Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 44


__ADS_3

Hidup Sania dipenuhi banyak berkat yang dia terima. Mulai orang-orang baik disekitarnya, memiliki putra secerdas Dewa, dan kini sudah menyelesaikan pendidikan serta bisa meraih gelar dokter umum. Pencapaian luar biasa menurutnya. Dan bicara soal pendidikan, satu lagi kenyataan yang mengejutkan dirinya.


Ternyata selama ini yang menguliahkan Sania adalah keluarga Dirgantara. Sempat terjadi perdebatan antara Kaisar dan Arun karena berebut untuk menguliahkan Sania. Hingga Alana memohon agar mereka saja yang menguliahkan Sania karena sudah sempat berjanji pada gadis itu dulu.


Kenyataan itu membuat Sania tidak bisa berkata-kata lagi. Begitu banyak pertolongan yang dia terima dari keluarga itu.


Kepulangannya ke negara asalnya disambut banyak kejutan. Setelah mengetahui kalau keluarga Arlan yang membiayai kuliahnya, dia juga baru tahu kalau ayahnya sudah keluar dari penjara, dan semua itu karena usaha Arun.


Pertemuannya dengan Alana di toko furniture itu memberikan satu lagi kejutan luar biasa baginya, yang mungkin tidak pernah dia duga sama sekali.


Dita mengajak Alana dan Sania untuk ngobrol di salah satu restoran di dekat toko itu.


"Kamu udah ketemu Papa kamu?"


Cangkir yang akan diangkat Sania, kembali ke tatakannya. Tatapan Sania mewakili isi hatinya. Dari mana Alana tahu soal ayahnya? Bukankah selama ini yang tahu hanya Arlan dan Kasa? Bahkan pada orang tua Kasa saja mereka mengatakan kalau ayahnya pergi, tidak tahu dimana kini berada.


"Papa?"


"Iya, Papa kamu sudah bebas. Apa kamu gak mau tahu dimana dia sekarang?" lanjut Alana yang berhasil membuat tubuh Sania bergetar. Dia menoleh pada Dita yang juga tengah kebingungan.


"Papa bebas, Tante? Serius?" Pekiknya tak percaya. Dia menomor sekian kan dulu kebingungan Dita. Kebebasan ayahnya lebih penting dari pada kebingungan Dita tentang kenyataan ayahnya yang ternyata selama ini di penjara.


"Untuk apa Tante bohong? Ini alamatnya." Alana menyodorkan secarik kertas yang baru saja dia tulis pada Sania.


Nanar mata gadis itu menatap secarik kertas di atas meja. Melihat benda itu seolah sebuah pintu ajaib yang akan membawanya pada sang ayah. Padahal niatnya, besok dia akan curi waktu untuk menyelinap pergi menemui ayahnya di penjara.


"Bagaimana Tante bisa mengeluarkan papa?" tanya Sania dengan suara tercekat. Dia masih setengah percaya.


"Kamu minum dulu," Alana kali ini menyodorkan air mineral yang cari dia buka tutupnya. Akhirnya Alana memuaskan rasa penasaran Sania. Gadis itu mendengar penuturan Alana dengan antusias.


Setelah mempelajari kasus Parhan, Arun menghubungi tim pengacaranya dan membahas soal kemungkinan mengeluarkan pria itu bui.


Tepat dua tahun lalu, Parhan bebas dan kini sudah tinggal di sebuah rumah yang lagi-lagi diberikan Arun.


"Meskipun Arun yang mengusahakan pengacara, tapi segala upaya dan biaya pembebasan papa kamu, diurus oleh... Arlan."


Belum cukupkah kejutan yang dia terima? Arlan membebaskan papanya? Tapi kenapa? Kenapa pria itu masih bisa bersikap baik padanya padahal Sania sudah meninggalkannya tanpa kata.


Sania menangis terisak. Menutup kedua wajahnya dengan kedua tangan. Arlan menamparnya dengan membalas perbuatan jahatnya dengan kebaikan yang paling berarti dalam hidupnya. Alana dan Dita saling berpandangan, lalu Alana maju lebih dulu merangkul gadis itu.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis lagi!"


"Tante... Kenapa Arlan menolongku? Mengapa dia mau membebaskan papa, padahal aku... Aku sudah jahat padanya," jawabnya disela air mata yang tumpah ruah. Dadanya berdenyut sakit.


"Kalau itu, Tante gak tahu jawabnya. Kamu cari tahu sendiri. Temui Arlan."


"Dia... Dia sudah di sini?"


"Tahun lalu dia kembali. Dia membangun perusahaannya sendiri, menunjukkan kalau Arun salah memaksakan kehendaknya pada Arlan. Anak itu bisa membuktikan kalau dia bisa sukses."


Sania tersenyum disela tangisnya. Perasaan bangganya pada Arlan tidak sirna. Bahkan kini mendengar semua perbuatan baik pria itu, rasa cintanya pada Arlan semakin besar.


"Bertemu? Apa masih pantas? Apa dia masih mau bertemu denganku?" batin Sania menatap kosong ke depan.


***


Sania memutuskan untuk menceritakan semua yang dikatakan Alana pada Kasa. Reaksi pria itu hanya tersenyum miring.


"Setidaknya si brengsek itu berguna juga," jawab Kasa. Dia berjalan ke arah ranjang yang sudah ditempati oleh Sania dan Dewa yang sudah tertidur pulas.


"Jangan begitu. Kamu tahu sendiri, dia gak tahu soal Dewa saat itu," bela Sania tidak ridho kalau Kasa memaki Arlan.


"Kasa," panggil Sania dari atas tempat tidur. Dia masih susah terpejam. Satu hari ini terlalu banyak kegembiraan yang dia dapatkan hingga membuatnya tidak ingin tidur.


"Udah tidur?" ulang Sania memastikan, tidak ada balasan dari pria itu, apa secepat itu tertidur?


"Udah," jawab Kasa berbohong.


"Kamu itu, ya. Kasa, ayo kita temui Ayra. Kita jelaskan semuanya. Aku percaya dia pasti mau mendengar."


Hening. Kasa tidak menyahut. Suatu kebetulan sekali, karena saat ini dia memang sedang memikirkan Ayra. Sudah empat hari pulang, tapi dia masih belum berani mencari tahu keberadaan Ayra.


"Gadis itu pasti sudah punya tambatan hati sekarang," ucapnya dalam hati, tersenyum miris pada nasibnya.


"Kasa, kamu dengar, gak?" Sania terduduk dan mencoba mengajak Kasa ngobrol.


"Tidurlah, Sania. Besok kita harus menemui papamu. Dia pasti sudah sangat merindukanmu." Kasa menutup matanya, sebagai tanda kalau dia tidak mau membahas tentang Ayra lagi. Hatinya belum sanggup mendapati kenyataan kalau Ayra sudah bersama pria lain. Memikirkan hal itu saja membuat jiwanya terbakar amarah.


***

__ADS_1


Ketukan di pintu berkali-kali akhirnya membuahkan hasil. Seorang pria paruh baya yang rambutnya sudah dipenuhi uban muncul disela pintu.


"Papa....," suara Sania hilang, hanya berupa bisikan yang terdengar. Tubuhnya hilang kendali, seperti akan roboh. Benar, pria itu adalah ayahnya.


"Sania," balas Parhan tak kalah terkejutnya. Dia membuka lebar daun pintu dan memeluk putrinya. Tangisan Sania dimulai. Ini adalah mimpi terindah yang jadi kenyataan.


"Papa, kenapa Mama menangis? Siapa kakek tua itu?"


"Hey, Boy, watch your mouth!"


"Cuma tanya, kok."


"Itu Opamu. Papa dari Mamamu. Ayo sana, peluk Opa."


Kasa membawa Dewa mendekat, berhenti tepat di belakang tubuh Sania. Menyadari keberadaan Dewa, Parhan melepas pelukannya.


"Ini Dewa, Papa. Anak Sania."


Air mata Parhan turun melihat wajah Dewa. Tangannya terulur kala anak itu menariknya untuk dicium.


"Hai, Opa. Aku Sadewa, cucu Opa."


***


Sania mulai bekerja di rumah sakit swasta. Meski hanya sebagai dokter umum, tapi itu sudah sangat membahagiakan dirinya. Melalui rekomendasi dosennya yang ada di Kanada, dia bisa diterima di rumah sakit itu, karena memang dia sangat pintar.


Kaisar sebenarnya menawarkan agar dia melanjutkan kuliahnya, mengambil spesialis, tapi Sania menolak. Mendapatkan gelar strata satu saja dia sudah bersyukur dibantu.


"Terima kasih sudah bergabung dengan kami. Semoga kamu betah."Direktur rumah sakit sekaligus anak pemilik rumah sakit itu menyambut Sania penuh hangat.


"Untuk sementara waktu, dokter di UGD dulu, ya," terang Sakti, si pemilik rumah sakit.


Sania mengangguk setuju sekaligus mengucapkan terima kasih.


Sakti membawanya berkeliling, tepat melewati ruangan yang akan menjadi tempatnya bertugas, mereka berhenti mengamati pasien dan para perawat.


"Tolong panggil dokter, Siska, ada pasien baru masuk yang belum ditangani," ucap salah satu suster yang ada didekat mereka. Namun, dari jawaban suster yang lain, diketahui dokter itu tidak masuk karena sakit.


"Biar saya saja, Pak, kalau boleh." Sania menawarkan diri. Sakti setuju dan suster tadi membawanya ke ranjang pasien. Menyingkap tirai agar Sania bisa memeriksa pasien.

__ADS_1


Bukan mulai mengecek, tubuh Sania justru membeku di tempat. Bola matanya kini saling bersitatap dengan pasien yang terduduk, dengan ceceran darah mengalir dari lengannya yang tampak sobek.


__ADS_2