Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Jangan mati


__ADS_3

"Kasihan sekali tuan Kai. Siapa yang sudah melukainya? padahal baru kemarin kan beritanya dia menikah dengan model cantik," tukas Mita menanggapi ucapan Perguson.


"Barang kali, ibu dan non Dita mau menjenguk bos Kai?"


"***.."


"Ga penting, emang dia siapa? ayo, Mi!" Dita menarik tangan Mita, bergegas pergi dari sana tanpa memberikan kesempatan pada Mita melanjutkan ucapannya.


"Kok gitu sih, Ta. Kasihan kan dia. Lagi pula dia dulu pernah juga datang ke rumah kan? lihat Kasa yang baru lahir?"


Dita tidak menjawab. Hatinya nano-nano sekarang. Senang karena mengetahui keberadaan Kai, dan pria itu masih hidup, sedih karena pria itu kini sudah milik wanita lain. Apa gunanya dia datang menjenguknya?


Oleh dokter, Dita hanya di suntik vitamin penambah darah serta resep obat dan multivitamin bagi tubuhnya. Hanya 20 menit pemeriksaan sekaligus konsultasi dengan dokter, keduanya keluar berniat untuk segera pulang.


Namun hatinya masih tertinggal di rumah sakit itu. Dia ingin bertemu dengan Kai, sangat ingin. Tapi sebagai siapa? dia malu. Bagaimana kalau nanti saat menjenguk pria itu, Amanda akan memarahinya? tidak suka karena sikapnya yang buruk ketika terakhir kali bertemu.


"Ayo, Ta. Kok jalannya lambat gitu? kamu sakit lagi? pusing, Nak?" Mita mundur dua langkah, menggandeng tangan Dita takut kalau putrinya itu jatuh lemas.


Belum sempat menjawab, mereka bertemu lagi dengan Perguson yang baru pulang makan. Dia kembali untuk menjaga Kai. "Eh, ketemu lagi, Bu"


"Iya nih. Udah selesai, mau pulang lagi," sahut Mita basa-basi. Terlanjur tidak enak pada Perguson karena sikap putrinya tadi.


"Non Dita, ga jadi jenguk bos Kai? siapa tahu support dari anda bisa membuat bos semangat untuk sembuh"


"Ngapain butuh support dari gue? dia punya bini yang selalu ada di sisinya," sahut Dita jutek.


"Bini?"


"Maksud Dita, sudah ada Amanda di sana. Ga enak nanti kalau kami datang menjenguk," kata Mita menjelaskan.

__ADS_1


"Amanda tidak ada di ruangan bos Kai, nyonya. Malah saat ini sedang DPO sama polisi"


"Kok bisa?" Dita sudah mulai menunjukkan rasa penasarannya. Begitu antusias ingin mengetahui kebenarannya.


"Panjang ceritanya, Non. Intinya, bos Kai tidak menikah dengan Amanda seperti yang selama ini ada dalam pemberitaan"


"Serius?" mimik wajah Dita berubah, dari yang tadi jutek dan terkesan tidak perduli, kini begitu antusias mengetahui semua tentang Kai.


"Iya, Non. Makanya, kalau bisa non jenguk, ya. Bos Kai sedang sekarat, entah sampai berapa lama lagi dia bisa bertahan dalam rasa sakitnya. Tubuhnya kian lemah, tapi dokter mengizinkan untuk dijenguk. Siapa tahu ini kesempatan terakhir bagi kerabat dan sahabat"


"Gimana? mau lihat?" tanya Mita yang segera diangguk Dita dengan cepat.


Tiba di depan pintu kamar, langkah Dita terhenti. Dia bingung harus bilang apa nanti saat bertemu Kai. Bingung harus bersikap bagaimana nantinya.


"Kenapa ga jadi masuk, Ta?" suara Mita yang ada dibelakang tubuhnya menyadarkan Dita dari lamunannya.


"Masuk aja, Non. Ga papa kok" Perguson ikut meyakinkan Dita. Pria itu tahu, ini yang diharapkan bos nya. Bisa bertemu dengan Dita, dan dalam kondisi seperti saat ini, Kai tidak perlu mengejar Dita guna memberikan penjelasan. Justru Dita yang akan merasakan iba melihat keadaan Kai saat ini.


"Dokter bilang harus satu-satu orang yang boleh jenguk, jadi non aja duluan," ucap Perguson asal. Wajah bingung Dita membuat Perguson segera mengajak Mita keluar menutup pintu sebelum Dita berubah pikiran.


"Kok aneh, ya. Setahu tante kalau ruang VIP itu boleh lebih satu orang yang menjenguk. Ini kok cuma satu, ya?"


"Emang boleh tante. Maaf, kalau aku tidak sopan. Aku hanya ingin memberikan waktu berdua bagi mereka," terang Perguson duduk di salah satu bangku tunggu yang ada di koridor lantai itu.


"Eh.. maksud nya?" Mita tidak mengerti kenapa putrinya diatur untuk bertemu dengan Kai.


"Tante ga tahu, kalau non Dita dan bos Kai saling menyukai? Non Dita sangat mencintai bos Kai, tante"


"Kamu tahu dari mana?" Mita mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Mm..." giliran Perguson bingung harus jawab apa. "Dari Alana, Tan" bersyukur bisa mencari jawaban yang tepat.


Mita terduduk lemas. Pundaknya merosot di sandaran kursi. Mita bertanya-tanya apa karena masalah pernikahan Kaisar yang membuat mood putrinya menjadi buruk selama beberapa hari ini?


***


Tubuh Dita terasa kaku, menapaki ruangan Kai. Matanya sudah terkunci pada satu sosok yang berbaring lemah itu. Wajah pria arogan itu tampak tirus dan tubuhnya juga semakin kurus.


Rasa iba membuat hatinya mantap untuk mendekat. Dita memilih duduk di kursi di sisi tempat tidur. Mengamati Kai begitu lama, tanpa bersuara. Perlahan isak tangisnya terdengar di ruangan itu. Semakin lama semakin kencang. Dalam bayangannya, Kai mati.


Pria itu meninggalkannya tanpa sempat tahu perasaannya. Huaaaaaa.."kenapa lo harus mati? gue tahu lo pendosa, banyak yang benci, tapi jangan mati juga..hiks..."


"Bangun, lo brengsek. Jangan mati. Gue ga izin lo mati. Gimana gue kalau lo mati?" tanpa sadar suara tangisnya semakin kencang.


"Jangan mati, please. Jangan mati...hiks...hiks..."


"Aku ga akan mati, asal kau janji mau nikah denganku"


Dita terkejut, segera mengangkat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. Matanya terpaku pada mata Kai yang kini tengah menatapnya juga.


"Lo udah siuman? huaaaaaa..gue..gue..benci sama lo. Selalu buat gue sedih. Kenapa lo ga mati aja sih? eh, jangan mati. Gue ga izinin Lo mati, hiks.."Dita meremas gaunnya di bagian dada. Menundukkan wajahnya yang masih tidak bisa berhenti menangis.


Kai bersusah payah untuk duduk. Satu senyum melengkung di wajahnya melihat tingkah gadis kecilnya.


"Udah, jangan nangis lagi. Malu sama Kasa" ucapnya memegang dagu Dita agar melihat bola mata indah yang sangat Kai sukai. Dari semua yang ada di tubuh Dita, baik dada, bibir dan tentu saja yang satu itu, matanya juga menjadi kesukaan Kai. Menatap bola mata bulat itu membuat Kai nyaman, tidak takut lagi akan bayang-bayang masa lalunya.


Dita menepis tangan Kai. "Gue ga sudi di pegang sama lo"


"Bener nih? padahal kata dokter yang buat aku cepat sembuh itu kalau hati merasa gembira. Dan melihat mu disini buat aku gembira"

__ADS_1


Wajah Dita melembut. Apapun akan dia lakukan asal Kai sembuh. "Ta, banyak yang ingin aku ceritakan padaku. Mulai dari pengakuan, permohonan maaf dan juga tentang perasaanku. Kau mau kan menungguku untuk pulih?"


Perlahan tapi pasti, Kai menangkap anggukan kepala Dita, jawaban atas pertanyaannya tadi.


__ADS_2