
"Mama jangan pergi...aku mohon jangan pergi!" isak seorang bocah berusia 9 tahun. Memegangi kaki seorang wanita yang sejak tadi di bujuknya jangan pergi. Tapi wanita itu bergeming. Sedikitpun tidak melirik kearahnya.
"Lepaskan kaki mama. Kau di sini saja bersama papamu. Mama mau pergi jauh"
"Kenapa mama ninggalin aku? aku salah apa ma? aku janji akan jadi anak baik, aku janji ga bakal bantah apapun mama bilang. Jangan pergi ma" rengekan itu terus saja berkumandang di ruangan itu.
"Lepaskan. Kau adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku benci pada kalian semua!" jerit wanita itu menatap tajam kearah pria berkursi roda, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Anak kecil itu mengejar, memohon untuk tetap tinggal tapi nyatanya wanita yang tidak punya perasaan itu tetap memilih untuk pergi. Bocah itu menyusul menahan pintu mobil agar tidak tertutup, namun kekuatan anak kecil itu tidak imbang dengan pria yang ada di sebelah wanita yang dipanggil mama olehnya.
Pegangan terlepas, dan mobil pun melaju. "Mama..." teriak si bocah mengejar. "Mama...jangan pergi ma, mama...mama..."
Kai tersentak, seketika bangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang kerap kali mendatangi tidurnya selama 23 tahun ini. Mimpi yang sangat dia benci. Dia benci jika harus mengingat wanita itu. Wanita yang membuatnya tidak percaya pada wanita manapun, bahkan membuatnya membenci yang namanya pernikahan.
Udara dingin malam itu menyapanya. Pintu balkon kamarnya terbuka, membuat udara malam masuk menyapanya. Penuh geram, dia kepal tinjunya, dilayangkan pada dinding balkon.
Kebencian pada wanita itu sudah membentuk karakter Kai menjadi pria kasar, yang tidak mempercayai makhluk yang bernama wanita. Selain neneknya tidak ada wanita yang patut mendapat rasa hormat dan juga kepercayaannya. Bagi Kai, mereka hanya tempat melampiaskan nafsu dan amarah. Itu lah sebabnya Kai menjadi Casanova sejak menginjak bangku kuliah.
Baginya wanita hanya untuk tempat bersenang-senang. Cara berc*nta Kai juga bukan hal yang lumrah, dia suka bermain kasar, cenderung menyiksa. Jika wanita itu sudah merasa kesakitan, dan memohon ampun padanya, barulah dia akan merasa lega.
Kai jadi sosok pria brutal, yang melampiaskan amarahnya pada wanita di tempat tidur. Lantas, masih bisakah dia menerima satu wanita menjadi pasangan hidupnya? dia benci seorang istri, benci pada sebutan seorang ibu!
Sebenarnya yang tidak mau diakui, jika berkomitmen menikahi seorang wanita, dia takut kalau suatu hari apa yang menimpanya akan menimpa anaknya. Dia dan juga anaknya di tinggalkan oleh istrinya, luka yang dulu pernah dia alami tidak ingin dialami anaknya di kemudian hari.
"Gue pengecut...yah..gue takut apa yang menimpa anak itu akan terjadi seperti yang dulu gue alami!" gumamnya pada angin malam.
***
Sarapan pagi dikediaman Setyawan terasa tegang. Padahal Hari itu Rudi sudah terlihat fit. Pagi-pagi sudah bangun menyempatkan diri untuk berolahraga ringan.
__ADS_1
"Apa disini adalah pekuburan?" suara Rudi yang tiba-tiba mengejutkan kedua wanita di sayap kiri dan kanannya. Keduanya spontan saling melirik satu sama lain.
Tidak ada jawaban, Rudi meletakkan sendok nya di atas piring. Sarapannya yang tersisa sedikit lagi, tidak berniat dia habiskan.
"Kemari kalian berdua!" perintahnya meninggalkan meja makan. Kedua wanita yang baru saja menerima perintah itu saling bersitatap tegang.
"Masih belum bergerak?" kembali terdengar hardikan dari ruang tengah. Buru-buru keduanya bergerak menuju tempat kepala suku yang bersiap mengintrogasi.
"Duduk!" keduanya menurut. Dita begitu tegang, detak jantungnya sudah tidak karuan.
"Apa ada yang ingin kalian katakan?" tanya Rudi santai, mengunci tatapan pada kedua wanita itu. Tidak ada sahutan, keduanya masih bingung harus menjawab apa.
"Mami?!" sontak Mita mendongak, menatap wajah penuh tanya dari Rudi.
"A-pa, pi?"
"Itu..itu.." kalimat Mita menggantung di udara. Bingung harus memulai dari mana, tapi kalau tidak dikatakan juga tidak benar. Perut Dita semakin lama akan semakin membesar.
"Aku hamil, pi"
Mita hampir saja dapat serangan jantung mendengar pernyataan Dita yang tanpa menunggu aba-aba dulu. Sisi gaunnya dia remas sekuat tenaga. Sementara wajah Rudi datar tanpa ekspresi, hatinya sudah diremas dengan mendengar hal itu.
"Pi...itu anak kita lagi ngomong" ucap Mita takut-takut. Dia ingin mengetahui keputusan suaminya. Semakin lama Rudi diam, semakin lama dia tersiksa menunggu. Menahan nafas hingga suaminya mau buka suara.
"Siapa lelaki bajingan itu?" akhirnya Mita bisa bernafas. Kalau sudah mengeluarkan ekspresi dan nada suara seperti asing begitu, tandanya Rudi sudah dalam batas kesabaran yang paling bawah.
"Aku ga tahu, pi."
"Apa kau gila, Ta? sebegitu bablas nya pergaulan mu, hingga tidak tahu siapa ayah dari anak yang kau kandung?" amarah Rudi mulai nyata. Dia tidak bisa menahan bahkan untuk sepenuhnya saja.
__ADS_1
"Papi kok jelek banget pikirannya sama aku" salak Dita terluka. Dia bisa memahami makna kalimat ayahnya. Dia bukan wanita seperti yang dipikirkan papinya. Dia tidak berganti-ganti pasangan hingga tidak tahu siapa ayah dari anaknya. Dia bahkan tidak punya kekasih!
"Wajar papi ngomong begitu. Buktinya kamu hamil, tapi ga tahu siapa yang menghamili?" Dita terdiam. Ucapan Rudi masuk akal. Hanya orang bodoh yang tidak tahu, siapa yang menghamili dirinya, dan Dita termasuk golongan itu!
"Katakan Dita, terbuka lah sayang. Gimana sebenarnya kejadiannya? biar papi sama mami tahu bertindak" ucap Mita membelai rambut Dita.
"Dita malu, mi"
"Udah hamil gini masih malu kamu? kalau hanya menceritakan aja kamu malu, lantas papi dan mami yang menerima kejadian seperti ini apa ga malu sama tetangga? sama semua teman-teman mami dan papi?" hardik Rudi mendengus.
"Ya udah, kalau papi dan mami malu punya anak kayak aku, coret aja aku dari kartu keluarga. Aku akan pergi, aku akan membesarkan anakku seorang diri" ucap Dita mulai menangis. Dia benci dirinya, yang belakangan ini semakin cengeng. Kalau ada hal yang tidak pas dihatinya, pasti gadis itu akan menangis.
"Kamu selalu begitu. Kapan sih dewasanya? sebentar lagi bakal jadi ibu! Kalau dinasehati, ya didengarkan" balas Rudi membuang muka. Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan seorang ayah kalau tidak pasang badan untuk melindungi putrinya.
"Pernah kah kau menyayangi papi dan mami? adakah artinya kami dalam hidupmu, Ta?" ucap Rudi lirih. Suasana senyap, yang terdengar hanya isak tangis Mita dan juga Dita.
Semenit..lima menit berlalu.. ketiga nya masih menyimpan perkataan dalam pikiran masing-masing.
"Aku sangat menyayangi papi dan mami, dan aku sadar kalau aku sudah banyak mengecewakan papi dan mami. Aku minta maaf, pi" Dita sudah duduk di dekat kaki Rudi sujud memohon maaf atas kesalahannya yang mencoreng nama baik keluarga.
"Papi juga sayang sama kamu. Papi tidak mungkin membuang mu. Itu lah kasih orang tua, Ta. Bagaimana pun kesalahan, bagaimanapun kesusahan yang menimpa anaknya, orang tua akan selalu ada. Papi dan mami akan selalu berada bersamamu, kita akan menghadapi masalah ini bersama" ucap Rudi membelai rambut Dita lembut.
"Makasih, papi" ucapnya bangkit memeluk Rudi. Mita tak ingin ketinggalan, ikut berpelukan dengan kedua orang yang paling dia sayangi itu.
***
Hai..aku datang bawa novel keren lainnya, mampir siapa tau suka. makasih
__ADS_1