
Satu masalah pelik mungkin terselesaikan dalam hidup Alana. Setelah saling terbuka dan jujur pada Gara, nyatanya pria itu menerima keadaannya.
"Bahkan kalau kamu mau, biar anak ini tinggal bersama kita. Ini anakmu, kamu berhak atas dirinya, kau ibunya yang sah"
"Tapi Ga, mereka menginginkan anak ini. Lagi pula, apa kamu tidak masalah akan keberadaan anak ini?" Alana mengamati jemari tangan Gara yang melingkar di jemarinya. Rasanya nyaman. Kini hatinya sudah merasa tenang.
"Hey, look at me.." Alana mendongak mengikuti kemauan Gara. "Ini darah daging mu. Anak yang kau kandung, bagian dari dirimu. Lantas alasan apa hingga aku menolaknya? aku mencintaimu dengan semua hitam putih hidupmu. Maaf jika untuk sesaat aku sempat goyah, meminta perpisahan darimu. Tapi saat tiga hari itulah aku tersadar, bersamamu lebih dari segalanya yang aku inginkan" Gara mengangkat tangannya yang menggenggam jemari Alana lalu membawanya ke bibirnya untuk di cium.
Keduanya saling bersitatap, melihat kesungguhan dalam bola mata masing-masing lalu Gara menarik Alana kedalam pelukannya.
Jalanan yang mereka lewati rasanya kurang panjang, agar keduanya bisa lebih lama bersama. Selepas dari taman, Gara memaksa untuk singgah menikmati sate Madura kesukaan mereka.
Wajah Alana terlihat bahagia. Setiap saat sudut bibirnya melengkungkan senyum bahagia yang menambah kecantikan diwajahnya.
"Udah kenyang?" tanya Gara setelah melihat Alana mengakhiri makannya. Bahkan setengah bagiannya dia berikan pada Alana yang juga dilahap habis oleh gadis itu.
"Hey boy..kamu udah kenyang belum?" bisik Gara didekat perut Alana. Alana tersenyum melihat tingkah Gara yang mengajak bicara bayi dalam kandungannya. Kini Alana tidak takut atau malu jika orang lain mencibir keadaannya. Asal Gara bersamanya, hujatan bahkan makian sekalipun dia sanggup untuk menerimanya.
Lagi pula saat itu tidak ada pengunjung selain mereka karena memang masih terlalu sore untuk menikmati sate Madura.
"Tahu dari mana dia cowok?" tanya Alana gemes melihat tingkah polos Gara.
"Yakin aja. Kayaknya kamu juga udah punya koneksi erat. Tampaknya dia sudah menyukaiku, bukan begitu boy?" Gara mengelus perut Alana. Respon makhluk kecil itu pun tak kuasa membuat Alana dan Gara terkejut.
Bayi mungil itu bergerak, menendang-nendang permukaan perut Alana dengan sangat jelas. Alana menarik tangannya ke atas perutnya agar pria itu bisa melihat keajaiban karya ciptaan Tuhan.
"Al..dia gerak..dia gerak Al.." ucapnya takjub. Alana ingin sekali menangis haru melihat tingkah Gara. Seputih itu hatinya menerima dirinya dan juga anak yang ada dalam kandungannya.
Tuhan, jika pria ini kelak bukan jodohku yang Engkau tetapkan, maka aku mohon berikan seseorang yang jauh lebih baik dari ku untuknya. Yang mencintainya lebih dari aku dan bisa membahagiakannya. Jangan biarkan pria sebaik ini disakiti lagi..
"Al..kok malah bengong lihatin aku. Ini dia gerak-gerak terus nih" mata Gara berbinar menyampaikan hal yang sudah biasa dialami Alana.
"Iya sayang..aku tahu.." ucapnya menahan sudut matanya yang sudah menampung banyak air mata yang siap turun.
"Apa dia sering seperti ini?"
__ADS_1
Alana mengangguk. Tidak bisa berkata apapun lagi. "Hai..salam kenal. Aku papamu" ucap Gara dipuncak perut buncit Alana, tepat saat air mata gadis itu menetes mendengarnya.
Bahkan Arun yang ayah biologisnya saja tidak pernah mengatakan hal itu pada anaknya. Mungkin bagi Arun anak yang dia kandung hanya alat untuk menyenangkan Lily dan mempertahankan rumah tangga mereka. Hanya itu, selebihnya dia tidak perduli.
"Kita pulang yuk" bisik Alana menahan isak nya.
"Kenapa nangis? aku salah ngomong ya? apa karena aku bilang aku papanya? ga boleh ya? maaf Al kalau aku lancang. Aku ingin sekali memiliki kalian berdua"
"Sssst...kamu jangan ngomong apalagi. Aku mencintaimu" ucap Alana menangkup wajah Gara dan mendaratkan satu ciuman di bibir pria itu. "Jadilah terang ku, saat aku tidak tau arah, tetaplah jadi terang ku, Ga. Maka aku akan berani melakukan apa pun" bisik Alana.
Sebelum Maghrib mereka tiba didepan rumah. Arun ada di sana, karena dia juga baru turun dari mobil, masih menenteng tas dan jasnya. Dia tertegun melihat kedua anak manusia itu. Rasa sakit kembali dia rasakan di hatinya. Dia pikir perpisahan yang Alana tangisi selama tiga hari kemarin jadi ujung hubungan mereka.
Tidak ingin lebih lama lagi merasa sakit, Arun masuk lebih dulu.
"Ga, aku masuk ya. Kamu pulang ga papa kan?" ucap Alana merasa tidak enak. Cuma kalau harus menemani Gara ngobrol lagi, Alana tidak akan sanggup karena tubuhnya juga lelah.
"Ga papa sayang. Kamu istirahat ya. Besok dan lusa masih harus ujian. Setelah itu aku mau ngajak kalian berdua jalan-jalan" katanya sumringah.
"Kami berdua?" Alana mengerutkan alisnya bingung.
"Terimakasih Ga"
***
Hingga menghilang ditikungan depan rumah itu, baru lah Alana masuk ke rumah. Tertatih dia menaiki tangga menuju kamarnya. Dia ingin mandi. Berendam dengan aroma therapy pasti sangat menyenangkan, dan hal itu menjadi pilihannya.
Setengah jam menghabiskan waktu dikamar mandi untuk memanjakan dirinya nyatanya berhasil. Alana kini lebih rileks dan pastinya tubuhnya begitu wangi.
Hanya mengenakan bathrobe putih, Alana keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih dibungkus handuk yang berwarna senada. Begitu membuka pintu kamar mandi, Alana terpekik saat mendapati Arun sudah ada di kamarnya. Beruntung Alana segera menutup mulutnya.
"Abang ngapain di sini?"
Arun tidak langsung menjawab dia memperhatikan Alana. Matanya mengunci tatapan Alana padanya.
"Bang, keluar sana. Aku mau ganti baju"
__ADS_1
"Kenapa aku harus keluar? kau istriku, ganti baju saja, tidak masalah kan?" Arun bangkit, mendatangi Alana hingga gadis itu ketakutan, mundur hingga mentok ke dinding.
"Bang.."bisik nya. Mata Alana masih terkunci pada mata Arun yang terlihat berbeda, membara dan tajam seperti singa buas.
"Ssssst..kau membuatku kesal Al" bisik nya tepat didepan wajah Alana
"Aa-pa yang aku lakukan memang nya?"
"Kau melukai hatiku lagi"
"Aku.."
"Kenapa kau bisa bersama dia lagi Al? tidak bisakah hanya ada aku di hatimu?"
Alana mencium bau minuman dari mulut Arun. Dia tebak, pria ini pasti sempat menenggak segelas dua gelas minuman beralkohol.
"Bang, lepaskan aku.." pinta Alana saat Arun merapatkan tubuhnya pada Alana.
"Bukan kah kau sudah putus dengannya tiga hari lalu? kau bahkan sampai tidak sadarkan diri, membuatku takut dan ingin berlari mencari pria itu, membuat perhitungan dengannya kalau sampai kau kenapa-napa. Tapi hari ini, setelah aku pikir aku berhak mengejar mu lagi, mendapatkan hatimu.." Arun menunjuk dada Alana berkali-kali.
"Kau malah bersamanya lagi. Aku harus apa Al? katakan aku harus apa agar kau mau membuka hatimu untukku?"
Satu hal yang tidak disangka Alana, kalau Arun bahkan sampai meneteskan air mata saat mengatakannya. Dia kira selama ini Arun hanya menggodanya tidak bermaksud mengatakan isi hatinya.
"Aku mencintaimu Alana. Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku bukan tidak sanggup meninggalkan Lily, aku bisa menceraikan saat ini. Tapi aku tahu, dia akan sangat terluka bahkan bisa mengakhiri hidupnya yang pastinya membuat mu semakin membenci ku"
Arun mundur selangkah. Rasa mual menyeruak hingga membakar tenggorokannya. Buru-buru Arun berlari ke kamar mandi, berjongkok di wastafel dan memuntahkan isi perutnya, lalu menampung air untuk membersihkan mulutnya.
"Bang.." Alana mengejar, khawatir akan keadaan Arun.
"Aku harus apa Al? katakan! mencintaimu dalam diam sangat menyiksa. Ada Lily yang harus aku jaga perasaan nya, tapi perasaan ku sendiri tersiksa tidak bisa memiliki" Arun mencoba berdiri, tapi terjatuh, hingga Alana membantunya bangkit.
"Bang.."
Arun menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya, mendorong tubuh Alana hingga menyandar di dinding. Kalimat Alana menggantung di udara, saat Arun menyatukan bibir mereka. Alana menolak, sekuat tenaga mendorong tubuh Arun, tapi pria yang sudah dikuasai minuman itu lebih kuat. Mel*mat bibir mungil itu, seolah ingin Alana tahu besarnya perasaan Arun untuk nya.
__ADS_1
*** Hai semua, terimakasih udah mampir dan masih setia. Eike jadi bingung nih, kok bisa jatuh cinta sama bang Arun dan aa Gaga disaat bersamaan. Kalian lebih setuju Alana sama siapa gaes? komen ya..makasih..🙏🙏😘😘😘