Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 35


__ADS_3

Kedatangan Sania disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga Dirgantara. Alana mencium pipi gadis itu dan. Berterima kasih karena sudah mau datang.


Keramahan mereka membuat Sania merasa sudah menjadi bagian keluarga itu. Sangat nyaman. Dia memutuskan untuk membantu menyiapkan makanan meski Alana memaksa untuk duduk saja bersama Arlan dan Arun yang ada di ruang depan.


"Hai, Ay," sapa Sania ramah. Sudah lama juga tidak bertemu dengan Ayra. Kata Alana berkat les dengan Sania, Ayra bisa lulus dengan nilai bagus. Di SMA juga nilai akademik Ayra meningkat. Tentu saja Sania senang mendengarnya.


Ada yang aneh dengan Ayra. Sapaan Sania tidak dibalas gadis itu, hanya menoleh, lalu kembali ke dekat ibunya, meminta minum. Meski tidak terlalu jelas menunjukkan sikap cueknya, tapi Sania bisa merasakan kalau Ayra sedang marah padanya.


***


Acara makan malam pun tiba. Arun di kursi utama lalu ada Alana di sebelah kanan. Arlan duduk di sebelah kiri Arun lalu menarik tangan Sania duduk di sampingnya tepat berhadapan dengan Ayra yang lagi-lagi bersikap dingin padanya.


Selama acara makan malam itu, Arun banyak bercerita. Sesekali dia juga mengajak Sania ikut cerita dengan bertanya hal-hal kecil hingga sampai pada pokok pembahasan mengenai jurusan dan kampus tempat Arlan seharusnya kuliah.


"Papa sudah hubungi teman Papa di Jerman, kamu akan berangkat bulan depan."


Suasana hening. Dentingan alat makan pun sudah tidak terdengar lagi.


"Papa kenapa memutuskan sepihak?" Tampak rahang Arlan menegang. Bisa-bisanya ayahnya sudah mendaftarkan dirinya padahal terakhir mereka bahas, dia sudah menolak.


"Ini semua demi kebaikan kamu, masa depanmu. Kamu anak laki-laki kami satu-satunya, tanggung jawabku meneruskan perusahaan ini!"


"Tapi aku gak mau, Papa. Aku ingin buat perusahaanku sendiri!"


Arun tampaknya sudah naik darah juga. Berulang kali memberikan pengertian pada anaknya bahwa perlunya pendidikan ekonomi, meskipun dia akan buka perusahaan di industri berbeda dengan dirinya, tetap saja perlu pengetahuan manajemen yang baik.


"Pokoknya kamu tetap ke Jerman. Ingat, nama baik keluarga kita, jangan sampai ternoda dengan kamu membuang tradisi keluarga. Kakek, Papa, kami semua pergi menuntut ilmu sampai ke luar negri, kenapa kamu gak?"


Tampaknya pembahasan ini jadi alot. Arlan melirik wajah Sania yang sudah pucat. Dia tidak ingin membuat gadis itu lebih ketakutan lagi menyaksikan pertengkaran antar dirinya dengan sang ayah. Arlan pun mendorong kursinya dan bangkit, lalu tanpa mengatakan apapun, pria itu pergi meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


"Mas, aku kan sudah bilang, nanti aja dibahas pelan-pelan. Jangan dipaksa begini. Lihatkan, keadaan tambah kacau!" hardik Alana mengusap wajahnya. Kapan pertengkaran ayah dan anak ini berakhir?


"Aku hanya mengatakan yang baik untuknya. Kalau dia tidak kuliah ke sana, bagaimana dia bisa memujudkan harapan kita? Nama baik keluarga Dirgantara harus tetap terjaga. Jangan sampai ada aib yang membuat nama baik kita dicemooh, dihina bahkan dianggap sebelah mata oleh orang lain!"


Perkataan Arun menampar Sania dengan jelas. Aib... Bagaimana ini? Dia belum mengatakan soal kehamilannya. Bagaimana kalau sampai mereka tahu dan tidak menerima anaknya?


Wajah Sania memucat. Keningnya basah mengeluarkan keringat sebesar jagung.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Alana menyentuh tangan Sania yang dingin seperti es.


"Lihat ini, Mas! Sania jadi ketakutan melihat pertengkaran kalian!"


Arun jadi merasa tidak enak. Dia mengundang Sania ke sini, selain ingin mengucapkan terima kasih atas pengorbanannya di rumah sakit yang menjaga Arlan, Arun juga ingin menyampaikan perihal beasiswa itu.


Gagasan soal memberikan beasiswa pada Sania memang berasal dari Alana. Dia ingin membantu gadis itu. Terlebih setelah tahu kalau Arlan sangat mencintai Sania, dia ingin memberikan jalan pada Sania agar diterima Arun kelak.


Sania berusaha keras untuk mengangguk. Dia sendiri sedang kacau saat ini. Ketakutan yang sempat sirna tadi kini kembali. Bagaimana kalau Arlan jauh darinya?


"Satu hal lagi, om sudah mendaftar kamu kuliah di kampus terbaik di kota ini. Maaf, Om tidak bisa menawarkan kamu kuliah di tempat Arlan di Jerman, bukan soal uang, tapi Om ingin dia fokus dulu pada kuliahnya. Takutnya, kalau kalian dekat, Arlan jadi banyak main."


Lagi-lagi pernyataan Arun menampar Sania. Pupus sudah. Tidak ada lagi harapan. Perlahan tangannya turun ke bawah meja, mengusap permukaan perutnya dengan tangan satunya mencengkram pegangan sendok.


***


Kalau bukan ingin mengantar Sania, Arlan tidak akan turun malam ini. Memikirkan Sania diantar sopir tanpa mengucapkan selamat malam padanya, membuat Arlan menurunkan egonya.


"Ka-kamu baik-baik aja?" Sania memecah keheningan di dalam mobil. Dongkol, dan juga emosi, itu yang dirasakan Arlan saat ini, jadi tidak mungkin dia baik-baik saja. Namun, hatinya tidak ingin membuat Sania khawatir.


"Aku baik. Maaf soal tadi. Begitulah, aku dan Papa tidak pernah bisa akur kalau soal bahas prinsip dan keinginan!"

__ADS_1


Sania kembali mematung. Dia punya misi kini, meski tadi tidak seratus persen menyanggupi, tapi kepalanya terlanjur mengangguk di bawah tekanan Arun.


"Mungkin kamu sebaiknya mempertimbangkan apa yang dikatakan papa kamu. Itu semua demi kebaikan kamu juga."


Ciiiit...


Arlan menghentikan mobilnya mendadak, tidak di tepi jalan, tapi di tengah.


"Kamu bicara apa, sih? Kamu mau kita jauhan? Apa kamu udah muak sama aku?"


Nah kan, selalu begitu. Kenapa Arlan selalu berpikir kalau dia tidak menginginkan hubungan mereka? Kalau ada orang yang paling menginginkan hubungan ini langgeng, sampe kakek-nenek, itu dia.


"Bukan begitu. Coba kamu pahami juga gimana perasaan papa dan mama kamu. Orang tua pasti berharap anaknya sukses dan punya kehidupan yang layak nantinya. Gak semua orang bisa seperti kamu dapat privilege, kuliah di luar negeri!" Nada Sania tiba-tiba meninggi. Semua mengalir begitu saja. Otaknya lelah berpikir dan masalah yang saat ini dia hadapi juga buatnya merasa muak.


"Kok kamu jadi marah? Belakangan ini aku lihat kamu mudah sekali emosi. Kamu baik-baik aja, San?" Arlan menyerongkan tubuhnya agar bisa fokus pada Sania.


Amarah yang meledak-ledak belakang ini, tanpa dia sadari bisa jadi karena kehamilannya. Hormon wanita hamil selalu naik turun dan moodnya berubah-ubah.


"Aku lelah. Aku mau pulang." Sania tidak ingin mendebat lagi, dia capek dan kepalanya juga terasa berat. Belum lagi rasa mual dan kerap muncul tapi harus dia tahan.


"Kita harus bicara. Kenapa kamu ngotot mendukung papa dan mama? Kamu mau menjauhi aku?"


"Aku kan udah bilang bukan begitu. Pokoknya kamu ikutin aja apa kata papa kamu!"


"San! Dari tadi kamu menyudutkan aku biar terima tawaran papa. Sebenarnya ada apa? Berapa kamu disogok sama mereka?"


Sania merasa tertampar. Sakit kepalanya kian menjadi, ditambah amarah yang besar pada Arlan karena tuduhannya yang tidak bertanggung jawab ini.


"Terserah!" salak Sania penuh emosi, lalu membuka pintu mobil, dan bergegas pergi!

__ADS_1


__ADS_2