Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 20


__ADS_3

"Mau lu apa? Jangan pernah lu dekati Ayra lagi, atau gue habisi lu!" Bentak Kasa menarik kerah baji Roki.


Pria itu hanya tersenyum sini. Dia sudah bisa menebak kalau Kasa akan mencarinya di tempat tongkrongan mereka biasa balap liar. Gadis berpakaian minim yang saat ini duduk di pangkuannya terkejut dengan bentakan Kasa. Ciuman mereka terputus dan gadis itu sontak berdiri.


Seandainya tadi Kasa merekam apa yang baru saja dia lihat ini dan memberikannya pada Ayra sebagai bukti, gadis itu akan sadar siapa pria yang digilainya ini.


Perasaan Kasa saat ini begitu campur aduk. Di benaknya banyak pertanyaan yang dia timbulkan sendiri, tapi belum menemukan jawaban.


Sepanjang perjalanan pulang, Ayra memeluk erat pinggangnya. Dada Kasa bergetar hanya dengan merasakan pelukan Ayra. Tidak sampai disitu saja siksaan itu, saat Ayra menempelkan pipi ke punggungnya, tubuh Kasa memanas dan dadanya semakin bergemuruh. Tubuhnya merespon sentuhan Ayra dan dia menyadari bahwa itu bukan sentuhan gadis polos manja yang selama ini dianggapnya sebagai adik tapi sentuhan gadis dewasa yang sudah mencuri hatinya.


Gadis itu tertidur setelah sebelum merengek minta makan. "Kakak gue lapar, pengen makan pecel lele!"


Kasa mencari warung pecel lele di pinggir jalan, dan menemani gadis itu makan. Setelah kenyang, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan sisanya Ayra memilih tidur.


"Gue peringatkan lu, Rock, jangan mencobai gue. Lu tahu gue nekat. Kalau sampai lu masih mendekati Ayra, gue mampusin lu!"


Gelegar tawa Roki mengejutkan banyak orang sehingga memberi perhatian pada mereka. Beberapa dari mereka yang mengenal keduanya dan sudah terbiasa melihat keduanya adu jotos, kembali mengabaikan mereka.


"Sampai mati pun, gue gak akan melepaskan Ayra. Dia layak jadi mainan gue. Gue bisa bayangin sebesar apa dadanya, gue akan re*mas, gue mainin. Bayangkan dia merintih nikmat di bawah gue. Tunggu sampe gue puas, merusak dia, baru gue tinggalin, dan lu boleh ambil bekas gue!" jawab Roki kembali tertawa.


Tidak bisa. Kasa sudah diambang batas kesabarannya. Kalimat-kalimat kotor yang keluar dari bibir Roki saat membicarakan Ayra membuatnya sudah hilang kesabaran. Dikepal tinjunya dan segera menerjang Roki.


Secara membabi-buta Kasa memukul dan menghajar Kasa. Tidak sekalipun pria itu melawan. Kasa tahu, meski Roki pengecut dan bukan tandingannya yang pegang sabuk hitam, tapi setidaknya Roki pasti membalas pukulannya.


Terlambat! Kasa masuk dalam perangkap Roki. Saat kesadaran itu muncul, wajah Roki sudah babak belur. Kepalan tinjunya masih berada di udara yang akan diarahkan pada Roki tadi. Perlahan dia turunkan.


Kenapa dia bisa sebodoh ini? Kasa bangkit dari atas tubuh Roki yang dia duduki tadi. Kembali tawa Roki pecah.


"Harus nya lu mukul gue lagi, Kasa! Ini masih kurang, tapi bolehlah. Lu gali kuburan lu sendiri!" cibirnya kembali tertawa.

__ADS_1


Orang-orang yang tadi mencoba memisahkan mereka kini ikut heran atas kelakuan Roki yang hanya tertawa sejak tadi.


Langkah Kasa mundur. Dia datang mencari Roki tanpa membawa siapapun sebagai saksi. Hancurlah dia sekarang.


"Bajingan! Pengecut lu, bangsat!" makinya menendang drum yang dijadikan tempat api unggun.


"Harusnya lu sadar, gak zamannya lagi balas dendam pakai otot, sekarang harus pake otak. Lu pikir gue gak prediksi lu bakal datang nyari gue?" ejek Roki tertawa.


"Fad, bawa mari!" lanjutnya memanggil Fadli teman satu gengnya untuk maju ke tengah. Pria itu menyerahkan ponselnya yang tadi digunakan merekam. Penuh kemenangan, Roki mengarahkan layar ponsel ke arah Kasa, memperlihatkan rekaman dirinya menghajar Roki dengan penuh kesetanan.


"Mampus lu kali ini!" Cuih! Roki buang ludah dan berlalu pergi dari sana. Dia berjalan santai karena yakin Kasa tidak akan mengejarnya. Pria itu sudah cukup pusing memikirkan apa yang harus dia katakan pada Ayra.


Malam itu, Kasa benar-benar bingung. Perasaannya berkecamuk campur aduk. Marah, bingung, takut, bahkan hampir gila. Dia pulang ke basecamp meski sudah pukul satu pagi, tapi rumah itu kosong.


Kasa memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan dia memikirkan jawaban serta sikapnya nanti saat Ayra merongrongnya dengan pertanyaan. Dia juga harus siap kalau gadis itu semakin membencinya.


***


Ayra memutuskan untuk datang ke rumah Kasa dengan memboyong amarahnya. Padahal dia menunggu hari ini datang. Malam Minggu nanti, dia akan pergi jalan dengan Roki dan pria itu janji untuk menjemput ke rumahnya sekalian bertemu orang tua Ayra. Namun, kegembiraan Ayra buyar kala Roki menyampaikan padanya bahwa rencana mereka dibatalkan.


"Aku minta maaf, Sayang. Kayaknya kita gak bisa pergi. Aku lagi sakit."


"Sakit? Kak Roki sakit apa? Aku kesana, ya?" sambar Ayra. Ada yang aneh, padahal saat bertemu terakhir kali kemarin, Roki baik-baik saja. Apa mungkin demam?


"Gak usah, Ay. Aku gak mau kamu melihat keadaanku yang seperti ini. Aku malu."


Rasa penasaran Ayra semakin memuncak. Apa yang coba disembunyikan Roki? Atau benar tembakannya, karena ulah Kasa yang sudah mempermalukan Roki di mal waktu itu, pria itu jadi menghindarinya? Memilih menjauh dari Ayra? Oh, kalau sampai hal itu terjadi, Ayra agak akan sanggup menerimanya.


"Kok, gak usah, sih? Apa yang Kakak sembunyikan sebenarnya dariku? Apa ini alasan Kakak aja buat menghindari aku? Kakak mau putus dariku?"

__ADS_1


Ini momen yang ditunggu Roki. Kalau Ayra mendesak ingin tahu, baru lah dia akan menunjukkan buktinya.


Roki menyudahi panggilan telepon. Ayra semakin kalut, tapi belum sempat menelpon balik, justru Roki kini melakukan panggilan video.


"Astaga, kenapa wajah Kakak jadi begitu? Kakak kenapa?" jerit Ayra histeris.


"Aku dipukuli seseorang. Aku bisa aja melawan balik, tapi aku ingat kamu, Ay. Aku sudah janji mau baikan sama mereka demi kamu, tapi mereka gak terima. Dia ngancam aku dan pukuli aku semalam," terang Roki sesekali dia akan membuat mimik wajah kesakitan agar sandiwaranya lebih natural.


"Kakak bilang sama aku, siapa orang yang sudah mukulin Kakak," desak Ayra ikutan marah.


"Gak usah, Ay. Aku gak mau kamu jadi ribut sama dia."


"Kak Roki!"


"Oke, kalau kamu maksa. Aku akan kirim rekamannya."


Ayra meremas sisi roknya kala menonton video singkat itu. Membabi-buta Kasa menghajar Roki tanpa adanya perlawanan dari pria itu.


Tidak menunggu lama, Ayra segera pergi mencari Kasa demi meminta pertanggung jawaban pria itu. Dia tebak, Kasa pasti masih di rumah jam segini, apalagi saat ini weekend.


"Bagun aku bilang!" Ayra menarik tangan Kasa sekuat yang dia mampu hingga kepala pria itu terjatuh ke lantai.


"Aduh! Apa-apaan, sih, lu, Ay! Gue masih ngantuk!"


"Dasar pria pengecut! Kenapa, sih, Kak Kasa jahat banget? Kenapa mukulin pacar aku sampai babak belur begitu?" Teriaknya lantang, tidak peduli jika Dita dan Kaisar dengar. Syukurlah kedua orang itu sedang keluar, jadi Ayra bebas buat menjerit.


"Oh, ini soal si bangsat itu?"


"Namanya Roki, dan dia pacar aku, Kak!"

__ADS_1


"Gue udah bilang, gue gak setuju lu sama dia. Lu gak bisa pacaran sama si brengsek itu! Dia cuma manfaatin lu, doang!"


"Itu bukan urusan Kakak! Aku minta Kakak jangan lagi ikut campur urusanku. Mulai sekarang, aku gak mau lihat Kakak lagi. Aku benci!"


__ADS_2