Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Menghindar


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, baru Alana mau turun. Itu pun sudah berulang kali Lily memanggil nya untuk makan.


"Kau ga enak badan Al?" tanya nya melihat wajah Alana yang pucat dan mata sembab.


Alana menggeleng, menggigit sandwich di tangannya. "Ga kak, aku baik"


"Mmm.. kakak harap kau nyaman di rumah ini. Kalau pun sikap Arun masih cuek padamu, kau harus bersabar ya"


Lagi-lagi Alana hanya mengangguk. "Kak, besok aku masuk sekolah aja"


"Loh bukannya baru lusa?"


"Aku kangen teman-teman ku kak"


"Teman-teman atau Gara?" goda Lily tersenyum. Alana hanya menanggapi dengan wajah datar. Memikirkan Gara membawa kebahagiaan tersendiri padanya dulu, namun kini justru membuat nya takut.


***


Sepanjang hari Alana hanya bermalas-malasan di depan televisi. Selesai sarapan yang sudah kesiangan, Alana mencuci piring yang dia pakai karena hanya itu saja yang kotor. Dia juga sudah meminta pada bi Minah pekerjaan yang bisa dia lakukan, tapi wanita paruh bayah itu menolak dengan halus.


"Jangan non. Saya udah biasa mengerjakan semua nya sendiri. Ini tugas saya"


"Tapi kan aku ingin membantu"


"Ga papa non. Bibi bisa lakukan sendiri. Nanti kalau bibi keteteran, bibi akan minta tolong pada non Alana" ucap bi Minah mengambil kain yang ingin di setrika Alana.


Lily pun ikut menegaskan pada Alana, kalau dirinya tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun di rumah itu. Alana hanya perlu membuat dirinya nyaman saja.


Menatap layar televisi selama berjam-jam membuat mata Alana lelah, hingga tidak sanggup lagi untuk terbuka. Dia bosan. Tahu begini, Alana memilih menerima ajakan Lily yang mengajaknya ke swalayan terdekat untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

__ADS_1


Sungguh mata nya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Layar televisi semakin mengecil tertangkap retina nya, tidak lama Alana jatuh dalam tidurnya.


Sofa empuk itu mampu menampung tubuh mungilnya, hanya saja rambut panjang nya yang indah terjuntai hingga menyentuh lantai.


Suara dari televisi menjadi nyanyian nina bobok bagi nya, membuai semakin jauh dalam mimpi. Dalam mimpi Gara menggengam tangannya erat, air mata yang sempat menetes di pipinya perlahan di hapus pria itu, lalu mengecup kening Alana lembut.


Satu senyum tersungging di bibirnya membuat wajah Alana semakin cantik saat tertidur. Entah bagian mana yang di nikmati pria itu, hingga langkahnya yang ingin naik ke lantai dua terpaku di hadapan gadis itu.


Untuk sesaat hati sedingin es nya terpaku melihat senyum yang terlukis di wajah Alana. Manis. Kalau saja dia mau mengakui, paduan senyum dan bentuk wajah Alana begitu pas. Senyum itu membingkai wajah Alana hingga menampilkan seraut wajah polos dan damai.


Kini tatapan nya jatuh pada untaian rambut Alana yang tergerai indah. Alana begitu mempesona seperti Dewi yang terlelap. Jujur, Arun terpesona. Namun saat gadis itu mulai bergerak, Arun buru-buru pergi dari sana.


Tersadar telah memperhatikan musuh nya, Arun mengutuk dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa terlena menatap Alana? gadis polos yang tidak modis dan selalu tampak culun?


Saat melintasi ruang televisi kembali guna mencari keberadaan Lily, Arun memalingkan wajahnya dari arah sofa. Berusaha sekuat mungkin untuk menahan godaan menoleh pada Alana.


Di setiap sudut rumah sudah di cari Arun, tapi Lily tidak ada. Bahkan bi Minah tempat nya bertanya pun juga tidak tampak. Berulang kali Arun mencoba menghubungi Lily, tapi tidak ada jawaban.


Hanya dua jam Arun berada di sana, saat keluar, pria itu sudah mendapati istrinya dalam kamar. "Dari mana hun?"


"Oh, belanja ke supermarket sama bi Minah. Isi kulkas suda habis" ucap nya tersenyum.


"Ini apa? kamu lagi dapat hun?" tanya nya mengambil satu bungkus persegi empat berwarna merah dari dari dalam kantong kresek.


"Oh, itu punya Alana. Dia yang dapat. Jadi malam pertama kalian di tunda lagi, hun" goda Lily yang mampu membuat nafas Arun tercekat.


Tidak ingin mendengar lebih banyak, Arun berlalu, masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.


Malam nya, Alana kembali mengurung diri. Dengan sengaja melewatkan makan malam untuk menghindari Arun. Alasan klasik, perut nya nyeri saat hari pertama menstruasi. Lily paham, tidak memaksa adiknya itu, dan meminta bi Minah membawakan makan malam Alana ke kamar.

__ADS_1


***


Pagi nya, Alana bangun pukul lima pagi seperti saat masih tinggal di rumah Santi. Dia membantu bi Minah merajang cabai dan mengiris bawang untuk membuat nasi goreng, menu sarapan pagi ini. Ingin membantu lebih lanjut, tapi bi Minah menyudahi bantuan Alana dengan meminta gadis itu mandi saja.


"Oh iya bi, bang Arun ke kantor jam berapa?"


"Biasa habis sarapan sih non, setengah 7" sahut nya sibuk mengulek sambal.


"Kalau pulang kerja?"


"Ga tentu non. Tapi biasanya jam lima atau setengah enam udah sampai rumah, kenapa non?"


"Oh ga bi. Ga papa. Kalau gitu aku mandi dulu nya bi. Mau sekolah, takut telat" ucap Alana mencubit pipi bi Minah sembari tersenyum.


Kehadiran Alana di rumah itu walau baru di hari membawa kegembiraan tersendiri bagi bi Minah. Pasalnya selama ini, tidak ada yang mau mengajak dirinya bercerita di rumah ini. Nyonya rumah nya selalu asik dengan dunianya, kalau tidak nonton drama Korea, Lily pasti masuk ke ruang jahitnya, Berjam-jam di sana.


Setelah mengetahui jadwal Arun, memudahkan Alana untuk bisa menghindari pria itu. Maka mulai hari itu, pukul enam pagi Alana sudah berangkat ke sekolah. Selama ini juga dia tida pernah sarapan di rumah, selalu membawa bekal untuk sarapan dan makan siang, jadi tidak masalah kalau dia pun meneruskan kebiasaannya itu hingga saat ini.


"Loh, ga sarapan dulu non?" tegur bi Minah melihat Alana pamit padanya sembari memasukkan dua lembar roti isi coklat dan juga sedikit nasi putih beserta lauk di box lainnya untuk makan siang nya nanti.


Lily selalu memberi nya uang, namun Alana tidak ingin menghamburkannya dengan jajan diluar. Dia yakin suatu hari nanti dia pasti butuh banyak uang untuk mewujudkan impiannya, jadi dia harus berhemat dari saat ini.


"Di sekolah aja nanti bi. Makasih ya, aku pamit" ucap nya melambai pada bi Minah.


Punggung Alana yang baru saja keluar dari gerbang sempat tertangkap oleh Lily yang baru saja turun dan bergegas depan, namun melihat Alana yang sudah berjalan cepat, Lily membatalkan niat nya untuk memanggil gadis itu.


*Hai semua, makasih udah mampir di novel ku kali ini. Jangan lupa, kesediaannya mendukung novel ini, beri vote, like dan komen nya ya kesayangan, kamsamida 🙏🙏😘


btw, aku bawa lagi ni novel teman ku yang ga kalah seru, kuy mampir 🙏

__ADS_1



__ADS_2