
"Hati-hati dijalan ya, bang" ucap Alana yang masih rebahan di kasur.
"Iya, istirahat ya sayang, jangan lupa makan siang, dan obatnya di minum" sahut Arun membelai rambut panjang Alana. Dari kemarin gadis itu demam, dan langsung dibawa Arun ke dokter. Hanya demam biasa, karena kelelahan dan juga kurang istirahat hingga daya tahan tubuhnya menurun, itu yang di sampaikan dokter kemarin.
"Siap bos..."
"Atau aku ga usah masuk kerja aja, ya? biar bisa merawat mu, sayang"
"Ga usah. Yang ada abang malam ngajak bajak sawah lagi, ogah" ucapnya cemberut.
***
Kai tidak mempercayai apa yang dia lihat di cermin. Tampilannya sudah seperti wanita jadi-jadian. Dia jijik, tapi tidak mungkin membukanya lagi. Ini sudah ke empat kalinya dia kembali memakainya setelah tiga kali dipasang, langsung dia buka.
Untuk bagian dada, hanya gumpalan busa yang diletakkan dalam b*ra nya hingga memang tidak terlalu nongol ke depan, namun yang menjadi masalah adalah rambut palsu serta tompel besar di bawah mata sebelah kiri, sangat menggangu.
"Udah dong bos, jangan cemberut lagi. Apa ga lihat aku aja pakai rok sepan gini, biasa aja. Namanya juga lagi nyamar, bos," ucap Perguson yang berperan sebagai penyalur baby sitter.
"Kalau lo kan memang sarap, jadi nyaman aja kalau pakai pakaian begini" timpalnya.
"Dih, aku normal ya bos" Perguson mencibir, memanjangkan bibirnya.
***
Mita menyambut gembira kedatangan Sonia dan Sari. Mereka sudah lama menantikan kedatangan baby sitter itu.
Walaupun Dita ngotot ingin mengurus sendiri anaknya, tapi Mita tetap kekeuh ingin mempekerjakan baby sitter. Buktinya, kelelahan mengurus Kasa sendiri, Dita jadi kurang sehat hingga jatuh sakit.
__ADS_1
Beruntung beberapa hari sebelumnya, mama muda itu sudah menyiapkan persediaan ASI yang cukup untuk Angkasa. Hingga selama demam, dia tidak perlu memberikan ASI untuk bayi itu, dan selama itu pula, ASI yang di hasilkan terpaksa dibuang.
"Jadi siapa nama suster ini?" tanya Mita menatap Sari. Rasa risih langsung dirasakan Kai, takut baru beberapa menit menyamar langsung ketahuan.
"Sssst... itu ibu nanya, nama kamu siapa?" ucap Perguson alias Sonia menyikut bosnya dengan kuat. Perguson memang sengaja ingin membalas penganiayaan Kai kemarin.
Kaisar harus menahan pekikan rasa sakitnya dan hanya bisa melayangkan tatapan pada Perguson.
"Sa- Sari, bu," ucap Kaisar terbata. Dia sudah melatih suara agar lebih mirip dengan pita suara seorang wanita. Setengah mati Perguson menahan tawa, akting bosnya sungguh jelek, tapi cukup untuk menyamarkan suara tenor Kai yang biasa.
Kalau ditanya keinginan hatinya, Perguson ingin sekali merekam bosnya saat ini. Apa kata dunia kalau melihat seorang Kaisar Barrel dengan pakaian wanita menyamar menjadi baby sitter. Rekaman itu bisa jadi alatnya balas dendam.
"Saya udah baca CV dan juga lamarannya, dari semua yang melamar, cuma Sari yang memiliki kualifikasi yang paling baik," tutur Mita.
Lagi-lagi Perguson harus setengah mati menahan tawa. Kwalifikasi yang dimaksudkan Mita adalah karangannya sendiri, yang diminta dibuatkan oleh seseorang kenalannya dari penyalur tenaga kerja.
"Terimakasih, Bu," ucap Kai memilih menunduk. Rasa gerah ini membuatnya hampir pingsan. Dibalik seragam kerjanya yang syukur nya menggunakan celana panjang, Kai memakai beberapa lapis pakaian lagi, belum lagi lemak buatan yang ditambahi untuk menutupi beberapa bagian agar lebih memaksimalkan penampilannya sebagai seorang wanita berusia 30 tahunan.
Setelah urusan administrasi selesai, Perguson pamit pulang, dan sebelumnya menyerahkan satu koper berisi pakaian Kai, dan alat yang dia butuhkan selama misinya.
Dalam mobil, Perguson menatap rumah itu sekali lagi, sebelum pergi dari sana. "Selamat bertugas bos. Semoga sukses," ucapnya tersenyum geli.
***
Ruangan pertama yang ditunjukkan Mita adalah kamarnya, yang tepat berada di samping kamar bayi. "Ini kamar kamu ya, Sar. Gimana, kamu suka?"
"Suka, Bu. Terimakasih"
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu suka" Mita tersenyum ramah pada Kai, menilai Sari adalah wanita baik dan pastinya pekerja keras, lihat saja lengannya yang terlihat tegap.
Lanjut room tour, ruangan kedua, Mita membawa Kai ke kamar Kasa, namun ruangan itu kosong, karena bayi itu sedang dibawa berjemur oleh salah satu pelayan.
"Sekarang kita ke kamar Dita. Tapi mungkin dia lagi tidur, jadi kalian tidak bisa berkenalan saat ini," terang Mita membuka pelan pintu kamar anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi.
Pemandangan pertama yang dilihat Kai begitu tempat tidur dibuka adalah ranjang besar dengan seorang gadis yang tengah tertidur lelap di atasnya.
Mata liar Kai berulah disuguhi pemandangan erotis. Dita tidur dengan hotpants super pendek, dengan tank top yang menampilkan perutnya yang terlihat rasa walau sudah melahirkan anak manusia dari sana.
"Tuh kan, Dita nya masih tidur," bisik Mita. "Sar...sari..,"
"Eh, iya Bu. Nanti aja kenalannya dengan Bu Dita" sahutnya gelagapan kedapatan tengah memperhatikan tubuh mulus menggoda itu.
Saat ini bahkan jantung Kai berdegup kencang. Bayangan tubuh mulus itu pernah berada dibawahnya, mend*sah dan ikut bergoyang mengikuti ritme yang dia buat saat itu, membuat sesuatu dibawah sana mencuat bangun.
Beruntung Mita langsung mengajak Kai keluar, kalau tidak, sifat liar dan juga naluri pemangsanya pasti sudah memaksanya untuk segera menaiki tubuh Dita yang terlelap.
"Nunggu Dita bangun, kamu bisa istirahat atau membersihkan diri, mandi atau mau makan, silahkan saja. Biar Kasa saya yang urus Samapi sore. Nanti kami bisa mandikan anak itu kalau sudah bangun siang nantinya" terang Mita.
Tepat sekali apa yang disarankan Mita. Kai memang butuh itu, dia bisa gila kalau tidak pergi ke kamar mandi segera. Dia sudah lama tidak bisa melakukan pelepasan. Bahkan rekor dalam hidupnya kini adalah tidak meniduri wanita selama satu tahun!
Yup, benar. Dita lah wanita terakhir yang dia tiduri. Tidak dipungkiri, sesekali dia masih menyewa jasa seorang wanita, namun berulang kali kejadiannya selalu sama. Setiap akan mencelupkan tongkat saktinya, memorinya akan membawanya kembali pada d*sahan Dita malam itu.
Bahkan saking frustrasinya, setiap bersama wanita, dia akan meminta mereka mend*sah, berharap diantara mereka, ada yang mirip dengan suara Dita, tapi lagi-lagi gagal.
Begitu pintu masuk kamar, Kai mengunci pintu kamarnya, merebahkan tubuhnya di ranjang, namun bayangan tubuh mulus Dita terus menyiksanya. Kai tidak punya pilihan lain selain masuk ke kamar mandi, dan bermain solo. Seperti biasa objek penunjang atraksinya adalah bayangan Dita yang mendesah liar di bawah tubuhnya, kadang kala juga berada di atas.
__ADS_1
Kali ini terasa nikmat dari yang biasa, karena objeknya itu begitu dekat dengan dirinya belum lagi dia baru saja melihat aslinya tadi.
"Aaaah..." ******* panjang akhirnya keluar dari mulut Kai. "Sial...!" umpatnya mengasihi hidupnya yang kini menyedihkan.