Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Be a Gentleman


__ADS_3

Kai sudah diperbolehkan pulang. Tempat pertama yang ingin dia tuju adalah rumah neneknya. Betapa dia sudah menjadi cucu durhaka selama ini, membuat nenek selalu mengkhawatirkan keadaanya.


Atas permintaannya juga lah, agar Perguson tidak mengatakan keberadaannya di rumah sakit. "Jangan beritahu nenek kalau aku masih dirawat di rumah sakit ini, juga perihal penculikan yang dilakukan Amanda,"


Perguson mengangguk setuju. Setiap nenek Rosi menghubungi, Perguson akan mengatakan kalau Kai sedang meeting dengan cie perusahaan lain.


Wanita tua itu sedang duduk termenung di kursi piano. Sudah lama dia tidak memainkannya. Kai yang melihat dari kejauhan, sudah menebak, wanita itu pasti sedang bersedih hati, mengkhawatirkan dirinya.


Tidak lama berselang, photo Kai kecil yang sejak tadi diamatinya diletakkan kembali di atas piano. Jemari lentik nan keriputnya mulai menari-nari di atas tuts piano.


"Apa yang membuat mu bersedih? apa karena merindukanku?"


Spontan nenek Rosi menoleh kebelakang. Mata nya berkaca-kaca melihat sosok yang sudah sangat dirindukannya itu.


"Anak kurang ajar, kau masih hidup? untuk apa kau datang?!" umpat nenek Rosi menitikkan air mata. Pria itu tersenyum dan duduk di sampingnya. Perlahan menarik tubuh rapuh itu untuk masuk dalam pelukannya.


Tubuh tua nenek Rosi bergetar, menangis di dadanya. Kaos putih yang melekat di tubuh atletis Kai basah oleh air mata wanita yang paling dia hormati itu. Perjuangan neneknya membesarkannya, memulihkan dari rasa traumanya membuat Kai begitu sayang pada nenek Rosi.


"Maafkan aku, Nek. Selalu membuatmu gelisah. Selalu menempatkan mu dalam kekhawatiran" Kai mengeratkan pelukannya dan memberi kecupan di pipi nenek Rosi.


"Kalau begitu, kenapa kau selalu melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Membuat ku khawatir. Katakan padaku, apa kau benar-benar menikahi Amanda?" nenek Rosi menarik diri, memberi jarak diantara mereka. Nenek Rosi ingin bicara serius, cukup sudah Kai melakukan apapun yang dia inginkan.


"Aku tidak menikah dengan Amanda nek. Itu semua bohong. Dia melakukannya karena aku memutuskan hubungan dengannya"


"Bagus lah. Aku tidak menyukainya. Tapi tidak terlalu bagus juga, artinya kau tidak akan menikah, dan aku gagal mendapatkan cucu" wajah nenek Rosi kembali sedih.


"Jangan bersedih, queen. Karena nenek sudah begitu baik, bawelnya sudah berkurang, maka aku ingin memberikan hadiah istimewa untuk nenek" Kai tersenyum sembari mengedipkan matanya.


"Hadiah apa? aku tidak ingin uangmu. Hartaku lebih banyak dari yang kau punya" cibirnya mendengus.


Hahahaha..."Kau selalu bisa mengalahkan statement ku, wahai wanita tua" sekali lagi Kai mencium pipi nenek Rosi.


"Tapi kali ini hadiah yang akan ku berikan jauh lebih berharga dari semua hartamu" Kai memicingkan satu matanya, sudut bibirnya tertarik ke atas ingin melihat reaksi neneknya.


"Apa? katakan padaku?" tanya nenek Rosi penasaran.


"Nek, kau sudah punya cicit laki-laki yang kini berusia dua bulan"

__ADS_1


"Apa? cicit? jangan main-main dengan wanita tua seperti ku, Kai. Jantungku sudah tidak kuat menerima prank seperti itu"


"Nenek tahu juga istilah prank? gaul banget. Tapi aku serius, Nek"


"Serius? lalu mana bocah itu kalau memang ada?"


"Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi aku mohon, jangan menyela ok, Miss universe?"


Nenek patuh, segera mengangguk. Dari mimik wajah Kai, tidak menunjukkan kalau dia sedang bercanda saat ini.


"Sebelas bulan lalu, aku sedang berada di club, dan.."


"Sudah, teruskan lah tanpa sungkan. Aku tahu siapa dirimu, tidak usah malu," ucap nenek Rosi memahami rasa sungkan yang tengah dirasakan Kai saat bercerita dengannya mengenai dunia malam pria itu.


"Orang yang biasa mengurus keperluan ku itu, salah memberikan gadis padaku. Dia bukan pekerja, hanya gadis yang mabuk, yang mereka pikir sedang bekerja di sana. Singkatnya, aku..dan.."


"Kau menidurinya," sambar nenek Rosi cepat. Mata Kai melotot melihat kecepatan nalar neneknya dan selalu memotongnya pada saat bicara.


"Ok, sorry, lanjut," kata nenek Rosi menarik garis didepan mulutnya seolah dengan menarik resleting mengunci bibirnya.


"Gadis itu seperti yang aku katakan tadi, bukan pekerja di club itu. Aku yang pertama untuk nya"


"Nenek! ini mau dilanjutkan, ga?"


Nenek Rosi hanya melayangkan tangannya tanda silahkan, tanpa buka suara.


"Aku tidak tahu kalau dia hamil. Pertemuan kedua kami saat pesta pernikahan Alana, aku sudah mencoba mengajaknya bicara, karena jujur aku merasa bersalah sudah merusak hidupnya"


"Dasar kau pria brengsek! biadab! kau memperkaos Dita? teman Alana itu?"


Kai menyerah. Dia angkat tangan. Pria itu lupa kalau neneknya adalah wanita pintar yang selama masa muda hingga tuanya menjalankan perusahaan seorang diri hingga berkembang dan sukses seperti sekarang. Tentu saja nalarnya akan secepat nuklir Rusia ke Ukraina!


"Nek...," ucapnya begitu frustrasi.


"Apa?" salah nenek Rosi.


"Biar aku selesaikan ceritaku dulu"


"Terserah!"


Glek! susah payah Kai menelan salivanya. Neneknya saja begitu marah padanya mendengar hal ini, apalagi orang tua Dita. Sepertinya akan sangat sulit bagi Kai.

__ADS_1


"Aku ingin menikahi Dita, dan bertanggung jawab atas Angkasa, anak kami. Aku sudah melakukan tes DNA, dia darah daging ku, Nek"


Kali ini wanita itu diam. Dalam hatinya terselip rasa bahagia mengetahui telah memiliki cucu, namun Rosi juga kecewa pada Kai yang sudah merusak masa depan Dita, gadis muda itu.


"Nenek, maukah ikut dengan ku melamar Dita?"


"Apa kau pikir, orang tuanya akan menerimamu setelah tahu, kau pria brengsek pengecut yang tidak bertanggung jawab?"


Hufffh.. terdengar helaan nafas berat dari Kai. Dia juga tidak berpikir ini akan mudah, tapi dia harus memperjuangkan cintanya pada Dita.


"Malam ini juga, aku akan kerumahnya, aku akan bicara terlebih dulu pada orang tua nya, Nek. Setelahnya, kalau mereka sudah setuju, baru nenek datang melamarnya untuk ku"


Tiba-tiba tangan nenek Rosi menggenggam tangan Kai. "Kau sudah banyak berubah. Kini kau lebih perduli pada orang lain. Lakukan tanggung jawab mu, nenek akan selalu ada untuk mendukung mu"


***


Walau sedikit ragu, Kai akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Dia harus berani menerima konsekuensi apa pun itu, bahkan yang terberat.


"Malam tante," sapa Kai melihat Mita yang datang menemuinya. Kebetulan suami istri itu sedang berada di ruang keluarga, jadi saat pelayan mengatakan ada tamu, bergegas Mita bangkit untuk melihat. Suaminya yang tengah menikmati berita, pasti malas untuk beranjak.


"Kaisar..silahkan duduk. Mau ketemu Dita?" tebak Mita yang sudah mendengar cerita singkat Perguson di rumah sakit waktu itu.


"Iya, tante. Tapi aku mau ketemu om dan tante dulu sebenarnya. Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Kai dengan dada bergetar hebat.


"Kalau begitu tunggu, ya. Sebentar tante panggilkan om, ya" Mita pamit masuk memanggil suaminya yang terus fokus pada layar kaca.


"Di depan ada Kaisar Barrel. Dia ingin ketemu papi, katanya"


"Papi? ada apa ya, Mi?" pria itu mengerutkan kening. Bingung tiba-tiba Kai datang menemuinya di rumah, yang artinya bukan masalah pekerjaan.


"Udah sana, Pi. Temui dulu"


Selamat malam om, tante. Maaf saya menggangu waktu istirahatnya," ujar Kai bangkit saat melihat pemilik rumah datang.


"Santai saja. Silahkan duduk. Mi, tolong buatkan minum"


Mita mengangguk dan segera ke dapur, mencari pelayannya untuk dimintai tolong.


"Ada masalah apa? apakah ada hal serius? om tebak, ini bukan masalah pekerjaan, kan?"


"Bukan om. Ini lebih penting dari semua itu. Ini masalah Aku, Dita dan Kasa"

__ADS_1


__ADS_2