
Lima belas menit lagi, ujian dihari terakhir ini akan selesai. Kalau di survey isi dari pikiran para siswa di ruangan itu sudah tidak fokus lagi mengerjakan soal, atau paling tidak mengeceknya. Semua pasti saat ini sudah tidak sabar menunggu bel berbunyi agar bisa corat-coret seragam.
Teeeeeeeet....
Yang di nanti pun tiba. Bel berbunyi, semua kompak tanpa dikomandoi bersorak keluar dari ruangan setelah lembar jawaban sudah dikumpulkan pengawas.
"Akhirnya..ya Allah, selesai juga ujian..gue bebas.." teriak Dita merentangkan tangan.
"Seneng bet lo ya" sambung Wisnu ikut gembira, merangkul pundak Dita yang sudah dianggapnya lebih dari sahabat, adik kecilnya yang manja.
"Gimana kalau kita ke Ancol, lihat pantai teriak sepuasnya" saran Fajar yang sudah menyandang tasnya.
Kelima setuju akan usul Fajar. Penuh semangat menyusuri jalanan. Gara menitipkan motornya pada satpam sekolah agar bisa berangkat dengan mobil Wisnu.
Sepanjang jalan yang terdengar hanya nyanyian dan tawa Dita dan Alana di bangku tengah. Sementara Fajar duduk paling belakang.
saat tiba di sana, ternyata sudah banyak siswa lain yang memilih untuk merayakan kebebasan hari. Tapi itu tidak masalah buat kelima.
"Kamu jangan sampai kelelahan ya Al, ingat debaynya" bisik Gara, Alana hanya menganggu patuh. Dia ingin menjadi gadis penurut bagi Gara hari ini. Tidak tahu mengapa, perasaan Alana mengatakan kalau hari-hari indahnya bersama Gara tidak akan lama lagi.
Setelah kejadian kemarin, Alana menghindari Arun. Dia tidak ingin pria itu punya kesempatan untuk mendekatinya. Malam itu, Alana tampak bodoh karena selepas makan malam, dia masuk kamar dan mulai menangis hingga subuh. Apa yang dia tangiskan pun dia sendiri dia tidak yakin, tapi satu yang pasti, dia benci pada Arun atas apa yang mereka lakukan dengan Lily.
Sebenarnya kelembutan Arun pada Alana sudah menyentuh hati gadis itu. Perasaannya sudah mulai timbul, namun enggan untuk diakui. Perlahan dihatinya mulai membandingkan perasaannya dengan Gara dan saat bersama Arun.
Gara adalah bentuk kenyamanan dan juga ketenangan. Dia akan selamat dan tidak akan ada air mata. Cukup kah itu? harusnya cukup bagi Alana.
Tapi hati tidak bisa diatur. Hati juga tidak bisa dipaksa untuk cinta pada siapa. Dia memilih sendiri. Bukankah banyak diluar sana seseorang menjadi hamba cinta walau pun itu menyakitkan? terluka dan terhina karena berada di posisi yang salah mencintai seseorang?
__ADS_1
Alana sadar betul akan hal itu. Setelah keesokan paginya, dia bangun dan mulai berbicara dengan sang pencinta.
Dia tahu, dia sudah jatuh cinta pada Arun. Bahkan secepat itu, mengalahkan kebersamaannya yang lama dengan Gara.
Tapi cobalah memahami posisi Alana. Gadis rapuh terbuang itu, dulu hanya punya Sandara seorang Gara. Memberinya perhatian dan rasa nyaman. Dia kita itu cukup. Dulu, dia mengira itu cukup. Itu lah hidup, itulah cinta. Semua yang dia terima dari Gara itu lebih dari cukup.
Hingga Arun datang mengetuk hatinya. Memberi perhatian, dan juga kasih yang mampu menggetarkan hatinya. Menyentuh relung hatinya yang terdalam, walau kadang tak lepas ada air mata. Tapi Alana merasa hidup. Merasa bergairah dengan semua getar yang dia rasakan dalam hati. Dia merasakan yang namanya di cintai dan juga mencintai.
Pada Gara dia merasa takut kehilangan, takut tidak punya sandaran lagi, tapi tidak pernah dia rasakan rasa cemburu. Bahkan saat Gara dikelilingi banyak siswi cantik dan juga para cheerleaders mendekati, Alana tidak secemburu saat Lily memeluk dan mengecup Alana seperti malam itu.
Dan hal itu membuat Alana kesal. Betapa mudahnya dia memberikan hatinya pada pria yang sudah beristri itu. Cara ampuh yang diambilnya untuk memastikan perasaannya pada Arun adalah dengan menjaga jarak. Jika Alana merindukan pria itu, maka benar adanya dia sudah jatuh cinta pada Arun.
Ketiga pria itu sedang menikmati kopi dan juga asik bercerita tentang rencana setelah lulus nanti. Sementara Alana dan Dita mengitari pinggir pantai. Berjalan dengan kaki telanjang di bibir pantai sungguh menyenangkan dan memberikan rasa tenang.
Hingga seseorang yang tengah dikejar teman nya menubruk tubuh Alana dengan kencang hingga jatuh kebelakang, menghantam ember mainan pasir yang di timbun tinggi oleh anak-anak.
"Al.." pekik Dita. "Lo ga papa Al?" wajah kesakitan Alana membuat Dita panik. Tapi yang membuat Dita bingung, Alana justru memegangi perutnya.
"Ga.. tolongin.." teriak Dita yang membuat ketiganya menghambur mendatangi mereka.
"Al..kamu kenapa Al.." tanya Gara panik.
"Tadi kita pas jalan, dari depan kita ada cowok yang lagi kejar kejaran yang nubruk Alana, sampai Alana jatuh, kena ember ini nih.." terang Dita semakin panik. Riak wajahnya penuh ketakutan melihat Alana yang meringis menahan sakit.
"Al..mana yang sakit?"
"Perut aku ngeri Ga.." seketika itu juga Wisnu menepuk punggung Gara menunjukkan kaki Alana yang basah oleh cairan bening.
__ADS_1
Panik melanda Gara. Dia takut terjadi hal buruk pada Alana dan bayinya. Tanpa pikir panjang, Gara menggendong Alana ala bridal, bergegas membawa ke parkiran menuju rumah sakit. Tanpa dikomando, ketiga teman mereka yang lain iku menemani.
"Syukurlah kalian cepat membawa bu Alana ke mari jadi cepat untuk ditangani" ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang periksa.
"Gimana bayi nya dok?" tanya Gara khawatir.
"Bayi?" Dita, Wisnu dan Fajar serentak bertanya lebih pada Gara walau pun masih menatap dokter wanita itu.
"Ibu dan bayinya baik-baik saja. Cairan itu bukan air ketuban, hanya cairan biasa yang bisa keluar karena perubahan hormonnya. Keluarganya sudah dihubungi?"
"Sudah dok" jawab Gara mantap. Hatinya sedikit tenang. Hingga dokter itu berlalu, ketiga teman Gara masih termangu, tampak bodoh menatap Gara dengan penuh tanya.
"Sorry, gue ga sempat cerita ke lo semua"
"B*ngsat lo Ga. Lo bilang bakal jaga Alana sampai nanti lo jadiin dia istri lo" umpat Dita berang, memukul lengan Gara kesal. Dita yang begitu sayang pada Alana bisa membayangkan betapa susahnya Alana dengan menyembunyikan kondisinya yang tengah hamil begini.
"Sabar ta, lo tenang dulu" lerai Wisnu menarik Dita yang semakin brutal memukuli Gara yang hanya diam tidak berniat membalas.
"Udah berapa bulan?" suara Wisnu yang memang lebih tua dari mereka berlima tampak tegas.
"Jalan 8"
Terdengar hembusan nafas kesal dari ketiga sahabatnya.
"Sampai selama itu lo sembunyikan? Lo bakal tanggung jawab kan? itu anak lo kan, b*ngsat?" umpat Dita. Untung saja koridor tempat mereka berdebat tidak banyak di lalui orang.
"Ga, jawab. Lo harus tanggung jawab. Ga bisa didiamkan lebih lama lagi. Itu anak lo kan!" kali ini suara Fajar yang meninggi. Merasa kesal, Gara tidak menganggap mereka hingga bisa merahasiakan selama ini.
__ADS_1
"Seandainya itu anak gue.."