Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Wajah Familiar


__ADS_3

Kelopak mata Kaisar baru saja terpejam di sepuluh menit terakhir, saat Dita menerobos masuk siang itu ke dalam kamarnya.


"Kasar, bangun," ucap Dita sudah duduk ditepi ranjang. Kai yang saat itu tidur dengan tengkurap, membuat Dita tergoda untuk mendapatkan satu pukulan di bokong Kaisar, hingga berhasil membuka kelopak matanya.


"Duh, Ta. Ada apa?" Kai pelan-pelan berbalik, setelah diyakini wig dan juga pita suaranya sudah di stel menjadi Sari.


"Ayo, temani aku, Kasar. Aku mau pergi bawa Kasa jalan" terangnya penuh semangat.


"Kan masih kecil, Ta. Emang boleh?" tanya Kai menatap serius wajah cantik Dita yang belakangan ini selalu masuk tanpa izinnya dalam mimpinya.


"Kata mami boleh. Asal bawa Kasar, katanya "


"Emang kita mau kemana, sih?" Kai mulai khawatir, karena kalau sampai ada yang mengetahui penyamarannya, maka dirinya akan malu sekali, harga dirinya akan hancur seketika.


Semua ini karena Perguson sialan itu Harusnya kemarin janji mereka untuk bertemu, namun hingga hari ini, si asisten karbitan itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Selain ingin mencekik leher Perguson, Kai penasaran dengan hasil tes DNA Kasa.


"Cepetan, malah bengong. Aku tunggu di mobil" Dita beranjak pergi, hingga menghilang di balik pintu, Kai masih duduk tepekur memikirkan langkahnya.


***


Kai bermaksud untuk tidak keluar dari mobil, saat mengetahui kemana tujuan mereka. Kai panik, bahkan hampir teriak! Bagaimana tidak, Dita mengajaknya ke toko roti Alana.


Mampus gue! gimana kalau sampai gadis ingus itu ngenalin gue?


"Ayo, kak. Kok malah bengong?"


Dita sudah turun, dan setelah supir mengeluarkan stroller Kasa dari mobil, Dita meletakkan bayi mungil itu dan bersiap mendorong masuk ke dalam.


"Mmm, boleh aku tinggal di mobil aja, Ta? lebih baik aku ngobrol sama pak Sugi," pintanya.


"Jangan dong. Kakak masuk sama gue, temani Kasa juga"


"Aku ga enak ganggu acara kamu" Kai masih berusaha mencari alasan untuk menolak.


"Pokoknya, Kasar ikut!" Dita menaikkan kedua alisnya, bentuk ancaman, hingga Kai tidak punya keberanian untuk menolak nya.

__ADS_1


"Selamat datang...eh, mbak Dita," sapa Mindo yang saat itu ada di ruangan, baru saja mengantarkan kopi hitam pesanan orang.


"Mana Alana?"


"Ada di ruangannya, Mbak. Sebentar aku panggil"


"Ga usah, Min. Biar gue ke sana aja," ucap Alana menghentikan langkah Mindo. "Yuk, Kak"


Dengan langkah setengah hati, Kai mengikuti Dita. Hatinya harap-harap cemas, kalau Alana akan mengenalinya.


"Permisi..."


"Ditaaaaaaa...pekik Alana gembira. Bangkit dari kursinya dan menyongsong sahabatnya itu. "Kangen...Aauu, sakit," cicitnya mengaduh atas sentilan Dita di keningnya.


"Rasain. Bilang kangen ke gue, tapi ga pernah datang. Kalau bukan gue yang datang kemari, sampai kapanpun lo ga bakal lihat gue, kan?," hardik Dita cemberut.


"Maaf deh, mamanya Kasa yang paling cakep" rayu Alana sembari memeluk pinggang Alana.


"Iya, dimaafin" Dita tersenyum dan mengajak Alana duduk. Tepat saat melewati Kaisar, Alana terperangah, begitu familiar dengan wajah, terlebih bole mata itu.


Melihat rasa penasaran Alana terhadap Kaisar, Dita pun memperkenalkan mereka. "Ini Kak Sari, baby sitter nya Kasa, Al."


Diperhatikan seperti, Kai pun menjadi gelisah. Bahkan sangat gelisah. Bolak balik, dia menundukkan kepalanya, lalu melirik Alana sepintas, mendapati gadis itu masih melihatnya, kembali Kai menunduk.


Eheeek..hek.. rengekan Arlan yang hari itu juga dibawa Alana ke toko, mengalihkan perhatiannya dari wajah Kaisar.


Alhamdulillah ya, Allah. Besok om beliin lo mainan ya, dek


"Arlan kenapa? haus ya, sayang?" segera Alana mendekatkan botol minuman Arlan, tapi bocah itu menolak. "Ga mau air putih? Arlan mau nen?" melihat anggukan anaknya, sigap Alana mengangkat Arlan dan membuka kancing bajunya, agar bisa memberikan rengekan Arlan.


Rasa risih, membuat Kaisar menyerongkan duduknya, agar tidak menghadap Alana.


"Au..Adek, jangan di gigit," pekik Alana menghentikan ceritanya mengenai Gara pada Dita.


"Hahahaha, kenapa lo?" gelak Dita melihat ekspresi nelangsa di wajah Alana.


"Ini, Arlan kalau nen suka gigit. Sakit banget lagi"

__ADS_1


"Sama, gue juga gitu dibuat Kasa. Lihat nih"


Kai hampir saya terjungkal ke belakang, tanpa merasa canggung Dita membuka kancing kemejanya, mengeluarkan segumpal kenyal yang selalu terbayang di pelupuk mata Kai selama tiga hari ini. "Sakit banget, Al. Udah hampir copot put*ngnya. Mana perih lagi..."


Tidak bisa mengalihkan tatapan dari benda kenyal itu, Kai menikmati pemandangan yang ada dihadapannya. Begitu menantang, menyulut api gairah nya. Kalau milik Alana, entah mengapa ada rasa enggan untuk melihat, tapi berbeda dengan Dita, Kai malah ingin melihat lebih lagi.


Kai seperti pecundang rasanya, menginginkan tetapi tak berdaya. Apalah daya hasrat besar, namun tangan tak sampai.


"Sabar, Ta. Kalau bayi emang gitu, justru air liurnya nanti yang buat itu sembuh. Dulu aku juga gitu kok," terang Alana menaruh iba.


Bisa ga para wanita itu tidak saling membicarakan bagian tubuh mereka secara gamblang dihadapan gue?


Kai merapatkan kaki, menahan sesuatu dibawah sana jangan sampai mencuat.


"Jadi, udah gimana keadaan Gara?" lanjut Dita setelah selesai dengan pertunjukan bu*h dada.


"Udah lepas dari koma, bahkan kata bang Arun, Gara udah sempat siuman, namun kembali pingsan" ada perubahan nada Alana dalam menyampaikan kalimatnya. Dita tahu penyebabnya, tentu saja Alana juga ikut sedih atas apa yang menimpa Gara, bagaimanapun, mereka adalah teman, sekaligus mantan kekasih.


"Gue juga pengen besuk si brengsek itu, besok deh kita pergi," ucap Dita mengelus lengan Alana, caranya untuk memberi semangat.


"Kasar udah nikah?" tiba-tiba Alana tertarik untuk membedah baby sitter malang itu.


"Hah? aku..?"


"Udah, Al. Tapi udah cerai, anaknya sama mertuanya, iya kan, Kasar?"


"Eh, benar.."


"Oh..lihat wajah Kasar kok aku jadi ingat seseorang ya? wajah Kasar itu mirip siapa, ya?" Alana mengingat-ingat. Harusnya itu tidak sulit, karena manusia yang dikenal Alana kan bisa di hitung pakai jari.


"Hah? oh, mungkin hanya kebetulan, Al," ucap Kai semakin menundukkan kepalanya. Keringat dingin bercucuran di keningnya.


"Iya, mana mungkin lo udah pernah ketemu sama Kasar, dia juga baru di Jakarta. Mungkin mirip aja dengan salah satu pelanggan mu" potong Dita menyelamatkan harga diri Kai.


"Iya juga kali yah"


Setengah jam kemudian, ketiganya tampak sudah kompak, bercerita banyak hal. Karena dari segi umur Kai yang lebih tua, mereka banyak menanyakan hal-hal berbau tabu untuk diperbincangkan namun nagih untuk digosipkan.

__ADS_1


"Enakan mana sih Kasar, gaya 69 atau women on top?" tanya Dita si minum akhlak. Dengan bertanya seperti itu saja sudah bisa membangkitkan imajinasi kotor dalam kepala Kai.


"Itu... dua-duanya nikmat"


__ADS_2