Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Memaafkan


__ADS_3

Jangan salahkan pria yang sedang jatuh cinta, sekelas CEO, lulusan luar negeri, bahkan orang paling dimintai kaum hawa pada saat ini, pasti akan melakukan hal bodoh. Akal seolah tumpul, tidak terpakai. Isi hati hanya ingin tetap mendapatkan pujaan hatinya.


Itu yang saat ini tengah dilakukan Kaisar Barrel. Pria yang dulu memiliki citra buruk, yang tidak perduli pada siapapun, dan hanya memikirkan dirinya sendiri, kini merana, meratap nasibnya di bawah derai hujan.


Pintu rumah mewah itu sudah tertutup baginya, mungkin begitu juga dengan hati orang yang ada di dalamnya.


Tapi dia memang salah. Biarlah air hujan ini bisa menyadarkan dirinya betapa pengecutnya dia dulu. Rasa dingin yang membelenggu tubuhnya, tidak membuat niatnya beranjak setapak pun dari tempatnya.


Langit seolah mengejeknya, menurunkan hujan yang semakin deras menyirami tubuhnya di depan rumah itu.


***


"Ta, Kai masih di sana loh. Nanti dia sakit lagi, Ta," ucap Mita memancing reaksi anaknya.


"Bodo! biar aja, Mi. Dasar brengsek! Jadi dia ngajak aku nikah karena menyesal udah perkaos aku, bukan cinta sama aku, Mi" dengan kasar Dita menghapus air matanya.


"Jangan begitu, banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan, Ta. Pertama, dia itu ayah dari anakmu, bagaimanapun, Kasa akan butuh orang tuanya yang lengkap. Kedua, kamu mencintainya. Mami belum pernah melihatmu sangat mencintai seseorang seperti ini. Mami sarankan, coba bicara dulu padanya, setelahnya baru putuskan, apakah ingin lanjut bersamanya, atau menjauhinya," terang Mita membelai rambut panjang Dita.


Untuk sesaat Dita diam. Memikirkan apa yang dikatakan ibunya. Tidak dapat dipungkiri kalau dirinya sangat mencintai Kai, tapi dia juga benci atas apa yang sudah dilakukan pria itu padanya.


Tunggu dulu, sesaat Dita berpikir keras. Kejadian malam itu bukan 100 persen kesalahan Kai seorang. Dia ingat, malam itu dia begitu banyak minum, dan sangat mabuk. Namun sebelum berada di kamar, ingatan terakhir yang dia ingat adalah seseorang berbicara padanya, tapi dia yakin bukan Kai orangnya.


"Ta, Kai mungkin salah, tapi melihat niatnya yang ingin memperbaiki keadaan, harusnya bisa meluluhkan hatimu. Pria berkuasa seperti dia, bisa saja tidak perduli, tidak usah bertanggung jawab. Toh, saat itu kamu juga ga tahu kalau dia lah yang sudah merenggut kehormatan mu malam itu"


Lagi-lagi terasa benar apa yang sudah disampaikan maminya.


"Mami hanya berharap, semoga kamu ga nyesal kalau nanti Kai akhirnya pergi, karena sikap penolakan kamu"


Selesai mendengar kalimat Mita, Dita segera berlari, tepat saat bunyi guntur yang memekakkan telinga.


Rasa khawatirnya yang besar menunjukkan kalau dia memang tidak bisa mengabaikan pria itu. "Mau kemana?" hardik Rudi saat Dita setelah berlari melintas di ruang tamu.


"Aku mau minta Kai masuk"

__ADS_1


"Loh, ga bisa dong. Kamu kenapa jadi berubah pikiran sih?" Rudi seakan tidak percaya, Dita bisa mengubah keputusannya.


"Aku cinta sama dia, Pi. Aku ga mau dia kena sambar petir, nanti dia mati" genangan air mata Dita yang menjadi kelemahan Rudi, membuat pria awal 50-an itu hanya bisa melepas putrinya dengan helaan nafas berat.


Saat hendak melewati pos satpam, Dita melihat payung berwarna merah tergantung di sudut ruangan itu. Segera diambil, dan bergegas keluar.


"Non, mau kemana? hujannya deras banget, Non," ucap Tarjo namun tidak diindahkan oleh Dita.


Pria itu masih di sana, berdiri dengan tegak dibawah siraman hujan. Seolah air yang jatuh dari langit itu bisa menyucikan dosanya. Tetap bertahan, hingga doanya terkabul.


Ternyata sang Pencipta masih berbaik hati padanya, doa dan penyesalannya di dengarkan sekaligus dikabulkan.


"Dasar bego, ga lihat hujan sederas itu, tapi lo masih berdiri disini? kalau mau mati, jangan di depan rumah orang, dong," hardiknya memayungi Kai.


Perlahan, pria itu mendongak. Menatap wajah gadis yang sangat dia cintai itu. "Ta, maafkan aku"


Bruk!


Hal wajar kalau saat ini Kai jatuh pingsan. Tubuhnya masih lemah, atas penyiksaan Amanda tempo hari, belum pulih benar, sudah harus di rendam guyuran air hujan kurang dari satu jam.


"Pak Tarjo, cepetan bantu aku" kembali teriakan Dita bersahutan dengan suara air hujan.


Beruntung, teriakan Dita yang kedua dapat di dengar Tarjo, hingga mereka bisa membawa tubuh pria besar itu ke dalam rumah.


"Eh, kok dibawa masuk ke rumah, papi? jelas-jelas papi ga suka sama pria brengsek ini," ujar Rudi melihat keadaan Kai yang kini sudah dibaringkan di sofa ruang tamu.


"Papi apa-apaan sih, udah tahu Kai pingsan," jawab Dita mendelik kesal.


"Papi ga perduli, pokoknya dia ga boleh masuk dalam rumah ini"


"Sorry, Pi. Sebaiknya papi biasakan mulai sekarang, karena ga lama lagi, dia jadi anggota baru keluarga kita," sahut Dita menatap Rudi, dengan kedua alis terangkat.


Mita yang sudah sejak tadi ada di sana, menunggu kelanjutan kisah Romeo dan Juliet versi anaknya, mengulum senyum melihat suaminya tak berkutik dibawah tekanan Dita.

__ADS_1


"Bawa masuk, Ta. Biar diganti pakaiannya" kali ini Mita yang buka suara.


"Tapi mau pakai punya siapa, Mi?"


Mita melihat kearah Rudi, begitu pun Dita. Kedua pasang mata itu punya tujuan yang sama.


"Ga, papi ga akan pinjami pakaian papi. Enak aja"


"Ya udah, ga usah, Mi. Biarkan aja Kai pakai pakaian basah. Suatu hari, aku akan cerita sama Kasa, kalau opa nya kejam, buat papanya sakit"


"Loh, kok bawa-bawa, Kasa?"


"Bodo, papi pelit sih"


"Terserah deh. Ambil yang mana aja yang kalian suka"


Cup..


Satu kecupan mendarat di pipi Rudi dari Dita. "Papi yang terbaik," ujarnya tersenyum.


Tarjo lah yang membantu menggantikan pakaian Kai. Kini dibantu Mita, Dita mengoles kan minyak di tangan dan juga telapak kaki Kai, biar hangat. Sedotan aroma minyak yang berhasil dicium pria itu, membuatnya kembali sadar.


"Dita..," panggilnya begitu membuka mata. Spontan bangkit, dan memeluk tubuh gadis itu. Dia ingin memastikan ini bukan mimpi. Namun kalau pun ini mimpi, maka biarkan berhenti di saat itu saja.


Ehem...Rudi memberi instruksi kalau tidak mereka berdua saja yang ada di ruangan itu. Kai segera melepas pelukannya, melihat sekeliling, ada kedua orang tua Dita, dan juga satpam beserta seorang pelayan yang sedang berdiri dengan nampan ditangan.


"Om, Tante..," sapa nya kikuk.


"Minum rebusan air jahe itu, dan segera pergi dari sini!"


***


Hai para kesayangan, maaf baru muncul. Sisa satu episode lagi ya, novel ini akan berakhir. Terimakasih atas dukungan kalian semua. Salam sayang, salam sehatπŸ™πŸ˜˜πŸ˜₯πŸ˜₯

__ADS_1


__ADS_2