Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 45


__ADS_3

"Dokter," panggilan perawat menyadarkan Sania, memutus kontak dengan pasien yang saat ini ada di hadapannya.


"Ya." Sania menoleh sekilas ke arah suster, lalu paham kalau dia harus segera menangani pasien.


Glek! Air liurnya terasa berat untuk ditelan. Saat ini semua mata memandangnya. Mungkin pikiran kepala rumah sakit dan juga perawat yang ada di sana, kegugupan Sania karena bingung dengan tindakan apa yang harus dia lakukan, kenyataan, sikap kakunya justru karena dia mengenal betul siapa pasien yang melotot tajam padanya.


"Ehem... Permisi, saya coba periksa lukanya." Sania mengambil tempat di kursi yang ada di sisi ranjang. Mengamati luka di lengannya.


Hanya Tuhan yang tahu betapa gugup dan juga frustasinya Sania saat membersihkan dan membalut luka itu. Terlebih setelah kepala rumah sakit pamit, suster juga sudah pergi dengan menutup tirai yang membungkus keduanya.


Ayo, bicara Sania! Jangan jadi orang bego!


Sania memikirkan apa yang harus dia katakan pada wajah garang yang ada di hadapannya ini, tetap saja pikirannya buntu, terlalu banyak pertimbangan ingin membuatnya akhirnya bungkam.


"Ke-kenapa kamu bisa terluka?"


Hanya untuk mengatakan kalimat itu saja, Sania mengumpulkan segenap keberaniannya. Dia takut kalau pria itu tidak akan mau menjawab pertanyaannya. Dia lebih memilih kalau Arlan memakinya saja.


Dugaannya tepat. Arlan tidak mempedulikan pertanyaan Sania. Kalau tadi dia melihat dengan penuh kebencian pada gadis itu, setelah mereka hanya berdua, Arlan justru buang muka ke arah lain, seolah tidak sudi untuk menoleh ke arah Sania.


"Sudah selesai," ucap Sania dengan suara serak. Dia ingin menangis. Setelah hampir 6 tahun, akhirnya dia bisa bertemu dengan Arlan. Namun, yang membuatnya sedih, pria itu tidak mau bicara padanya, bahkan untuk melihatnya saja tidak sudi.


Arlan menarik tangannya. Bergegas bangkit dan berjalan meninggalkan Sania. Gadis itu tertegun menatap punggung bidang Arlan yang menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, Sania melepas tangisnya. Menggigit lengan blazer agar tidak satupun mendengar.


***


"Biar saya yang bayar. Saya yang salah. Izinkan saya bertanggung jawab." Seorang gadis cantik dengan gaun selutut menyabet antrian, berdiri di samping Arlan yang tengah membayar tagihan sekaligus mengambil obat anti nyeri dan anti biotik untuk lukanya.


"Tidak perlu!" tegas Arlan memberikan kartu pada kasir rumah sakit.


Nyali gadis itu ciut, tapi dia juga tidak beranjak selangkah pun dari tempatnya.


"Tunggu," teriak gadis itu berlari mengejar langkah panjang Arlan. Berjalan di sisi pria itu.


"Aku Karina, kamu?" Wanita itu melompat ke hadapan Arlan, menghentikan langkah pria itu. Jenis gadis yang akan gigih, tidak akan menyerah sampai keinginannya terpenuhi.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!" Arlan mendorong gadis itu, menyingkir dari hadapannya.


***


"Mama," teriak Dewa berlari menyambut Sania. Pria itu memang dititipkan di rumah Dita, saat Sania dan Kasa bekerja. Sore hari, Sania akan datang menjemput.


"Sayangnya Mama. Udah wangi, siapa yang mandikan?"


"Mandi sendiri, dong. Aku kan udah besar."

__ADS_1


"Good job!"


Sania menggandeng Dewa, menuju tempat Dita duduk. "Kamu udah pulang," ujar Dita mengulurkan tangan agar Sania bisa mencium punggung tangannya.


"Dewa gak nakal'kan, Ma?"


"Gak. Dia baik banget. Oh iya, kita makan malam di sini, kan? Mama udah masak enak. Walaupun masih baru belajar, tapi Mama yakin enak."


"Iya, Ma. Pasti enak."


"Oh iya, Mama hampir lupa, kalau besok malam, keluarga Dirgantara, ngajak kita makan malam bersama. Kalian harus datang. Acara ini sengaja dibuat Alana untuk menyambut kalian pulang."


Seketika Sania kehilangan kata-kata. Tadi dia baru bertemu dengan Arlan, dan reaksi pria itu sangat tidak bersahabat. Besok malam mereka akan bertemu lagi. Pertemuan pertama saja sudah sangat tidak mengenakkan, bagaimana besok lusa?


"Kalian pasti datang, kan?"


"Iya, Ma. Aku tanya Kasa dulu."


***


"Kalau kamu gak siap, kita bisa tolak. Gak perlu menyenangkan hati orang lain kalau kamu tersiksa, gak nyaman," tukas Kasa saat Sania memberitahu soal undangan Alana.


"Tapi kalau nolak, Mama Papa juga akan malu. Sebaiknya kita pergi aja, ya?"

__ADS_1


"Terserah kamu, San. Aku akan selalu ada di sisimu. Jangan takut bertemu Arlan. Anggap aja dia gak ada di sana. Atau bisa jadi dia gak mau datang. Itu lebih baik." Kasa kembali fokus ke laptopnya.


"Bagaimana dengan Ayra? Apa kamu siap bertemu dengannya lagi?"


__ADS_2