
Arlan bangun dengan kondisi kepala terasa pusing. Beberapa kali mengerjapkan mata, mengumpulkan nyawa baru mampu mendudukkan dirinya. Hari ini dia tidak sekolah, memutuskan untuk tidur hingga sore hari.
Diliriknya jam kotak yang bertengger di atas meja di samping tempat tidur, pukul tiga sore. Rasa lapar lah yang membuatnya bangun. Tadi malam juga dia gak makan.
Seperti biasa dia bersama keempat temannya nongkrong di bar langganan mereka. Pikirannya terusik untuk datang ke sebelah, tapi dia mengeraskan hatinya untuk bisa mengabaikan keinginannya itu. Rasa kesalnya pada Sania belum hilang karena tadi mau diantar pulang oleh Kasa.
Namun, setelah dua jam di bar, dia izin keluar pada teman-temanya dan mendapati toko roti itu sudah tutup, yang tinggal hanya penyesalan di hati Arlan.
Lagi pula kalau dipikir, kenapa dia harus kesal, Sania bukan kekasihnya hingga dia boleh menaruh kesal.
Perlahan Arlan menjejaki lantai rumah. Matanya masih setengah tertutup. Rasa pening di kepalanya muncul lagi. Kembali dia memijit keningnya, berharap bisa berkurang.
"Mau makan, Den?" tanya Bi Inah.
Arlan hanya mengangguk, mengucek kedua matanya dan menempati salah satu kursi di meja makan dapur.
"Bi, maaf, boleh buatkan nasi goreng? Lagi pengen banget," celetuknya menghentikan Bi Inah yang sedang menyiapkan makanan di meja.
"Oh, siap, Den. Laksanakan. Tunggu sebentar, Bibi buatkan, ya."
Arlan mengangguk lalu berjalan ke arah rumah keluarga. Lebih baik menunggu sambil menonton televisi.
"Tumben lu lagi belajar. Gak salah lihat gue?" goda Arlan mengempaskan tubuh jangkungnya di sofa. Tangannya masih sempat menoyor pelan kepala Ayra yang sedang serius belajar. Dia harus meningkatkan nilainya yang anjlok kalau masih mau mendapatkan tiket liburan ke Singapura akhir semester dari Arun.
"Woi, gue ngomong!" Kesal diabaikan, Arlan menarik ujung rambut Ayra, meminta perhatian dari adiknya itu.
"Apaan sih, lu Kak, gue lagi belajar, jangan ganggu!"
Ayra memang tidak sepintar Arlan, si otak jenius. Entah salah dimana, tapi kedua saudara kandung itu memang berbeda dalam bidang akademik.
"Makanya, pintar kayak gue." Perhatian Arlan ditarik oleh sebuah tas ransel yang tergeletak di sofa di ujung kakinya. Rasanya dia kenal tas itu, tapi coba ingat dimana dia melihat sebelumnya, tetap tidak bisa mengingat.
"Tas siapa?"
"Ransel guru gue," jawab Ayra menoleh ke arah telunjuk Arlan.
"Guru les lu? Siapa?"
__ADS_1
Baru Ayra akan menjawab, Sania yang tadi ke kamar mandi, sudah berada di ruangan itu.
"Ar-lan?" desis Sania. Bola matanya membulat, kenapa pria itu ada di rumah itu. Atau jangan-jangan ini justru rumah Arlan? Pertanyaan itu muncul di benaknya. Kenapa dia sampai tidak sadar, pantas saja kalau melihat wajah Ayra, dia teringat Arlan.
"Lu ngapain di sini? Jangan bilang lu guru adek gue."
"Iya, aku. Ayra adik kamu?" Sania jadi merasa gugup. Bola mata Arlan terlalu tegas dan tajam setiap menatapnya.
Namun, tidak hanya Sania yang merasakan hal itu, Arlan yang berlagak sok cool juga sama. Sania kembali duduk di karpet permadani merah di samping Ayra. Punggungnya bersentuhan dengan kaki Arlan.
Pria itu masih belum bergerak. Padahal Bi Inah sudah menyampaikan kalau pesanan nasi gorengnya sudah jadi. Dengan jempolnya dia menyentuh rambut panjang Sania yang diikat ekor kuda. Lembut, dan sangat halus.
Hanya menyentuh ujung rambut sudah berhasil membuatnya deg-degan.
"Den, mau bibi bawakan ke mari aja?"
Arlan menggeleng. Dia tidak ingin mengganggu Ayra belajar, jadi memutuskan makan di dapur saja. Sebenarnya itu dilakukan demi menyelamatkan jantungnya yang sejak tadi berdebar lebih kencang.
"Mama, ketuk pintu dulu, dong!" protes Arlan saat mendengar suara handle dan daun pintu dibuka.
"Ayo, keluar." Alana mengabaikan protes Arlan, memilih masuk dan duduk di tepi ranjang. Mengamati apa yang ada di layar komputer Arlan.
"Ar, Mama kok, dicuekin? Mama ngomong ini. Kamu lagi ngapain? Kamu gak lagi nonton film berwarna kan?"
"Maksudnya apa, sih, Ma?" Arlan menoleh ke arah ibunya yang ikut melongo ke arah layar.
"Film Biru. Mama gak mau ya, kamu nonton begituan. Dosa!"
"Ini GTA, Ma. Udah deh, Mama kesini mau bilang apa?"
Arlan mematikan komputer dengan menekan satu tombol.
"Nah, gitu dong. Baru anak Mama. Itu guru lesnya Ayra mau pulang, kamu antar, ya. Kasihan pulang sendiri, udah malam. Pak Kadir masih belum pulang sama Papa."
Arlan bergeming. Dia baru ingat kalau Sania ada di rumahnya.
"Iya. Mama turun dulu, nanti aku nyusul."
__ADS_1
"Maaf jadi merepotkan kamu," ucap Sania pelan. Dia sudah menolak dan memaksa untuk pulang sendiri, tapi Alana bersikeras meminta Arlan mengantar.
Arlan tidak mengatakan apapun, pergi ke garasi dan mengeluarkan motornya. Suara motor dan cara Arlan ngegas motornya membuat Sania mengalah dari perdebatan dengan Alana.
"Kamu boleh turunkan aku disini aja, biar nanti naik ojek," lanjut Sania, dia berpikir, diamnya Arlan karena kesal sudah direpotkan mengantarnya.
"Gue akan mengantarmu sampai rumah, kecuali memang lu nya yang gak ingin gue antar. Lu takut, Kasa tahu gue antar pulang?"
"Kenapa bawa-bawa Kasa? Apa hubungannya?" sambar Sania tidak mengerti.
"Dia bilang kalian udah pacaran, setidaknya udah saling dekat." Arlan ingat ucapan Kasa di bar tadi malam, kalau dia sudah menang taruhan. Sania memberikan tanda kalau dia suka pada pria itu. Arlan yang mendengarnya hanya bisa mengembuskan napas berat.
"Lu bawa gadis itu di depan gue, buat pengumuman sah, baru gua percaya," balas Arlan masih belum percaya.
Kasa hanya tergelak, dia mengakui kalau Arlan sulit untuk dibohongi.
"Oke. Kita masih belum sah jadian, tapi asal lu tahu, dia udah mau ikut ke ruang gue, kenalan sama nyokap."
Hati Arlan mencelos. Kalau sudah sampai kenalan sama Dita, berarti memang benar Sania juga suka padanya.
"Aku sama Kasa gak pacaran. Aku bukan pacar siapapun."
Arlan menghentikan motornya mendadak. Dia diam di tepi jalan. Lalu tanpa mengatakan apapun, membuka jaketnya, lalu menyerahkan pada Sania.
"Pakai."
"Gak usah, Arlan."
Kenapa setiap gadis itu memanggil namanya, terasa indah di telinga Arlan. Seolah ingin sekali dia meminta Sania menyebutkan namanya berulang-ulang.
"Pakai. Nanti lu masuk angin."
Perasaan Sania melambung. Diterimanya jaket Arlan. Wangi parfum pria itu sangat memukau, seakan dirinya sedang dipeluk oleh si pemilik jaket yang tampan.
"Astaga, Sania, apa yang sedang kau pikirkan?" batinnya tersipu malu. Untung Arlan membelakanginya, kalau tidak pasti bisa melihat rona di pipinya.
Arlan mempercepat laju motornya hingga spontan, Sania memeluk erat pinggang pria itu, menghadirkan senyum di bibir Arlan.
__ADS_1