
Sekuat tenaga Alana memandang Arun dengan air mata yang sudah di pelupuk matanya.Dia tidak sudi menangis didepan pria itu. Dengan rasa sakit dan perasaan yang hancur, Alana menarik paksa tangannya agar Arun melepaskan pegangannya.
Kobaran bara jelas terlihat oleh Arun di mata Alana. Keduanya saling menatap. Arun hanyut dalam arus tatapan itu, hingga hatinya menuntun dirinya untuk berbuat lebih lagi, menyesap rasa sakit yang sempat dia torehkan pada gadis itu. Arun menangkup wajah Alana, mencium bibir gadis itu paksa. ******* hingga rasa sakit yang sempat dia berikan ingin dia ambil lagi. Ciuman itu bentuk penyesalan nya sekaligus rasa tidak sukanya karena Alana bersama pria lain.
Alana merasa sesak, tubuhnya semakin di kungkung menyatu dengan tubuh Arun. Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini jatuh dua butir di pipi, dia merasa terhina atas apa yang saat ini dilakukan Arun padanya. Kepalanya berputar, mencari cara melepaskan diri dari monster gila bernama Arun.
Penuh pertimbangan, Alana memutuskan menggigit bibir pria itu, hingga sampai mengaduh kesakitan. Lalu sigap mendorong tubuh Arun dan segera pergi dari sana.
Alam sedang tidak mendukung Alana. Seolah penderitaannya belum cukup, saat membuka pintu tangga darurat itu, Santi yang baru keluar dari toilet bertemu pandang dengannya. Menatap heran melihat raut wajah Alana yang tampak kacau. Buru-buru Alana membenahi rambut dan pakaian nya yang sudah tidak karuan. "Bu..." sapa nya.
Santi bahkan belum sempat menjawab sapaan Alana, Arun keluar dari pintu itu, hanya mengangguk lemah pada mertuanya.
"Ibu.."
"Oh..iya Run. Lily mencari mu" ucap Santi yang merasa salah tingkah karena sudah memergoki keduanya berduaan di dalam sana.
"Aku ke Lily dulu" ucapnya pada Santi, lalu sekilas melirik Alana sebelum melangkah.
Raut wajah Santi berubah seiring punggung Arun yang menjauh. Dia sempat melihat bibir Arun yang tampak berdarah. Belum lagi pakaian Arun yang juga tampak acak-acakan. Santi jelas tahu penyebabnya.
"Sini kau" geram nya menarik tangan Alana paksa. Mendorong Alana ke ruangan tempat Arun menemukan Alana tadi.
"Kau memang gadis ga tahu diri. Kau sampah. Tega-teganya kau berbuat seperti itu pada suami kakakmu, di belakangnya?" salak Santi hampir menjerit.
__ADS_1
"Bu..aku.."
"Diam. Darah itu memang kental ya. Kau mewarisi sifat ibu mu yang gatal, perebut suami orang. Aku ingin sekali membunuh mu, Alana. Kau iblis, kau ular. Kau sampah...bukan sampah lebih berharga dari mu" maki Santi penuh emosi.
"Aku tidak.."
"Diam!!" raung Santi menjambak rambut Alana, menghempaskan gadis itu ke rumput Jepang didasar kaki mereka. Alana berlutut, rambutnya terasa terlepas dari kulit kepalanya. Air mata yang sejak tadi dia tahan, semakin deras turun tanpa suara dari bibirnya.
"Apa kau kira ibu tidak bisa lihat kalian baru ngapain? jangan kira kau bisa merebut suami anakku. Tidak akan ku izinkan kau menghancurkan rumah tangga Lily, seperti ibumu menghancurkan rumah tanggaku" umpatnya dengan emosi semakin membara.
"Ibu..jangan begitu.." Alana berlutut. Apa pun bisa dia terima segala penghinaan tapi kalau Santi sudah membawa-bawa masa lalu ibunya, entah mengapa Alana tidak akan sanggup mendengar. Dia pun ikut mengutuk perbuatan ibunya. Tapi hatinya juga mengatakan ini bukanlah salah ibunya seratus persen.
"Tugasmu hanya mengandung anak sialan mu itu, lalu serahkan pada Lily, dan setelah itu, segeralah kau mati!! menghilang dari hadapanku" ucapnya penuh penekanan, meludahi wajah Alana yang menatapnya, lalu pergi dari sana.
Alana menangis tertahan. Sakit, hati nya hancur. Dia enggan untuk bangkit. Biar dia puaskan tangisnya di sini. Sementara di sudut tembok dibelakangnya, berdiri seseorang yang sejak tadi mendengarkan semuanya dalam kegelapan malam.
"Al.." suara pria itu tercekat. Dia bisa memahami sakitnya hati Alana kini. Semuanya.
"Aku membenci mu bang. Aku membenci kalian semua" isaknya pilu. Memukul-mukul dada Arun yang memeluknya erat.
Arun memang pergi hendak mencari Lily seperti perkataan mertuanya. Tapi entah mengapa hatinya tidak tenang meninggalkan Alana, terlebih tatapan membunuh Santi sempat dia lihat ke arah Alana.
Penuh khawatir, Arun kembali ke depan pintu darurat, tapi Alana tidak ada di sana, lalu Arun memutuskan untuk mencari. Beruntung Arun sempat melihat gaun Santi, hingga memutuskan mengikuti mereka. Didepan pintu kaca yang sudah dia buka sedikit itu, Arun mendengar semua caci maki Santi pada Alana.
__ADS_1
Panas dan tentunya saja tidak terima Alana di perlakukan begitu. Tapi Arun tidak maju karena jika saat itu dia menentang mertuanya, ada Lily yang akan ikut tersakiti. Jadi dia memilih untuk diam ditempatnya dan berjanji akan membuat perhitungan pada Santi.
Bahkan perkataan Santi yang menyebutkan anaknya yang sedang dikandung Alana sebagai anak sialan membuta darahnya mendidih. Arun tahu kalau Alana anak tiri, tapi yang tidak Arun tahu adalah dasar kebencian Santi dan keluarganya pada Alana. Kini dia menyesali semua tindakan buruknya selama ini. Arun ingat, dia juga pernah berkata kasar pada Alana, karena gagal menikahi Lily kala itu.
"Jangan nangis lagi, Al" ucap Arun menghapus jejak air mata yang bercucuran di pipi gadis itu. Melihat kesedihan Alana, sempat terpikir untuk masuk ke ruangan pesta itu dan menyeret ibu mertuanya kesini. Meminta wanita sialan itu meminta maaf pada Alana karena sudah bersikap begitu kasar. Kalau perlu, Arun juga ingin meludahi wajah mertuanya seperti yang wanita itu lakukan pada Alana.
"Aku membencimu. Aku benci kalian semua. Kalian jahat" ucapnya terbata disela isakannya.
"Iya. Kami jahat. Aku minta maaf Al"
"Lepas.." ucap Alana mendorong tubuh Arun dan segera berdiri.
"Mulai saat ini, jangan pernah mendekatiku lagi. Aku akan menjalankan tugasku. Melahirkan anak untuk mu dan juga kak Lily, setelahnya aku akan pergi. Aku minta kau jaga batasanmu bang. Aku tidak akan mentolerir lagi jika kau menyentuh ku. Aku benci, aku jijik padamu"
Alana sudah bermaksud melangkah pergi dari sana, tapi tangan Arun menangkap pergelangan tangannya.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa melepas mu lagi? bagiamana kalau aku tidak bisa menjauh darimu?" Arun mengatakan kata hatinya. Dengan tertunduk membelakangi Alana yang sudah berdiri.
"Maka itu bukan urusanku. Kau menikahi ku hanya untuk mendapatkan anak ini. Aku hanya alat bagi kalian. Jadi jangan meminta lebih dari ini, atau aku akan mati!" Arun bangkit. Dia ingin menarik Alana kepelukannya, namun sigap Alana mundur.
"Jangan pernah sentuh aku lagi!!"
**Nyesek ya gengs hidup Alana. Benci gw lihat si Arun kampret..😂😅
__ADS_1
Btw, nunggu Eike up lagi, kuy kepoin novel Mak gw yang super keren dan udah pemes.. kamsamida 🙏😘