
Arun mendiaminya seminggu tepat sejak kejadian itu. Sudah berbagai cara membujuk, memberi perhatian, tapi Arun tidak perduli. Kini pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Arlan, bermain dikamar anak itu hingga beberapa kali ketiduran dikamar nya hingga pagi.
Alana terpuruk. Bingung harus berbuat apa. Belum sempat menjelaskan apapun, Arun pasti sudah akan berangkat kerja. Pulangnya, Alana sudah menunggu dengan berdandan cantik, Arun juga akan cuek, mengajak Arlan jalan-jalan sore keliling komplek.
Tapi hari ini, Alana tidak mau didiami lagi. Dia harus bicara dengan Arun, dan pria dingin itu harus mau mendengarkan penjelasannya. Terserah, kalau setelahnya dia akan dihukum juga. Dia sadar, kalau sudah salah dengan pergi seorang diri ke club itu.
Mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah, penuh semangat Alana berlari keluar kamar, menuruni anak tangga dengan cepat dan tiba di depan pintu dengan wajah penuh sumringah. Tidak ada yang lebih baik dari memberikan senyuman terindah saat menyambut suami pulang, kan?
"Abang udah pulang?" Alana menghampiri Arun dan menghadang langkah pria itu. Kembali senyumnya mengembang untuk meluluhkan hati prianya. Tapi Arun masih tetap cuek, tidak perduli, mengambil arah lain untuk masuk ke rumah.
Melihat usahanya mengalami kebuntuan, Alana mengejar pria itu. Kini berbalik, Alana yang berubah kesal. Dia sudah dandan, memilih pakaian yang ehem..., sedikit menggoda, namun si pria dingin itu masih tidak perduli.
"Ga menghargai usahaku banget nih orang!" umpatnya menghentakkan kaki. "Ga bisa dibiarin, ini rumah tangga bakal karam kalau diam-diaman terus."
Alana masuk dengan penuh semangat. Semua yang ingin dia sampaikan sudah tersusun rapi di kepalanya. Kalau mau ribut, ya.. ribut saja sekalian. Dia paling benci kalau harus didiami begini.
Begitu buka pintu kamar, ternyata pria itu baru masuk ke dalam kamar mandi. Melipat tangannya, Alana duduk ditepi ranjang, menanti dengan sabar pria itu keluar. Suara gemericik air menjadi dawai dalam menabung kesabarannya.
Satu hal masuk dalam pikiran Alana, bisa saja pria itu nanti setelah berpakaian langsung pergi, masuk ke kamar Arlan atau ke ruang kerjanya. Jadi untuk mengantisipasi gagalnya misi Alana untuk memberi penjelasan, Alana mengambil kunci lemari, dan melemparnya ke bawah kolong ranjang.
Tepat saat terdengar suara handle pintu di putar, keduanya sempat laga mata namun, Arun kembali buang muka. Bertambah lah kekesalan Alana. Pria itu melangkah kearah lemari, keningnya berkerut kala melihat tidak ada kunci tergantung di daun pintu lemari. Dengan berkacak pinggang memutar tubuhnya menghadap Alana.
Saat gencatan senjata begitu, Alana masih sempat-sempatnya terpukau dengan tubuh Arun yang atletis, jujur Alana tergoda ingin mengg*rayanginya. Bahkan mulutnya sampai ternganga menatap kagum dada bidang milik Arun.
"Mana kuncinya, Al?" Arun menengadahkan tangan kehadapan Alana, karena kalau hanya dari tatapan mata, istrinya tidak akan paham.
"Ntar, aku kasih. Kita ngomong dulu" jawabnya berdiri. Terdengar hembusan nafas kasar Arun yang menandakan tidak ingin mendengar apapun dari Alana, setidaknya untuk saat ini.
"Buruan Al, mana? aku mau pergi ini" tuntut Arun tidak sabar
__ADS_1
"Pergi? mau kemana?" tanya Alana kesal. Arun baru saja pulang dan akan pergi lagi? apa itu cara dia menghukum dirinya? apa tidak cukup hukuman selama satu minggu ini?
"Ada urusan"
"Ga boleh"
"Kok ga boleh?" Arun memicingkan sebelah matanya.
"Ya boleh lah. Ini udah malam, lagian abang pergi ga bilang dulu sama aku" suaranya sudah mulai naik level.
"Oh..begitu?" Arun maju, berdiri tepat didepan istrinya, hingga Alana dengan tubuh mungilnya harus mendongak keatas. "Kemarin, kau pergi kemana pun yang kau suka, yang kau mau dan jam berapapun, ga ada ngomong dan izin sama aku, kan?"
Alana terdiam. Jadi ini masih bagian dari balas dendam dan hukuman. Ok, Alana paham.
"Aku...aku mau minta maaf. Aku salah" ucapnya mendekat, lebih merapatkan tubuhnya pada Arun, namun saat tangannya ingin menyentuh perut kotak-kotak itu, Arun menjauh. Sontak Alana mendongak lagi, menunjukkan wajah tidak senang dengan penolakan pria itu.
"Kenapa mengelak?" tanyanya tidak terima.
"Ish, apaan sih? kok gitu?" protesnya.
"Lagi ga mood"
"Tapi kan pegang aja. Sombong amat! awas ya kalau punya aku nanti dipegang-pegang. Ga boleh!"
Arun hanya menanggapi dengan mendengus kesal. Mencari kunci di laci nakas, tapi tidak ada.
"Mana kuncinya, Al?" ulang Arun.
"Maafin aku dulu" kali ini suara gadis itu melembut.
__ADS_1
"Aku bisa aja maafin seribu kali, tapi apa kau bisa berubah? tolong hargai aku, Al. Aku suamimu"
"Memangnya kesalahan aku sebesar apa sih? aku juga kan udah minta maaf. Lagi pula aku ke sana karena mau cari Dita, kan?"
"Kau masih tanya sebesar apa kesalahanmu? kau tahu yang buat aku marah bukan hanya karena kau pergi tanpa izin, tapi juga karena kau pergi ketempat berbahaya, sendirian! Bayangkan kalau hal buruk terjadi padamu, dan saat itu aku jauh dari mu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau terjadi hal buruk padamu. Tau kah kau, aku bisa mati kalau kau tidak ada!"
Alana diam. Meresapi satu demi satu kalimat yang diucapkan Arun. Hatinya menghangat. Ada rasa bersalah di hati. Berulang kali dia bertindak bodoh, hanya mengandalkan pikirannya saja. Arun benar, dia seorang istri, harus tau batasan, dan juga harus bisa menjaga kehormatan suaminya.
Huaaaaaa....huaaaaa..hiks
Tahu kan, kalau Arun begitu lemah dengan air mata gadis itu. Tidak punya pilihan, Arun mendekat dan merengkuh dalam pelukannya. "Sudah, jangan nangis" bisik Arun mengelus punggung Alana.
"A-aku jahat. A-aku istri yang bodoh, istri payah yang selalu bertindak sesuka ku. Aku minta maaf, bang. Aku menyesal. Huaaaaaa...."
"Iya, udah diam, Al. Nanti kepalamu sakit"
"Maafin dulu"
"Iya, tapi jangan nakal lagi. Dengar..." Arun melerai pelukan mereka, sedikit menunduk agar bisa melihat mata gadis itu, dan mengusap jejak air mata di pipi Alana.
"Aku tidak menuntutmu jadi istri yang sempurna. Aku hanya minta jaga dirimu, jaga kepercayaanku padamu"
Alana hanya mengangguk. Menatap wajah teduh Arun, malaikat dalam hidupnya yang begitu sabar membimbingnya.
Perasaan lega melingkupi hati Alana kini. Dia janji dalam hatinya, akan membuat Arun bangga, dengan menjadi istri yang penurut.
Matanya kini turun ke bibir pria itu, godaan ingin menciumnya begitu besar, tapi dia malu untuk memulai lebih dulu. Lalu sorot matanya berpindah ke dada bidang pria itu, terus turun ke bawah ke roti sobeknya, lalu lebih kebawah lagi, tempat bersembunyi nya mainan kesuksesannya.
Glek! Alana susah payah menelan ludah. Matanya bergerak liar sejurus dengan pikiran kotornya. Arun yang melihat reaksi Alana, hanya tersenyum. Perlahan tangan Alana kembali menyentuh perut pria itu, namun lagi-lagi Arun mundur.
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Masih dalam masa hukuman. Selama jadi istri yang susah diatur, suka asal, bertindak sesuka hati, itu hukuman yang pantas," ucapnya tersenyum.