
Perbincangan sepasang anak manusia itu terganggu oleh ulah seorang pria yang tengah terbakar cemburu. Alana benar-benar mati gaya dipantau oleh Arun yang sedang bermain basket tak jauh dari tempat mereka duduk.
Pria pencemburu itu kadang mendribel bola dengan sangat kuat, agar dentuman bola itu merusak konsentrasi Alana saat mendengarkan Gara bercerita.
Kalau Alana merasa tidak nyaman hingga mengakibatkan kegelisahan pada tingkahnya, beda dengan Gara, dia tidak perduli sama sekali, karena dia tahu Arun yang sedang bertingkah bak anak kecil ingin merusak momen kebersamaannya dengan Alana, hingga memutuskan untuk segera pulang. Gara tahu semua itu, taktik Arun terlalu mudah untuk di baca.
"Al, ambilin aku minum" ucap Arun menginterupsi pembicara Gara yang sedang menceritakan sesuatu yang membuat Alana tertawa terpingkal.
"Bentar ya Ga" saat Alana sudah tidak tampak, Arun mendekat kearah Gara.
"Kenapa sih lo masih aja deketin Alana? gue kan udah bilang, jauhi Alana!!"
"Sorry bang, gue ga bisa. Gue justru bakal nikahi Alana setelah kita lulus sekolah"
"Lupain niat lo, itu ga bakal terjadi, karena.." kalimat Arun yang dilontarkannya menggebu-gebu tadi terhenti saat Alana tiba membawa segelas air putih.
"Ini bang"
Penuh semangat Arun mengambil minumannya, menghabiskan lalu menyerahkan kembali pada Alana, dan tanpa berkata apapun lagi, dia berlalu kembali ke ring basket.
Satu jam lebih mengawasi alih-alih bermain basket, Arun menyerah untuk mengakhiri permainan basketnya. Toh dia sudah lelah, namun musuhnya yang ingin diusir tampak bergeming, tidak merasa terganggu.
Arun memilih masuk, membasuh wajahnya dari keringat yang memang mengucur deras. "Ly, mana gitarku?" tanyanya menghampiri Lily yang ada di dapur bersama bi Minah. Lily mengerutkan dahi, tidak mengerti melihat tingkah Arun. Selama ini tidak pernah mencari gitarnya.
"Diatas lemari pakaian, buat apa hun?"
"Mau main gitar, mau nyanyi" sahutnya cuek, berlalu. Tidak berapa lama terdengar suara Arun mengumandangkan lagu slow rock dari grup band lawas, Bonjovi. Lagu All about loving you mampu membuat Alana dan Gara menghentikan perbincangan mereka. Suara sound gitar yang keras sungguh memekakkan telinga.
"Ngulah lagi Abang ipar mu yang gila itu beb" ujar Gara kesal. Dia tahu tingkah Arun ini untuk membuatnya tidak betah di sini.
"Sabar ya Ga" Alana jadi tidak enak hati. Dia juga mengutuk geram akan tingkah Arun ya v kekanakan itu.
Setiap mereka memulai bicara, Arun akan semakin mengencangkan suaranya diiringi suara gitar listrik nya.
"Bentar ya" Alana bangkit. Dia perlu menegur Arun akan sikapnya itu. "Bang, main gitarnya di atas kek, kita lagi ngobrol tahu"
__ADS_1
"Ini rumah aku, terserah dong mau main dimana. Suruh dia pulang, ga tahu malu, udah berapa lama dia di sini"ucap Arun cuek, masih memetik senar gitar nya.
"Iya aku tahu ini rumah mu, tapi jangan buat malu aku dong didepan Gara" Alana sudah habis kesabaran.
"Kalau ga suka, usir aja dia. Ingat ya, aku ga suka kau bawa dia ke rumah ini"
"Ok, besok-besok kami ga akan di sini, aku akan ikut dia nongkrong di tempat lain"
"Ga boleh. Kau ga boleh berkencan dengan dia, atau.."
"Atau apa?" tantang Alana dengan bola mata membulat.
"Atau aku akan kasih tau kau ist.."
"Bang.."pekik Alana menghentikan ucapan Arun. Tangan Alana spontan terangkat menutup mulut Arun. Suasana berubah kikuk. Keduanya saling tatap, lama dan dalam kebisuan.
Arun menggengam tangan Alana, membawa tangan mungil itu turun, menuntun dan meletakkan di dada Arun yang berdegup kencang. Alana merasakannya. Semu merah di pipinya membuat Arun semakin terpikat.
Suara langkah dari arah belakang membuat Alana yang lebih dulu tersadar menarik tangannya, dan segera berlalu keluar.
"Ga, maaf ya. Kamu pulang dulu"
"B*adab!! bisa-bisanya dia nyentuh wajah istri gue" umpat Arun memukul sandaran sofa.
***
Minggu pagi, tanpa pemberitahuan Ema datang dengan segala buah tangan mengunjungi Lily. Tentu saja kedatangan wanita itu membuat Lily gelagapan.
Beruntung Alana yang lebih dulu melihat Ema datang, segera berlari memberitahu Lily yang sedang berada di kamarnya.
"Kak, tante Ema datang"
Wajah Lily seketika pucat. Buru-buru dia mencari sumpelan perutnya yang selama ini menjadi alat pendukung kebohongannya.
"Bantu Al, ikatkan dari belakang" pintanya semakin kalap.
__ADS_1
Bergegas Alana menuruti permintaan Lily. Tiba-tiba suara klik di knop pintu terdengar, sontak keduanya terpekik hebat. Namun saat melihat sosok Arun lah yang datang, keduanya bisa bernafas dengan tenang.
"Ly, mama nungguin itu"
"Bentar hun, susah ni ngikatnya"
Arun hanya berdiri di tempatnya, memandangi tingkah kedua kakak adik itu yang saling bantu. Miris memang, Lily harus membuat mama mertuanya percaya kalau dirinya tengah hamil, sementara yang tengah adalah Alana yang berusaha kuat menyembunyikan kehamilannya. Dan yang paling lucu, keduanya adalah istrinya.
Permainan ini sudah semakin seru, hingga Arun yang awalnya menolak ide gila Lily, kini malah menikmatinya. Arun pikir ini juga sebagai hukuman buat mamanya yang selalu ingin mendapatkan cucu bagaimanapun caranya, sekalipun harus melukai perasaan orang lain.
"Hai ma..kok ga bilang-bilang dulu mau ke sini?" tanya Lily berjalan mendekati mertuanya. Lily suda melatih cara berjalannya, agar terlihat lebih alami bak wanita pada umumnya.
"Mau buat kejutan. Lagian kenapa mama harus ngomong dulu mau ke sini. Gimana kandungan mu sayang?" Ema mengelus buncit Lily setelah keduanya duduk berdampingan.
Dari tempat duduknya Arun ingin tertawa melihat ibunya. Dia tidak tahu kalau yang dia elus itu bukan berisi anak, tapi sumpelan implan yang menyerupai perut wanita hamil.
"Baik ma. Berkat doa mama kita sehat"
Lima belas ngobrol, Gara tiba untuk menjemput Alana seperti yang sudah mereka sepakati kemarin. Lily dengan semangat memanggil Alana, namun terlebih dulu memperkenalkan Gara pada Ema.
"Ma, ini pacar Alana, namanya Gara" ucap Lily tersenyum. Ema menerima uluran tangan Gara sembari menatap Gara.
"Kamu bukan nya anak pak Helmi? Direktur PT IndoFourt?" tanya Ema menajamkan memorinya.
"Benar tante. Tante kenal sama orang tua saya?"
"Kenal dong. Orang besar dan terpandang di kota ini masak tante ga kenal. Lagi pula mama kamu teman arisan tante" ucapnya sumringah. Tidak menyangka kalau anak dari direktur perusahaan besar yang sedang didekati suaminya untuk menjalin kerjasama justru ada di rumah anaknya. Arun sendiri berlalu pergi tak kala Gara menanggapi perkataan mamanya. Dia benci mendapati pria itu mengajak Alana keluar.
Sementara di kamar, Alana sibuk mencari blouse yang agak longgar, agar perutnya yang semakin buncit tidak terlihat.
"Buruan Al, Gara nungguin" ucap Lily memperhatikan Alana yang bolak-balik berganti baju. Setelah pas keduanya turun bersama.
"Tante, aku pamit dulu ya" ucap Alana menyalim tangan Ema.
"Hati-hati kalian ya. Eh, tapi tunggu dulu. Tante lihat perut kamu kok makin besar. Kayak wanita hamil. Kamu ga lagi hamil kan, Al?"
__ADS_1
*** Hai-hai, aku kambek. Kali ini aku mau promoin novel teman aku yang lain, yang sangat bagus buat menemani hari-hari kamu. Pasti nya buat baper dan penasaran pengen lanjut terus..kuy kepoin