak ingin anakku kekurangan apa pun" tegas Arun saat mendebat Alana yang ingin mengembalikan ATM itu pada Arun.


"Tapi jumlahnya terlalu besar buat Arlan bang" jawab Alana yang tidak berani menatap wajah Arun.


"Karena kau adalah ibu dari anakku, aku tidak ingin kau kesusahan mencari uang yang sama saja akan menelantarkan anakku, jadi anggap saja uang itu untuk ucapan terimakasih ku karena sudah merawat Arlan 24 jam setiap harinya" putus Arun tegas. Alana tidak bisa menolak. Bahkan dua hari setelah menempati rumahnya, seorang pengacara datang ke rumahnya menyerahkan surat rumah atas namanya juga berkas berupa data saham perusahaan yang kini sudah diubah atas namanya.


"Ini apa lagi bang? kenapa bisa aku pemilik perusahaan ayah?" pekiknya tak percaya. Tidak cari masalah saja dengan keluarga ayahnya sudah bagus, ini malah cari mati dengan menjadi pemilik saham perusahaan sebesar 70%.


"Terima saja. Itu hak mu selama menjadi istriku. Aku tidak mau dianggap mantan suami yang tidak punya perasaan menceraikan istrinya tanpa memberi sedikit harta gono-gini"


"Tapi aku ga mau hartamu"


"Terima atau Arlan aku ambil" ancam Arun. Kadang Alana tak habis pikir kenapa sikap Arun begitu berubah. Pria itu selalu bersikap dingin bahkan seolah tidak saling kenal, dan satu lagi, sifat arogan pria itu muncul, seperti dulu Alana pertama kali mengenalnya. Suka memaksa kehendak dan mengancam. Tapi anehnya Alana tidak sakit hati atas sikap kasar yang coba Arun tunjukkan padanya.



***


Hubungan Alana dan Gara pun semakin baik. Gara setiap hari datang mengunjungi mereka, menemani berjalan di taman, karena Arlan masih terlalu kecil untuk di bawa ke mall.


Rencana pernikahan juga sudah diucapkan Gara. Mama Reni dan semua anggota keluarga tidak ada yang keberatan pada Alana. Walau masih kuliah, Gara juga sudah mulai bekerja di perusahaan papanya, jadi bisa memenuhi kebutuhan Alana nantinya.

__ADS_1


Alana ingat saat Gara membawanya ke hadapan mama dan juga kedua abangnya. Malam itu papanya Gara yang masih kurang sehat berada dikamar, masih diinfus dan hanya berbaring lemah ditempat tidur hingga tidak bisa menemui Alana. Dengan berani Gara memperkenalkan Alana secara formal sebagai calon istrinya dan berniat nikah muda.


"Bang Gilang, bang Gala, kenalkan ini Alana, calon istriku" ucap Gara percaya diri.


Mama reni yang sudah mengenal Alana merasa senang dan setuju akan pilihan anak bungsunya itu.


"Apa kalian sudah yakin mau menikah muda? setidaknya kamu selesaikan dulu kuliahmu" ucap Gilang, abang tertua di keluarganya.


"Aku yakin bang. Aku ingin melindungi dan selalu ada bersama Alana dan juga anak kami"


"Anak?" kali ini ketiganya memberi reaksi yang sama.


"Iya, ma, bang. Alana sudah pernah menikah sirih dan sudah punya anak" ucapnya menggenggam tangan Alana, mencoba memberi kekuatan pada Alana yang takut dan malu hingga menundukkan wajahnya.


"Alana sudah menikah? kapan Ga? bukan nya kalian satu kelas?" tanya mama Reni menatap Alana tajam.


"Kau masih muda Ga. Apa kau yakin bisa mencintai anak Alana seperti anakmu sendiri nantinya? pernikahan itu untuk selamanya, bukan hanya karena obsesi sesaat" Gala coba memberikan pandangan.


"Aku yakin bisa bang. Aku mencintai Alana tulus, jadi aku pasti bisa mencintai anaknya yang juga bagian dari diri Alana"


Semua keluarga diam. Jantung Alana berdetak kencang selama perdebatan keluarga itu. Dia merasa menjadi beban karena dirinya membuat keluarga ini bersitegang seperti ini.


"Mama, aku mohon restui kami" pinta Gara berlutut dihadapan mama Reni. "Sini Al.." ucapnya meminta Alana juga ikut berlutut didepan mama Reni.


Perasaan sayang dan kasih seorang ibu membuat mama Reni merestui mereka. Mama Reni mengangguk sembari tersenyum, menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya lalu mencium pipi dan juga kening Alana. "Selamat datang di keluarga ini, Al" ucap mama Reni tersenyum.


Sejak hari itu, Alana dan mama Reni semakin dekat. Walau Alana belum pernah berbicara dengan papa Galuh, tapi Alana sudah pernah dibawa mama Reni menemui pria itu ke kamarnya.

__ADS_1


Alana juga pergi ke rumah ayah dan ibu tirinya. Tapi reaksi mereka tampak tidak perduli. Kedua orang tuanya memang belum tahu perihal Arlan yang sudah bersama Alana lagi.


Informasi yang Santi terima dari Lily hanya sebatas Arun sudah bercerai dengan Alana. Semua itu Lily lakukan agar Alana tidak disakiti dan diteror lagi oleh Santi.


Kabar perpisahan Alana dan Arun tentu saja membuat Santi senang. Kini dia sudah bisa bernafas lega, tidak akan ada lagi yang mengancam keutuhan rumah tangga anaknya.


"Kau jangan coba-coba untuk pergi ke pernikahan putri haram mu itu. Aku tidak setuju" ucap Santi menarik tangan Bima untuk masuk kedalam sesaat setelah mendengar maksud kedatangan Gara dan Alana sore itu.


"Kenapa begit San? dia juga putriku. Aku yang harus menikahkannya"


"Berani kau pergi, silahkan kau angkat kaki selamanya dari rumah ini. Aku ga mau semua orang tahu kau punya anak haram!" umpat Santi.


Mau tidak mau Bima mengikuti kemauan istrinya. Kembali menghadapi tamu mereka dengan wajah sarat kesedihan.


"Ya kalau kalian mau nikah, terserah saja. Maaf kami ga bisa datang" ucap Santi dengan sini. Bima yang senang mendengar kabar itu pun sudah diancam Santi sebelumnya, agar menolak menikahkan Alana dan meminta mencari wali pengganti saja.


Dengan air mata Alana menerima semua perlakuan orang tuanya, dengan pamit penuh hormat.


***


Minggu ini begitu repot bagi Alana. Dia hanya punya waktu seminggu untuk melengkapi segala yang dia butuhkan untuk pernikahan dengan Gara. Dan jadwalnya hari ini mama Reni akan menemaninya ke butik langganan mama Reni.


Alana sudah menunggu sejak sejam lalu, tapi kabar dari mama Reni tak kunjung datang. Baru lah saat memutuskan untuk menghubungi calon mama mertuanya, mama Reni sudah menghubunginya lebih dulu.


"Mama ga bisa temani kamu fitting baju ya Al, keadaan papa memburuk" ucap mama Reni.


"Aku ke sana ya ma. Ga usah fitting hari ini" pinta Alana.

__ADS_1


"Ga usah Al. Lagi pula dokter membatasi pengunjung. Nanti aja kalau papa udah mendingan kamu kesini" Alan mengikuti kemauan mama Reni. Terpaksa Dita lah yang menemani Alana pergi untuk fitting kebaya. Dalam hatinya, Alana berharap papa Galih cepat sembuh agar bisa menghadiri pernikahan mereka.


__ADS_2