Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Ciuman pertama? yakin?


__ADS_3

Pergelangan tangan Dita dipegang erat oleh Kai, hingga tidak mungkin bagi gadis itu untuk melepaskan diri. Pilihan yang dia punya adalah mengikuti langkah pria itu.


Tempat yang mereka tuju adalah parkiran tempat mobil Kai berada. "Masuk!" perintahnya setelah membukakan pintu mobil untuk Dita.


Gadis itu masih sempat melotot tanda tidak terima atas perlakuan Kai, namun rahang tegas pria itu sudah menunjukkan seberapa seriusnya pria itu dalam perkataannya.


Setelah mengamati dengan seksama, Dita sadar kalau pria yang bertindak sewenang-wenang pada nya saat ini adalah teman Alana yang kemarin ikut datang kerumahnya.


Ehem...suara tenggorokan yang dikeluarkan Kai sebagai caranya meminta Dita untuk segera masuk. Sekali mendelik sebagai perlawanan sia-sia yang dilakukan Dita, sebelum masuk ke dalam mobil.


Jalanan sudah tampak legam. Derai rintik hujan mengiringi kebisuan diantara mereka. Dita bahkan masih marah, melipat tangannya di dada dengan pandangan fokus ke depan.


Kalau saja orang yang disebelahnya ini dia kenal baik, pasti dia akan pura-pura tidur sebagai ungkapan marahnya. Namun dia hanya tahu sebatas namanya.


"Itu terakhir kalinya gue lihat lo ke club itu...bareng dia!" suara Kai membuka keheningan. Dita si keras kepala, tentu saja tidak terima akan sikap diktator Kai. Siapa dia dalam hidup Dita?


"Heh, lo siapa sih ngatur-ngatur gue? kenal juga ga. Apa urusannya lo sama apa yang gue lakukan, sama siapa, itu bukan urusan lo!"


"Urusan gue..."


"Dih, siapa lo? bokap gue? pacar gue? suami gue? bukan, kan?!"


Gue bapak dari anak lo, sialan! semoga hasil nya begitu.

__ADS_1


"Kenapa lo diam? ga bisa jawab kan, lo? itu karena lo bukan siapa-siapa gue, jadi berhenti mengusik hidup gue! Paham, lo?"


"Karena lo temannya Alana, makanya gue perduli sama lo. Lagian lo udah punya anak, harusnya jam segini, lo di rumah, jagain Kasa"


Dita terkejut. Menatap heran pria aneh itu. "Dari mana lo tahu nama anak gue, Kasa?"


"Hah? Oh, tau lah, bokap lo yang kasih tau waktu gue ke rumah lo tempo hari"


Hufffh... Dita menghela nafas panjang. Sangat kesal dengan Kai yang seolah bisa saja mematahkan argumennya. Merasa kalah di langkah pertama, Dita kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan.


Keduanya kembali dalam kesunyian. Dita terus berpikir cara untuk menjatuhkan mental sekaligus harga diri pria yang sudah membuatnya malu, terlebih di depan Marco.


"Kenapa sih lo ga urus urusan lo sendiri aja, kenapa lo harus mengacaukan hidup gue malam ini? lo tahu ga, Marco itu calon suami gue!"


Tubuh Dita oleng, saat Kai banting setir menepikan mobil. Ciiiit...suara decit ban mobil yang di rem tiba-tiba membuat Dita tersentak.


"Kenapa? lo ga jadi turun? dasar gadis keras kepala. Lo susah ya diatur. Gimana kalau jadi istri lo?!" umpat Kai membuka seatbelt nya. Dadanya terasa sesak. Mungkin hujan diluar sana tidak mampu membuat suhu tubuhnya mendingin.


"Emang siapa yang mau jadi istri lo? hellowww, mimpi aja lo sana!" balas Dita semakin diujung sabarnya.


"Oh, lo maunya jadi istri si brengsek itu? cowok kok lemah! Yakin lo dia punya batang?" Kai masih saja mencemooh Marco yang dianggap nya tidak pantas untuk Dita.


"Ga usah ngatain dia. Lo sendiri aja lari dari tunangan lo. Asal lo tahu, kemarin nenek Rosi datang ke toko Alana, nyariin lo. Dasar pria brengsek, habis manis sepah di buang lo. Udah puaskan lo sama tunangan lo, si Amanda baru lo ninggalin dia. Lo yang cocoknya dikatain brengsek, bukan Marco!" Suara Dita begitu keras, menyeimbangi suara derai hujan yang semakin deras pula.

__ADS_1


"Gue dijodohin sama Amanda, gue ga cinta sama dia!" Kai merasa perlu menjelaskan pada Dita, entah itu penting bagi gadis itu atau tidak.


"Bukan urusan gue. Gue ga perduli sama masalah lo. Jadi tolong, lo ga usah mengusik gue lagi, gue ga mau calon suami gue jadi mikir kita punya hubungan. Ga lama lagi gue bakal nikah sama Mar.."


Sisa kalimat Dita hanya bisa dia teruskan nanti. Saat ini bibir gadis itu sudah menjadi sasaran Kai. Pria itu ******* kasar bibir gadis itu, begitu frustrasi dengan kalimat Dita yang ingin menikahi Marco.


Dita tentu saja meronta. Gadis manapun yang normal, akan marah jika tiba-tiba dicium oleh seseorang yang kebetulan dia benci. Tangannya tida henti memukul dada bidang Kai yang semaki menekan tubuhnya. Dita tidak bisa bergerak hanya untuk menjauhkan bibirnya, satu tangan Kai sudah memegang tengkuk Dita, memojokkan tubuh gadis itu ke pintu disampingnya.


Ciuman brutal itu berangsur melemah, gadis yang melakukan berlawanan itu kini tidak berkutik. Tubuhnya justru sudah berkhianat. Kalau pikiran ingin lepas dari Kai, namun tubuh gadis itu mulai rileks. Bahkan Dita sudah mengikuti permainan yang disuguhkan Kai, malu-malu membalas ciuman itu.


Perasaan Dita melayang kala Kai menyelipkan lidahnya di langit-langit mulut Dita, memberikan sensasi berbeda, membuat tubuhnya bergetar hebat. Bahkan dibawah sana seolah ada cairan yang mengalir diluar kendalinya.


Kai lah yang lebih dulu sadar, dan menarik diri. Bukan karena tidak merasa nikmat, justru sangat nikmat. Justru karena miliknya sudah membengkak dibawah resleting celananya, membuatnya tersadar harus segera menyudahi semuanya saat itu juga.


Kilat mata Dita begitu teduh. Memuja, menginginkan lagi dari pria kasar yang sudah menggigit bibirnya, namun Dita suka. Bola mata itu menatap Kai dengan tatapan mendamba, Kai bisa lihat itu.


Hufffh... bagaimana mungkin Kai bisa membiarkan gadis selugu Dita jatuh ke tangan Marco. Dia tidak akan terima, ibu dari anaknya memiliki pasangan seperti itu. Yah..walau belum pasti Kasa adalah darah dagingnya, tapi Kai sudah sanga posesif pada Dita.


"Apa?" tanya Kai menaikkan satu alisnya. Sebisa mungkin dia bersikap tenang di hadapan Dita, walau jantungnya masih bertalu-talu.


Dasar brengsek! Dia tanya apa ke gue? apa dia lupa apa yang baru dia lakukan ke gue? kenapa lo cium gue, bangsat?! Dan gue rasa gue udah gila, karena gue menyukai ciuman lo! Gue pengen lagi! Astagfirullah, Ta. Eling Ta!!!


"Lo ga kesambet, kan? kenapa lo diam?" ulang Kai bertanya. Dia mendadak khawatir melihat Dita yang hanya dia, menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Iya, gue kesambet jin mesum kayak lo! kenapa lo cium gue? itu ciuman pertama gue, brengsek!" Dada Dita bergetar. Bulu kuduknya masih berdiri, seolah tubuhnya masih melayang ke awan setelah menerima ciuman itu.


"Itu hukuman buat lo yang keras kepala. Lagian, yakin itu ciuman pertama lo?"


__ADS_2