
"Aku masuk dulu. Langsung pulang, ya!" Sania tidak menunggu Arlan pergi seperti biasa dia lakukan setiap diantar pulang.
Arlan masih membisu menatap daun pintu coklat yang ditutup dengan keras oleh Sania. Kalau kata hatinya ditanya, pasti saat ini pintu udah dia dobrak, tapi dia sadar, hanya akan memperburuk keadaan. Dia dan Sania butuh waktu untuk meredam emosi masing-masing, terlebih setelah terjadi pertengkaran di tengah jalan.
Sedikitpun Arlan tidak menyangka kalau Sania akan meninggalkannya. Gadis itu tidak biasanya se-emosi itu.
Langkah seribu Arlan mengejar Sania. Begitu dapat, menarik tangan gadis itu agar menghadap ke arahnya.
"Lepaskan!" Sania menghentakkan tangannya, tapi pegangan Arlan yang kuat membuat niat Sania gagal.
"Hei, kamu kenapa? Apa ada masalah? Kenapa kamu bisa bersikap seperti ini?"
"Bersikap seperti apa? Aku biasa aja. Udah kamu pulang aja, biar aku naik taksi!" Sekali lagi Sania berusaha menarik tangannya, tapi Arlan justru menarik ke arahnya hingga tubuh gadis itu menubruk dadanya.
"Aku minta maaf kalau perkataanku menyakitimu. Maafkan aku, Sania. Maafkan aku." Arlan memeluk Sania sangat erat, menghirup wangi gadis itu sekuat yang dia mampu.
Aroma tubuh Sania adalah obat baginya, mampu menenangkan setiap kali pikirannya kacau.
Tubuh Sania lunglai di pelukan Arlan. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan Arlan. Perlahan tangannya melingkar di pinggang Arlan.
Dia sendiri tidak tahu kenapa emosinya bisa meledak-ledak seperti sekarang ini pada Arlan.
Pelukan Arlan yang semakin erat, ingin menunjukkan tidak sanggup hidup tanpa Sania. Pria itu mencium puncak kepala Sania penuh sayang.
Setelah berdamai, keduanya kembali melanjutkan perjalanan tanpa ada yang mau membahas apapun. Dalam benak Sania dia masih bertanggung jawab membuat Arlan mau menerima tawara ayahnya.
Semua ini bukan demi beasiswa yang dijanjikan orang tua Arlan, tidak. Sania bahkan tidak akan menerimanya. Dia membujuk Arlan karena memang demi kebaikan pria itu.
__ADS_1
Jangan sampai Arun menganggap Sania lah yang mempengaruhi anaknya hingga menolak pergi ke Jerman. Seperti perkataan Arun tadi, kalau mereka kuliah di tempat yang sama akan menjadi pengganggu bagi Arlan, dia jadi tidak fokus pada kuliahnya.
Hati siapa yang tidak sakit mendengar hal itu? Dianggap jadi pengaruh buruk bagi orang yang sangat dicintai?
Arlan meninggalkan kosan Sania setelah memastikan tidak akan ada kemungkinan bagi dirinya untuk dibukakan pintu.
***
"Gue cabut dulu." Kasa yang sejak tadi berperang dengan batinnya setelah menerima pesan, akhirnya mengalah dan mau mengikuti pesan itu.
"Lu mau kemana?" tanya Dito menghentikan petikan gitarnya. Baru saja mereka saling bercerita kampus mana yang akan mereka tuju demi melanjutkan kuliahnya, dan berencana membuat hari ini sebagai perpisahan diantara mereka.
Tidak akan punya banyak waktu lagi, karena lusa Tomi akan berangkat ke Kanada, dilanjut oleh Gilang ke Singapura. Hanya Dito yang tinggal di sini karena ayahnya sudah sakit-sakitan.
Arlan sendiri tidak memberikan gambaran apapun tentang pilihannya. Niat untuk masuk perguruan bagus di sini sudah pupus. Satu-satunya keinginan yang tersisa, hanya menikah dengan Sania, membawa kabur gadis itu. Namun, tentu saja pemikiran itu tidak ingin dia ungkapkan.
"Gue ada urusan. Bentar, doang. Nanti gue balik lagi!" Kasa menyambar jaketnya yang ada di sofa, mengabaikan tatapan Arlan yang penuh selidik.
***
"Kamu udah lama nunggu? Mau apa, sih, kita ketemu di sini? Tanpa boleh diketahui Arlan lagi. Gue serasa jadi teman pengkhianat kalau begini," tukas Kasa begitu sampai di warung ikan bakar yang tak jauh dari tempat kerja Sania.
"Sorry aku ganggu kamu." Sania menurunkan pandangannya, merasa bersalah karena melibatkan Kasa lagi. Tapi kalau bukan pria itu harus dengan siapa dia bertukar pikiran. Hanya Kasa yang tahu soal keadaannya. Dia juga sudah menganggapnya saudara.
Kasa jadi menyesal bicara dengan nada tinggi pada Sania. Gadis itu jadi menunduk tak berani melihatnya lagi. Kasa menarik kursi yang ada di samping Sania.
"Ada apa? Maafkan nada bicaraku tadi, ya. Sekarang kamu cerita."
__ADS_1
Ada setitik kelegaan di raut wajah Sania. Kasa memang selalu baik padanya meski diawal terlihat dingin.
"Kemarin malam, orang tua Arlan memintaku untuk membujuknya kuliah di Jerman."
Pantas saja saat sampai tadi, Kasa melihat wajah lesu dan mata sembab Sania. Gadis itu benar-benar punya masalah berat.
"Terus? Kamu tolak, dong. Memangnya kamu mau LDR? Atau apa mereka minta kamu ikut sama dia?"
Sania buru-buru menggeleng dengan lemah. Terdengar dia menarik napas berat. Seandainya waktu bisa diulang...
"Kamu bodoh atau apa? Kamu harus kasih tahu sama mereka soal kehamilan mu!" Kasa Kasa yang mengerti duduk perkaranya. Sania belum mengatakan apapun soal isi perutnya hingga orang tua Arlan memutuskan untuk mengirim anaknya ke luar negeri. Kasa yakin kalau Arun dan Alana tahu soal ini, mereka justru akan dinikahkan.
Setelah selesai dengan kalimatnya, Kasa dibuat merasa bersalah karena membentak Sania tadi. Lihatlah, gadis itu jadi menangis, bahkan tangisnya begitu lirih seperti baru saja mengalami duka yang besar.
"A-aku minta maaf, San. Aku bukan bermaksud mengatai kamu bodoh. Hanya saja, menurutku ini saat yang tepat mengatakan hal ini pada mereka, terlebih pada Arlan!"
"Justru itu yang tidak ku inginkan. Terlepas dari permintaan om Arun, Arlan sendiri punya impian besar yang ingin dia wujudkan. Saat bertengkar dengan ayahnya malam itu, Arlan sudah mengatakan kalau dia punya mimpi besar yang harus dia kejar, tidak ada satu hal pun yang bisa membuatnya menyerah dengan hal itu."
"Lantas, apa hubungannya dengan semua ini?" Kasa masih belum mendapat titik terangnya.
"Artinya, dia juga tidak akan mundur meski tahu kau ada bayinya dalam perutku!" terang Sania, mengambil tisu yang diberikan Kasa, lalu menghapus cairan bening lengket dari hidungnya.
"Kamu salah, San. Aku kenal Arlan, dia bukan laki-laki pengecut. Kalau dia soal bayi itu, dia pasti akan segera menikahimu, meski impian dan karirnya jadi taruhan."
"Justru itu yang tidak aku mau. Aku gak mau menghancurkan Arlan dengan tanggung jawab sebesar ini. Aku gak mau, Kasa, setelah menikah karena tanggung jawab atas bayi ini, dia menyesalinya. Rumah tangga kami juga tidak akan baik. Jadi, dari pada dia terbebani, serta bisa fokus pada kuliahnya, biar aku yang mengambil tanggung jawab seorang diri."
Hening. Kasa bingung, dia kesulitan menemukan lidahnya. Hingga menit ke lima, dia bertanya. "Jadi, apa rencanamu? Apapun keputusan mu, aku akan selalu ada di samping mu, membantu mu setiap saat."
__ADS_1
"Aku mau meng*gugur*kan janin ini!"