Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Menguji kesabaran


__ADS_3

Tidak ada yang bisa mengukur kemarahan Arun saat ini. Dia diam, walau kepalanya hampir meledak. "Mana cincin kawinmu?"


"Oh...itu aku titipkan sama apoteker di salah satu apotik yang kami lewati tadi" ucap Alana takut-takut.


"Apa? maksudnya gimana?" Arun sudah sangat ingin meledak sekarang.


"Tadi kan aku udah bilang bang, Dita minta singgah ke apotik, nah pas kita berhenti dia udah kabur. Bapak supirnya minta ongkos, aku ga bawa dompet jadi.."


"Jadi?" desak Arun menahan diri.


"Jadi minjam duit apotekernya 700 ribu, cincin aku tinggal" ucapnya pelan begitu ketakutan melihat wajah marah Arun.


"Cincin nikah mu, kau gadaikan demi uang 700 ribu? buat ongkos taksi? Alana?!"pekik Arun menjambak rambutnya. Suara menggelegar Arun membuat jantung Alana menciut. Untung saja dirinya tidak punya penyakit jantung, kalau ga, udah the-end hidupnya. Buru-buru Alana bangkit dari pangkuan Arun. Memberi jarak, takut kalau Arun akan memukul bok*ng nya di ruangan itu seperti hukuman yang sudah mereka sepakati bersama kalau gadis itu membuat Arun kesal.


"Jadi mau gimana, pak supirnya minta ongkos, mau dipake buat berobat anaknya, makanya ga bisa ngantar sampai ke toko" ucapnya berharap Arun menerima penjelasannya.


"Apa yang ada di pikiranmu, hingga melepas cincin nikah yang aku pasang di jarimu selepas mengucap janji suci kita? semudah itu, Al? demi duit 700 ribu?" kali ini suara Arun naik langsung dua oktaf. Alana yakin kalau semua karyawannya mendengar.


"Terus aku harus bayar pake apa? aku ga bawa hape atau dompet, yang ada cuma cincin itu yang laku di gadai"


"Nih.." penuh emosi Arun mengangkat tangan Alana tepat ke wajahnya, menunjukkan jam tangan Breitling Transocean yang ada di pergelangan tangannya.


"A-pa?" tanya Alana masih tidak mengerti maksud Arun.


"Kau bahkan bisa pulang pergi keluar negeri hanya dengan menggadai jam ini!" bentak Arun menghempas tangan Alana. Dia ingin sekali memaki bahkan ingin mengguncang bahu Alana sekuat tenaga saat mendengar kalimat itu. Alana seolah tidak perduli dan tidak menganggap cincin pernikahan mereka sakral. Arun bahkan sampai memesan beberapa bulan sebelum menikah agar di desain sesuai keinginannya, melambangkan cinta mereka berdua.


"Oh..iya ya..aku kok ga sadar. Aku pikir hanya perhiasan yang bisa di gadai"


"Itu menunjukkan kau tidak menganggap penting cincin itu!" salak Arun masih belum bisa menguasai amarahnya. Ini batas terendahnya, kalau itu bukan Alana, mungkin manusia yang ada di hadapannya yang sudah berhasil membuatnya kesal akan dia habisi. Tapi ini Alana...kelemahannya!


"Jangan bentak aku dong bang, aku jadi takut" ucapnya melangkah mundur. Wajahnya pucat, belum pernah dia lihat Arun semarah itu.


Seolah menjadi alarm, Arun mengendorkan ototnya yang tadi sempat mengencang. Dia menarik nafas, membuang wajah ke kanan lalu memejamkan matanya. Tak lama, Arun melangkah keluar.

__ADS_1


"Eh..abang mau kemana?" tanya Alana mengekori suaminya.


"Bang.." ulang Alana merengek minta didengar. Arun tiba-tiba berhenti, hingga Alana yang sejak tadi berlari tidak sempat merem langkahnya dan menubruk punggung Arun. Pria itu berbalik menatap Alana. Susah payah Alana melepas senyum. Dia tahu kalau suaminya itu sudah marah, bersikap lembut dan sedikit bermanja adalah langkah yang tepat.


"Ga usah pake senyum! Aku masih marah!"


"Masa iya senyum aja ga boleh, kata pak ustadz, senyum itu ibadah" jawabnya asal. "Abang mau kemana?"


"Menurutmu?" Arun benar-benar diuji kesabarannya oleh istrinya itu.


"Ga tahu, memangnya aku cenayang?"


"Sabar run..siapa suruh jatuh cinta sama cewek yang otak nya rada-rada mampet" gumam Arun.


"Aku dengar ya. Abang kok gitu sih, ngatain istri sendiri?!" kini balik Alana yang merajuk.


Mati lo run, satu masalah aja belum kelar, nambah lagi ini..


"Udah ga usah balik ngambek. Kali ini yang salah siapa?" tanya Arun tetap menjaga ketegasan suaranya.


"Bagus kalau tahu. Sekarang ayo ke apotik itu!"


***


Penuh sumringah sang apoteker mengembalikan cincin Alana yang di letakkan di laci kasir. "Ini, mas" uang satu juta yang diserahkan Arun sudah lebih dari cukup untuk mengambil kembali cincin Alana.


"Ini banyak banget lebihnya, mas" ucap apoteker itu. Masa dalam hitungan dua jam berbunga 300 ribu, siapa yang tidak akan senang.


"Ga papa mbak, simpan saja. Makasih mbak" ucap Arun datar sembari menundukkan kepala.


"Makasih ya mbak. Maaf merepotkan" ucap Alana masih ingin berbasa-basi namun tangannya langsung ditarik keluar oleh Arun.


"Suaminya cakep banget, sumpah. Kapan gue punya suami setampan itu ya?" ucap si apoteker pada asistennya mengamati punggung Arun dan Alana yang menjauh pergi.

__ADS_1


Keduanya sudah dalam mobil, tapi Arun masih belum menjalankannya. Alana menoleh, bingung kenapa belum jalan juga. Arun melemparkan pandangannya ke depan, seolah bergulat antara pikiran dengan hati, yang akhirnya dimenangkan hatinya.


Tiba-tiba pria itu menoleh kearah Alana hingga berhasil membuat gadis itu terkejut. "Kemarikan jemarimu" hardiknya. Terhipnotis dengan suara berat Arun, Alana menurut menyodorkan jemarinya ke hadapan Arun.


Penuh perasaan dan doa Arun memasang kembali cincin pengikat mereka di jari manis Alana. "Aku mohon sayang, jangan pernah kau lepas lagi cincin ini dari jemarimu. Apa pun yang terjadi, bahkan kalau aku sudah tidak ada lagi" ucap Arun melembut hingga membuat Alana tersentuh hingga ingin menangis.


Dia jadi merasa sangat jahat. Dalam kasus ini, dia yang salah. Jelas-jelas tidak seharusnya dia melepas cincin nikahnya, ini malah dengan seenaknya dia membuka dan menggadaikan cincin itu, tapi karena mengingat kesusahan supir taksi itu, hingga dia tidak bisa berpikir panjang lagi saat itu.


"Aku salah. Aku minta maaf. Aku yang bego. Abang jangan sedih gini dong. Aku janji lain kali akan ingat bawa tas, atau ga hape" bulir bening mulai berjatuhan di pipi Alana. Dengan lembut Arun menghapusnya.


"Kenapa jadi nangis? aku udah ga marah lagi"


"Huaaaaaa..suami aku baik banget. Mau peluk.." isak nya disela tangisnya.


Arun tersenyum membuka seatbeltnya dan menarik Alana dalam pelukannya. Mencium lama puncak kepala gadis cengengnya itu.


"Udah, jangan nangis lagi. Malu sama Arlan" goda Arun. "Kita pulang?"


"Eh, jangan dulu, cari Dita dulu. Aku takut dia gugurin kandungannya, bang" ucap Alana memohon.


"Nyari kemana?"


"Kemana aja. Ke klinik yang mau terima gadis aborsi, barangkali"


Jadi lah mereka sepanjang jalan mencari sosok Dita, bahkan sudah ketempat yang pernah Alana dan Dita kunjungi sudah mereka cari, tapi hasilnya nihil.


"Masih ga aktif nomornya bang" ucap Alana meremas ponselnya. Menatap layar ponsel yang bertulis nama Dita. Bukan bunyi ponsel yang terdengar justru bunyi perutnya yang kelaparan.


"Jangan bilang dari siang kau belum makan?"


Alana hanya mengangguk penuh dilema. "Kena hukum lagi deh aku"


***Hai..mampir lagi ke novel teman ku yuk

__ADS_1



__ADS_2