
"Lu tinggal dimana?" Keheningan pecah setelah keduanya berkendara cukup lama. Baru kali ini Arlan merasa kikuk di dekat seorang gadis. Biasanya dia tenang saja kalau lagi berduaan dengan gadis-gadis yang mengejarnya.
"Di jalan Darmawangsa, tapi aku mau ke Sudirman. Kalau mau diturunkan di sini aja juga gak papa," jawab Sania. Dia merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Arlan begitu banyak. Dia tahu pria itu. Tidak banyak informasi yang diketahuinya, tapi cukup lah menjelaskan kalau Arlan, salah satu siswa bermasalah di sekolah, tapi citra buruknya seolah termaafkan oleh wajah yang tampan dan otaknya yang cerdas.
Arlan menghentikan motornya tiba-tiba. Sebelah alisnya naik ke atas hanya karena menyimak ucapan Sania.
"Lu mau ke Sudirman, tapi kenapa malah minta turun di sini?" Tanpa sadar Arlan memutar kepalanya hingga tatapan keduanya terkunci pada satu garis lurus.
"Iya, tapi aku gak mau ngerepotin kamu. Terima kasih sudah menolong ku tadi. Kalau harus mengantar hingga ke Sudirman, nanti makin banyak hutang budiku."
Gadis ini unik. Itu yang terbersit dalam benak Arlan. Di saat banyak gadis ingin mencari perhatian padanya dengan menempel pada tubuhnya lebih lama, Sania justru ingin menyudahi kebersamaan mereka.
"Apa pesona gue udah memudar?" batin Arlan mengalihkan pandangannya. Tidak tahan menatap mata indah Sania lebih lama lagi.
Arlan kembali menghidupkan mesin motornya dan membawa Sania ke arah jalan Sudirman. "Lu mau kemana?"
"Sweet Bakery."
Arlan tahu toko roti itu. Tempat mana di kota ini yang dia tidak tahu. Kalau ditanya berapa banyak marka jalan di kota itu saja dia pasti hafal, saking seringnya keluyuran.
"Terima kasih," ucap Sania setelah turun dari motor meskipun harus dengan susah payah. Bagi tubuh Sania yang hanya memiliki tinggi 158 sentimeter, naik turun motor sport seperti itu ibarat melewati palang rintangan, bisa, tapi susah, apalagi karena pakai rok.
__ADS_1
Tanpa sengaja, Arlan tadi sempat melihat ke arah paha mulus Sania yang tanpa sengaja tersingkap, lalu buru-buru buang muka.
Tanpa membalas, Arlan segera melaju kencang. Pikirannya jadi kacau hanya karena melihat paha mulus itu.
"Bego lu, Ar. Kayak gak pernah lihat paha mulus aja!" makinya semakin meningkatkan kecepatan motornya.
***
"Yakin lu mau tanding? Kalau hati lagi panas, sebaiknya jangan. Biar gue yang maju!"
"Gak. Cuma gue yang bisa ngabisin si bang*sat Roki!" suara Kasa tegas membantah saran Arlan. Sorot mata Kasa bak elang yang siap menghabisi mangsanya.
"Serah lu, dah!"
Cuih! "Mati lu kali ini!" umpat Kasa sembari membuang ludah.
Arahan agar bersiap karena lomba akan segera dimulai, membawa keduanya fokus ke arah depan. Seorang gadis berdiri sembari memegang sebuah bendera yang akan dia ayunkan tanda balap liar itu dimulai.
"Satu.... Dua....Dor!" Tembakan angin dilepas ke langit dan kedua pria tangguh di atas kuda besinya berlaga. Reli yang dibentuk sedemikian rupa dilalui tanpa terjatuh atau menyentuh penghalang yang sengaja di letakkan untuk menyusahkan laju motor.
Kasa yang sudah membabi-buta dan hanya meraih kemenangan terpatri dalam pikirannya segera melajukan motor semakin kencang.
__ADS_1
Roki yang tidak terima ketinggalannya mengejar dengan kecepatan penuh. Niat hatinya ingin berbuat curang seperti waktu itu, melepaskan petasan ke arah Kasa hingga konsentrasi pria itu buyar dan akhirnya terjatuh.
Orang bijak tidak akan jatuh ke lubang yang sama, tampaknya berlaku pada Kasa. Dia sudah bisa membaca gelagat Roki, saat kedudukan mereka hampir seimbang dan Roki akan melemparkan senjatanya, Kasa menyenggol ban depan motor Roki yang meper dan keseimbangan Roki hilang. Pria itu pun sukses jatuh di jalanan.
Malam itu kemenangan mutlak milik Kasa. Dito, Gilang, Tomi dan segera menyambut sang juara. Arlan hanya tersenyum sembari mengangkat kaleng cola nya dari tempat dia berdiri.
"Hari ini kita party! Gue yang traktir!" teriak Kasa penuh rasa gembira. Dia puas, sangat puas. Biasa mengalahkan musu bebuyutannya serta mendapatkan uang sebesar 10 juta hasil balap tadi.
Beriringan, keempatnya menyusuri kota. Tujuan mereka adalah bar yang ada di kota Sudirman, tempat biasa mereka nongkrong. Pemiliknya sudah kenal baik dengan mereka, jadi pasti dikasih masuk walau masih anak sekolahan.
"Malam ini kita ma*bok sampe pagi!" teriak Dito begitu mereka sampai di depan bar dan langsung disambung sahutan riuh dari Tomi, Kasa dan Gilang.
"Gila! Besok ulangan dodol!" celetuk Arlan, tertawa melihat keempat temannya. Mana mungkin mereka berani gak masuk, besok ulangan matematika sama pak Tagor.
"Aduh! Sial banget, sih!"
"Udahlah, segelas juga jadi!" Sambar Tomi. Kelima bergegas menuju pintu bar, tapi langkah Arlan seketika berhenti kala menyadari di samping bar yang akan mereka masuki adalah toko roti Sweet Bakery.
Hatinya tergelitik untuk masuk ke sana. Lapar perutnya membawa ide untuk membeli sepotong roti. Padahal di bar juga pasti akan ada kentang goreng.
"Pengen makan roti lu?"
__ADS_1
"Iya. Gue lapar. Kalau gitu, kita duluan. Lu beli juga buat kita, tapi jangan yang manis, gue enek!" tukas Kasa, mengikuti langkah Tomi dan kedua temannya yang lain ikut masuk ke bar.