Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Menangis semalam


__ADS_3

Malamnya, Alana tidak bisa terpejam sedetik pun. Sekali lagi dia melirik jam di dinding di kamarnya yang sudah entah untuk ke berapa kali.


Kalimat Elrei menjadi momok menakutkan buatnya. Benar dia harus jujur, tapi tidak untuk sekarang ini. Sungguh dia tidak akan sanggup.


Samar-samar Alana mendengar suara gaduh dari arah kamar Lily. Mereka sedang bertengkar, Alana tahu itu dari intonasi suara Lily yang meninggi. Entah apa yang sedang mereka bahas, tapi setelah beberapa menit kemudian, Alana mendengar suara tangis Lily.


Kepalanya tidak bisa lagi menebak permasalahan diantara keduanya. Dia juga tidak mau perduli, masalahnya saja sudah banyak.


Sementara dikamar itu Lily memeluk kakinya, menyembunyikan wajahnya diantara kedua dengkulnya. Duduk di dekat tempat tidur, menangis menumpahkan segala kecewa dan rasa sedih di hatinya. Arun sudah meninggalkan kamar itu 15 menit yang lalu, setelah pertengkaran hebat mereka. Arun memilih keluar rumah, menerima ajakan Barry sahabat kentalnya untuk minum di salah satu bar di kota ini. Hujan turun, harusnya lebih enak untuk menghabiskan malam di ranjang, dan akan lebih sempurna lagi jika berc*nta dengan istrinya.


Tapi nyatanya Arun memang harus pergi agar pertengkaran dengan Lily tidak berkelanjutan lagi yang dipastikan akan menimbulkan sakit hati yang lebih banyak lagi buat Lily.


Pertengkaran dimulai kala Lily yang baru mendapatkan telepon dari Santi. Menangis histeris di sela ceritanya. Bahkan diujung telepon Santi pingsan hingga telepon itu dilanjutkan Bima.


"Ibu mu pingsan Ly. Dia ga bisa menerima kenyataan ini" ucap ayahnya dengan suara tercekat.


Keadaan Lily pun tidak beda jauh dengan Santi. Dia juga terkejut, tidak menyangka akan keadaannya seburuk itu.


Setelah menutup telepon, dengan tubuh lemas Lily terduduk di tepi tempat tidur. Bingung dan mencoba mencerna semua ucapan ibunya. Diliriknya jam sudah pukul 9, tapi Arun belum juga pulang. Sore tadi Arun memang mengatakan harus ke Bandung untuk menghadiri meeting bersama Dirut perusahaan lain yang akan bekerjasama dengannya.


Pukul sepuluh saat pintu kamar dibuka oleh Arun, Lily segera mendongak. Rasanya satuan emosinya sudah akan meledak ketika melihat wajah pria yang sudah berhasil membuat hancur hati ibu ayahnya, dan kini juga dirinya.


"Belum tidur?" Arun menatap Lily yang tengah menatap tajam kearahnya seolah dengan tatapan itu pun lehernya bisa di tebas.


"Ada apa?" susul nya saat tidak ada jawaban. Lily masih tetap berada di posisinya dan dengan tatapan yang sama. Mematikan dan tidak bersahabat.


"Apa yang telah kau lakukan pada keluarga ku?"


Pertanyaan itu mewakili segala rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan. Tanpa air mata, karena memang Lily sudah lelah menangis sejak tadi. Entah apa yang merasuki Arun, hingga tega berbuat begitu pada keluarganya. Arun bukannya tidak tahu, kalau hal itu akan menyakiti hatinya.


Sejak mereka kenal, dan Arun menjadikannya istri, tidak sekalipun perbuatannya yang menyinggung Lily dan keluarganya. Itu lah sebabnya Arun sangat di hormati dan disegani oleh ayah dan ibunya. Tapi tiba-tiba saja Lily dapat kabar kalau Arun sudah menghancurkan mimpi keluarganya.

__ADS_1


Arun tidak perlu menunjukkan rasa bingungnya karena jelas dia tahu maksud pertanyaan Lily. Dia juga sudah menyiapkan diri untuk hari ini.


"Ly.."


"Jawab aku. Kenapa kau bisa setega itu? apa salah keluargaku padamu?" suara Lily semakin histeris.


"Tenangkan dirimu Ly. Aku bisa jelaskan"


"Aku tunggu.."


"Perusahaan ayah memang sudah lama merugi, jadi kalau pun aku tidak membelinya, lambat laun perusahaan itu akan lenyap juga" Arun melangkah, duduk disamping Lily.


"Tapi kenapa kau tidak berkata apapun pada mereka?"


"Berkata apa?" pancing Arun


"Coba menjelaskan pada mereka kalau kau akan tetap mengembalikannya pada mereka"


"Maksudmu apa Hun?" bola mata Lily terbelalak.


"Seperti yang aku katakan tadi, ini bisnis. Aku tidak akan mengembalikan apa pun pada mereka lagi" Arun mengatakan tanpa ekspresi bersalah sedikitpun.


"Kau bercanda kan hun?"


Gelengan kepala Arun membuat emosi Lily yang sejak awal coba dia redam kini muncul lagi. Mencuatkan amarah yang bisa jadi awal hilangnya keharmonisan rumah tangga mereka.


"Kau kenapa hun? kenapa bisa berubah begini? aku ada salah? apa keluargaku juga punya salah padamu?"


"Tidak padaku. Sudahlah Lily, aku capek. Masalah keluarga tidak boleh dicampur adukkan dengan masalah pekerjaan"


"Tapi mereka orang tuaku. Tidak bisakah kau memberikan perusahaan itu kembali pada mereka?"

__ADS_1


"Tidak"


"Demi aku"


"Aku ga bisa Ly" tegas Arun yang membuat tangis Lily pecah.


"Aku kecewa padamu. Kau berubah hun. Kau berubah sejak menikahi Alana"


Arun diam. Dia tidak membantah. Memang kini dia berubah. Menjadi pribadi yang berbeda. Kalau dulu dimatanya hanya ada Lily, yang tidak sanggup melihat air mata gadis itu, kini Arun bisa bersikap lebih bijaksana.


Sebenarnya bisa dibilang perusahaan yang di pegang Bima saat ini sudah menjadi milik Arun, karena perusahaan itu sebelumnya pun sudah pernah pailit. Diawal pernikahan mereka, perusahaan Bima merugi hingga terancam bangkrut. Hingga Arun menyelamatkannya, dan membantu mengurus hingga perusahaan itu sehat kembali.


Tapi dasarnya Bima memang bukan pebisnis handal, maka perusahaan itu jatuh lagi. Tepat saat Santi bertindak semena-mena pada Alana, maka Arun mengambil perusahaan itu dan membuat balik nama atas Alana, dan Arun sendiri sebagai pengelola.


Itu adalah balasan setimpal untuk kedua orang tua itu karena sudah bertindak kasar pada Alana. Dia memberikan perusahaan itu pada Alana, karena khawatir akan masa depan Alana nantinya.


Dia sadar mungkin dirinya tidak akan bisa mendapatkan hati Alana, maka jika tiba waktunya mereka berpisah seperti perjanjian dengan Lily, Alana sudah mempunyai jaminan masa depannya. Karena sebagai istri sirih dia tidak akan punya hak atas harta Arun.


Lily tidak sanggup mendengar semua itu keluar dari mulut Arun, dengan penuh amarah Lily menerjang Arun, memukul dada pria itu. Berharap Arun bisa merasakan rasa sakitnya.


Arun masih tidak sanggup melihat air Lily, maka memutuskan untuk keluar rumah, menghindari pertengkaran yang lebih hebat nantinya dengan Lily.


Di sinilah Arun, menatap ke langit-langit ruangan VIP disalah satu bar bersama Barry.


"Apa yang paling membebani lo saat ini? tanya Barry melihat Arun tidak henti-hentinya menghela nafas panjang.


"Sesuatu yang paling gue inginkan, sesuatu yang baru gue sadari keberadaannya dalam hati gue dan ternyata itu sangat lah penting.." Arun seolah berkata pada dirinya sendiri.


"Lantas, apa lagi? kenapa lo jadi galau? bukannya lo seharusnya gembira, lo udah tahu apa yang paling lo inginkan?"


"Justru karena itu, gue ga bisa mendapatkannya..!!"

__ADS_1


__ADS_2