Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Berkunjung


__ADS_3

"Al..gue balik sama papi ya. Makasih udah selalu ada buat gue" ucap Dita memeluk erat Alana diambang pintu.


Perdebatan ayah dan anak itu berakhir damai. Rudi Setyawan memilih mengalah dan memaafkan semua kesalahan putri semata wayangnya.


Ancaman Dita yang meminta mencoret namanya dari kartu keluarga ternyata ampuh menyentuh perasaan terdalam seorang ayah.


"Bagaimana bisa papi membuang mu, Ta? Papi juga salah karena memaksa kamu kuliah di luar negeri. Kalau ga, pasti pertengkaran itu tidak akan terjadi, dan kamu tidak akan pergi ke club itu" sesal Rudi mengingat kejadian malam itu.


Tapi nasi sudah jadi bubur, yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Keberadaan Dita bersama mereka jauh lebih penting. Biarlah kesalahan itu menjadi pembelajaran tak hanya buat Dita tapi juga buat orang tuanya.


"Hati-hati di jalan ya. Jadi anak baik, jangan minggat lagi" celetuk Alana menggoda Dita.


"Paling kalau kabur gue larinya ke tempat lo" balasnya tertawa.


"Al, makasih udah baik sama Dita dan juga jaga anak nakal ini" ucap Rudi mengingat bantuan Alana yang sudah memberikan nasehat pada Dita hingga gadis itu mau ikut pulang.


Alana menghantar kepergian mereka dengan kesedihan dalam hati. Dia teringat orang tuanya, terlebih ayahnya. Kasih Rudi pada Dita sangat besar, Alana memang punya ayah, tapi dia sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang seperti itu.


Ada dorongan besar dalam hatinya untuk berkunjung ke sana. Sejak kepergian Lily, mereka tidak pernah lagi bertemu.


***


Alana masih berdiri di depan rumah itu, menatap tempat yang selama 12 tahun menjadi tempat dirinya tinggal. Rumah itu membawa dirinya kembali masuk dalam muara kenangan, saat suka bersama Lily atau pun kala duka yang diberikan ibu tirinya padanya.


Alana ingat, saat penyiksaan itu berlangsung setiap hari, hingga tahun berganti tahun, dan menjadi hal biasa yang dihadapi Alana sepanjang hidupnya di rumah itu.


Mengingat masa itu, membuat hatinya kembali merasakan pedih, lalu kenangan Lily muncul. Alana ingat setiap detail kenangan indahnya bersama kakak yang paling dia sayangi itu.


Ah..rindu itu menyapa lagi. Baru seminggu lalu Alana datang mengunjungi makam Lily. Sekali lagi dilayangkannya tatapan kearah dalam rumah. Diremasnya tali tote bag yang sejak tadi dipegangnya. Sepenuh hati membawakan banyak kue dan jenis roti kering yang dia buat di toko tadi. Dia masih ragu untuk masuk ke dalam rumah. Takut kedatangannya tidak diinginkan oleh orang tuanya. Ingin putar arah tapi dia ingin bertemu ayahnya.


"Al.." suara yang memanggil namanya membuat Alana mendongak, menatap kearah si pemilik suara itu.

__ADS_1


"I-bu.."


"Kenapa kau berdiri saja di sana? Apa kau tidak ingin masuk?" suara lembut yang tidak pernah di dengar Alana selama tinggal bersama Santi, kini wanita itu perdengarkan pada Alana. Bentuk nyata suara seorang ibu pada anaknya.


"Iya bu" suara Alana bergetar. Ada perasaan hangat di dalam hatinya hingga tidak sadar satu bulir bening turun di pipinya.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Santi mendekat, mengulurkan tangannya untuk diraih Alana.


"Ga papa bu"


Langkah Alana untuk datang ke rumah itu ternyata tepat. Bima sedang berbaring sakit di kamarnya. Pria itu tampak menyedihkan, wajahnya tampak kusut dan rasanya semakin tua.


Santi menarik Alana untuk maju lebih dekat lagi. "Ayah, ini ada Alana datang" bisik Santi di dekat telinga Bima hingga membuat pria itu terbangun. Susah payah Bima duduk bersandar pada head bord tempat tidur.


"Al..kau kemari" ucapnya melayangkan pandangan pada Alana.


"Ayah sakit apa?" Alana mendekat dan duduk di tepi ranjang.


Alana tidak perlu terkejut atas perubahan sikap kedua orang tuanya pada dirinya saat ini. Mengingat pesan terakhir Lily yang meminta mereka untuk akur dan saling menjaga cukup menyadarkan kedua orang tua itu. Tak sampai di situ, kehilangan Lily menjadikan pasutri menyadari kesalahan mereka selama ini. Kini mereka hanya punya Alana yang menjadi anak.


Awalnya Santi ragu, apa Alana mau memaafkan dirinya, dan menganggapnya ibu. Santi cukup tahu diri, kalau Alana tidak mau menganggap mereka lagi, dan ingin putus hubungan dengan mereka.


Tidak punya memiliki anak mungkin hukuman yang tepat untuk Santi, setidaknya itulah pemikirannya. Tapi kedatangan Alana seolah membuat doa penyesalan dan permohonan maafnya bisa diterima Tuhan.


"Ibu, ayah kenapa? sakit apa bu? kenapa ga mengabari aku?"


Santi ikut duduk di samping Alana, menggenggam tangan gadis itu. "Kami pikir kau ga mau menganggap kami keluargamu lagi. Kalaupun kau bersikap begitu, kami paham, karena selama ini sudah banyak berbuat salah padamu"


Ibu bicara apa. Selamanya kalian adalah orang tuaku. Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi. Kalian adalah orang tuaku, selamanya aku adalah putri kalian"


Keduanya saling berpelukan, meluapkan rasa haru di hati masing-masing. Bima pun tak kuasa menahan air mata melihat momen haru itu.

__ADS_1


"Ayah ibu, bulan depan aku akan menikah dengan bang Arun" ucap Alana pelan, takut kalau orang tuanya akan marah dan berpikir kalau dirinya terlalu cepat menikahi mantan suami Lily, walaupun itu atas permintaan Lily.


"Itu bagus Al. Kasihan Arlan harus tinggal terpisah dengan papanya" sahut Santi tulus.


Merasa kedua orang tuanya tidak menunjukkan keberatan atau rasa tidak suka, hati Alana merasa lega.


"Ayah dan ibu mau kan hadir menemaniku di hari bahagiaku?" tanya Alana memberanikan diri memegang tangan ayahnya.


"Tentu saja kami akan datang. Kau putri kami, bukankah seharusnya kami memang hadir?, iya kan bu?" ucap Bima yang dengan cepat diangguk Santi.


***


Perasaan Alana begitu cerah sepulang dari rumah orang tuanya. Hidupnya terasa lengkap dengan orang tua yang menerimanya.


Sebelum memasuki rumah, Alana menengadahkan kepalanya ke atas langit. "Terimakasih ya Allah, untuk semua keajaiban dan anugerahmu dalam hidupku"


"Hei, sedang lihat apa di langit?" suara pria yang sudah mencuri hatinya itu menarik perhatian Alana.


"Abang udah pulang?" Alana penuh semangat berjalan kearah Arun yang sudah berdiri diambang pintu dengan menggendong Arun menyambutnya pulang.


"Udah dari tadi siang. Tapi mamanya Arlan justru ga ada di rumah, padahal udah kangen banget pengen peluk" gumam Arun yang berhasil membuat rona di pipi Alana.


"Arlan, bilang sama papa, mama juga kangen banget. Tadi pergi ke rumah nenek Santi, kakek Bima lagi sakit" ucap Alana memainkan pipi Arlan yang buat anak itu memberikan jarinya pada Alana pertanda minta digendong.


"Sakit apa Al?"


"Ga mau kasih tau. Katanya cuma kecapean, ga enak badan. Tapi ayah udah janji, kalau ada apa-apa akan ngabarin aku"


"Apa ada hal lain? kau tampak gembira?" Arun mengelus pipi Alana yang begitu halus.


"Aku sangat gembira bang. Ayah dan ibu begitu senang akan kedatanganku. Kini mereka sudah menerima keberadaan ku, menerimaku sebagai anaknya" gumam Alana penuh haru hingga air mata menetes di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2