Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Perjuangankan Cintamu


__ADS_3

"Aku ga tahu, apa aku cinta sama Marco apa ga. Yang aku tahu, aku begitu tersentuh karena dia mau menikahi ku dengan keadaanku saat ini. Dia juga menerima Kasa, dan berjanji akan menjadi ayah yang baik bagi Kasa. Di atas segalanya, orang tuanya juga menerima ku dengan baik sebagai calon menantu mereka," terang Dita panjang kali lebar.


"Itu bukan cinta. Itu hanya rasa simpati karena kesediannya yang mau menerima mu. Kau tidak akan bahagia dengan pernikahan seperti itu. Jika kau ingin menikah, maka menikahlah dengan pria yang membuat disini berdetak kencang" Kai menunjuk dada Dita dengan telunjuknya.


Kata-kata Kai begitu membekas di hati Dita. Menembus lapisan hatinya yang terdalam. Hatinya bergetar. Yah, Dita menyadari apa yang disampaikan Kai itu benar.


"Justru itu, Kasar. Aku sudah merasakan hal itu. Setidaknya aku yakin itu cinta, walau belum pernah jatuh cinta sebelumnya"


"Kau menemukan orangnya?" susul Kai penasaran.


"Aku menemukan pria yang bisa membuatku bergetar setiap berada di dekatnya. Debar jantungku selalu tidak karuan setiap dia bicara denganku. Dan aku begitu sedih saat mengetahui dia sudah memiliki orang lain di sisinya. Aku bukan kekasihnya, tapi justru sudah merindukannya, hingga tersiksa" Dita bercerita penuh perasaan hingga tidak sadar kalau air matanya kini menetes di pipinya.


"Kenapa kau menangis. Jangan jadi gadis bodoh, menangisi seseorang yang tidak pantas untuk kau tangis" Kai pun larut dalam suasana. menghapus air mata di pipi Dita dengan jemarinya.


Keduanya saling tatap, Dita semakin larut dalam situasi haru itu.


Huaaaaaa " Kasar, aku harus bagaimana?" menangis di dada bidang Kai terasa nyaman buat Dita.


"Kalau begitu katakan padanya kalau kau mencintainya" Kai membelai sayang rambut Dita yang masih belum menyelesaikan tangisnya.


"Ga ada gunanya lagi, Kasar. Dia udah punya tunangan, dan sebentar lagi mereka akan menikah" Dita melerai pelukannya, hidungnya terasa mampet setelah memproduksi air dalam hidung karena terlalu banyak menangis. Celingak-celinguk mencari tisu, namun karena tidak menemukan, Dita memilih yang terdekat. Baju Kai menjadi sasaran tepat.


"Ta..."


"Sorry, Kasar. Aku ga nemu tisu," ucap Dita tanpa rasa bersalah. Kai tindak ingin mendebat. Hal itu tidak penting dibandingkan kesedihan Dita saat ini.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" Kai mengalihkan topik peringusan dengan topik yang sebenarnya.


"Ga tahu, Kasar. Makanya aku frustrasi banget. Aku ga rela dia nikah. Tapi aku punya hak apa atas dirinya?"

__ADS_1


"Kenapa kau menyerah sebelum berjuang? bisa aja mereka ga jadi nikah," Kai memberi umpan, agar gadis itu kembali bersemangat untuk mencari dirinya.


"Ga jadi gimana? kemarin tuh aku ketemu mereka, ceweknya yang ngasih tahu kalau pria brengsek itu akan menikahinya"


Spontan mata Kai melotot kala Dita dengan lempeng nya mengatakan dirinya brengsek.


"Siapa tahu pria itu udah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka. Menyadari kalau gadis yang akan dia nikahi itu tidak lah terlalu baik untuk dijadikan istri" Kai semakin dalam memberikan dukungan pada Dita.


"Tidak terlalu baik? gadis itu model cantik, sexy. Jelas jauh berbeda dengan ku yang seperti robot ini, kaku dan tomboi ga jelas," umpat Dita kesal pada dirinya sendiri. Menghentakkan kakinya di lantai sebagai ungkapan kekesalannya.


"Seorang pria dewasa yang sudah sering berada di dunia malam, bisa saja tidak tertarik melihat porselen lagi. Memilih hasil tembikar yang lebih unik"


"Aku ga paham" Dita mengerutkan keningnya.


"Lupakan. Saranku, kau harus berani mengejar cintamu"


Dita manggut-manggut. Masuk kembali dalam pelukan Kai. Terasa begitu hangat, Dita bahkan menggosokkan pipinya di dada Kai yang terasa empuk, seperti gumpalan busa.


Dita rindu, dan ingin bertemu pria brengsek nya.


"Dari mana?" tegur Kai yang menoleh ke arah pintu dan mendapati Dita sudah berdiri di ambang pintu kamarnya yang memang terbuka tadi. Gadis itu sejak pagi sudah pamit padanya untuk mencari Kai.


Kai dalam sosok baby sitter hanya bisa tersenyum geli. Bagaimana mungkin gadis itu bisa menemukan dirinya diluar sana, sementara saat ini Kai justru ada di rumahnya.


"Cari pria brengsek itu, tapi lagi-lagi ga nemu!" Kai hanya bisa mengulum senyumnya membelakangi Dita. Dia kasihan pada Dita, itu lah sebabnya Kai sudah meminta izin pagi tadi pada Mita untuk pulang lebih awal.


Dia juga rindu bertemu dengan Dita dalam wujud Kai. Setelah mengetahui isi hati gadis itu, Kai kini lebih percaya diri mendekati gadis itu.


"Kasar mau kemana lagi?"

__ADS_1


"Pulang, Ta. Kan setiap Jumat aku pulang," sahutnya tanpa menoleh ke arah Dita yang masih betah bersandar di daun pintu, melipat tangan di dada dan terus mengamati dirinya yang tengah berkemas.


"Tapi ini masih siang. Kasar ga usah pulang ya, please?"


"Kan cuma dua hari, Ta. Senin juga bakal balik," sahut Kai yang sudah siap untuk pulang.


"Tapi gimana kalau aku perlu teman cerita? aku kesepian Kasar. Cuma Kasar yang bisa buat aku nyaman cerita" kini keduanya sudah saling berhadapan.


"Aku pasti cepat pulang. Ini demi kebaikan... semuanya" lanjutnya setelah sempat berhenti.


***


Sesampainya di apartemen, Perguson sudah ada di sana. Menyiapkan semua yang Kai butuhkan. Pakaian baru, dan juga makanan dan minuman untuk nya selama dua hari ini.


"Ini bos" Perguson menyerahkan amplop putih yang masih tersegel. Perguson mengamati reaksi bosnya saat menerima amplop yang di luarnya ada logo salah satu rumah sakit besar.


"Ini..."


"Benar bos. Hasilnya sudah luar. Dua hari lebih cepat karena saya minta tolong segera di proses," ucapnya bersemangat.


Perguson pikir, bos nya akan begitu gembira dan sangat antusias untuk membuka isi amplop itu. Tapi Kai justru bengong, memandangi amplop itu tanpa berniat membukanya.


"Kenapa, Bos? bukannya bos ingin sekali mengetahui hasilnya?"


Apa yang dikatakan Perguson tidak salah. Dia sangat ingin mengetahui hasilnya. Hatinya bahkan berdebar kencang. Tapi dia juga manusia yang punya kelemahan. Dia takut, kalau ternyata hasilnya negatif. Apakah dia sanggup menerimanya? sementara selama ini dia sudah sangat menyayangi Kasa.


Seakan paham dilema yang melanda bosnya, Perguson menepuk paha Kaisar. "Semua akan baik-baik saja, Bos. Kalau memang takdir anak itu adalah milikmu, maka itu lah yang terjadi. Tapi kalau pun dia bukan darah dagingmu, maka biarkan hati bos yang menuntun. Jika rasa sayang itu lebih besar, maka tetaplah bersama mereka"


Segila dan setidak warasnya Perguson, kali ini apa yang dikatakan asistennya itu ada benarnya juga. Kai mengangguk pelan, lalu perlahan merobek penutup amplop itu untuk mengeluarkan kertas keterangan yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Wajah Kai tegang membaca kata per kata. Mulutnya terkunci rapat, mimik wajahnya sulit untuk diartikan Perguson yang sejak tadi mengamati dengan penuh ketidaksabaran.


Perlahan sorot mata itu bersinar, senyumnya terkembang. "Dia anak ku, Angkasa putraku...Dia anak ku, Perguson!" pekiknya gembira hingga mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya.


__ADS_2