
"Apa kau menyukai Alana?" pertanyaan Lily menggema, terus berputar-putar di kepalanya. Lily menuntut jawaban dari nya, tapi mulut Arun seperti dijahit mati. Pengakuan sudah diujung lidahnya, dia ingin mengakui kebenaran isi hatinya, tapi saat Arun berbalik, melihat wajah Lily yang sudah bersimbah air mata, dan memelas, nyali Arun kembali ciut. Dia masih tidak sanggup menghancurkan hati wanita itu.
Arun mengutuk semua jalan hidupnya. Harus mengenal Lily lebih dulu, sebelum bertemu Alana. Mengutuk keadaan ini, keadaan dimana cinta untuk Alana mulai tumbuh dalam hatinya. Dia benci jadi pria yang mendua hati. Dia tidak ingin menyakiti Lily tapi dia juga tidak bisa melepas Alana.
Percayalah, saat dia tahu telah timbul titik getar di hatinya untuk Alana, dia sudah mencoba menepis. Menghantam dengan sikap dingin dan menjauhi gadis itu. Dia mengutuk malam yang dihadiahkan Lily untuk nya bersama Alana.
Dan kini saat dia tidak bisa menghempas Alana dari dalam hatinya, apakah ini salahnya? dia juga punya perasaan yang ingin di dengar dan dihargai.
Arun tidak bisa memberi jawaban apapun lagi, hingga Lily mengerti, memutuskan untuk meninggalkan kamar itu.
Dan di sini lah Lily, meringkuk memeluk kakinya, di ruang menjahitnya. Menangis dengan sesunggukan. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana, apakah membenci Arun yang tidak bisa menjaga hatinya? tapi cintanya yang besar pada pria itu membuatnya tidak sanggup. Atau benci pada Alana karena membuat Arun jatuh cinta padanya? itu juga tidak benar. Alana bahkan mengutuk pernikahan ini.
Satu-satunya orang yang pantas dipersalahkan adalah dirinya. Karena dia lah yang menempatkan Arun pada posisi ini. Dia lah yang memasukkan orang ketiga dalam bahtera rumah tangganya. Ya...dia lah yang patut dipersalahkan.
Tok..tok..tok..
Lily ingin memekakkan telinga nya, namun ketukan yang terus berulang itu tidak akan berhenti sampai dirinya membuka pintu.
"Hun.." wajah Arun muncul di depan pintu. Lily enggan untuk menyambutnya. Tidak untuk saat ini, dia perlu waktu menenangkan diri dan menata hatinya.
"Aku masih ingin disini" ucap nya lirih, tapi itulah keinginannya saat ini.
"Aku ga bisa membiarkanmu larut dalam kesendirian. Aku akan menemanimu disini. Aku janji, tidak akan mengusik mu"
Tatapan Arun selalu bisa memenangkan hati Lily. Tidak punya pilihan, daun pintu pun dibuka nya lebih lebar agar Arun bisa masuk.
Lily lebih dulu berjalan ke sofa, sementara Arun menutup pintu dan menyusul wanita itu. "Hei..maaf.." ucap Arun berjongkok dihadapan Lily.
Lihat lah, kalau tadi Lily ingin kejelasan akan apa yang dirasakan Arun, kini wanita itu justru takut Arun akan buka bicara. Jujur dia belum sanggup. "Ly..."
"Aku lapar hun. Kita makan ya" potong Lily mengulurkan tangannya untuk digenggam sang suami. Arun mengangguk lemah, berjalan menuruni tangga dengan tangan saling bertaut.
Dari suara dapur, Arun bisa mendengar suara Alana yang sedang mengobrol dengan bi Minah. Dia bersyukur gadis itu sudah lebih baik hingga bisa turun. Tapi kemana pria br*ngsek itu? pertanyaan yang dalam hati bisa Arun titipkan.
__ADS_1
"Al.." Lily masuk ke dapur, memeriksa makan malam. Alana berbalik dan tersenyum. Seketika senyumnya pudar, melihat mata Lily yang bengkak.
"Kakak kenapa? mata kakak sembab gitu?"
"Hah? oh..ga papa. Tadi kepala ku nyut-nyut, sakit banget, jadi nangis"
"Jadi udah baikan?" tanya Alana khawatir.
Lily hanya mengangguk. "Masak apa bi? kita makan yuk. Lapar nih"
Makan malam berjalan dengan hening. Tak satu pun dari ketiganya buka bicara. Hingga Lily merasa tidak nyaman dengan suasana itu.
"Al..jam berapa tadi Gara pulang?" tanya Lily mengambil sepotong ayam dan meletakkan di piringnya.
"Habis magrib kak. Dia minta maaf pulang ga pamit dulu" Jawab Alana tercekat. Melirik takut ke arah Arun.
"Al, apa kau sangat mencintai Gara?"
Uhuk.. Uhukkkkk..
***
Senyum Alana terus mengembang menatap sosok pria berkeringat di lapangan basket yang sedang bermain three on three. Alana menatap dengan penuh damba dan cinta. Lagi-lagi dia meyakinkan dirinya, bahwa pria yang paling diminati di sekolahnya itu adalah pacarnya.
Gara berlari menuju tempat Alana duduk setelah permainan usai dan dimenangkan oleh tim Gara.
"Nih.." Alana menyerahkan botol air mineral yang langsung ditenggak Gara. "Kok kayak ada manis-manisnya ya?" goda Gara meniru ikhlas di tv. "Tapi lebih manis pacar aku dong"
Semu merah di pipi Alana menjadi pertanda rasa malunya akan pujian Gara. Walau sudah pacaran hampir dua tahun, Alana masih malu kala Gara memujinya. Kadang dia berpikir kenapa Gara begitu sempurna. Fisik maupun sifatnya yang begitu baik membuat Alana semakin mencintai pria itu.
"Kita pulang yuk. Mulai hari ini, aku akan mengantar jemput kamu. Kak Lily udah ngasih izin" ucapnya membelai rambut Alana, menyelipkan sejumput rambut kebelakang telinga gadis itu.
Alana tidak membantah. Melihat kegigihan pria itu, keberaniannya kini semakin besar, keluar mengakui dirinya lah pacar Gara.
__ADS_1
Helm bari saja di pasang Gara di kepala Alana saat ponselnya berdering. Tertegun menatap layar ponsel yang menunjukkan nama panggil 'Ibu'.
Hati Alana mendebat, apa sebaiknya dia mengangkat telpon itu atau justru membiarkannya saja.
"Kenapa ga diangkat Al?"
"Hah? oh.. iya" jawab Alana kikuk.
"Halo, iya Bu?"
"Kau sudah pulang kan? kau segera ke rumah. Ada yang mau ibu bicarakan denganmu. Ibu tunggu" sambungan sudah diputus sepihak.
"Apa kata ibu?" suara Gara membawa Alana kembali ke alam sadar.
"Minta aku ke rumah"
Punggung bidang itu selalu nyaman untuk menjadi tempat Alana menempelkan wajahnya. Menikmati semilir angin yang membelai wajahnya lembut. Perjalanan yang panas tidak begitu terasa bagi Alana. Hanya sebentar mereka sudah tiba di rumah Adhinata.
"Kamu balik aja ya Ga"
"Ga boleh masuk nih?" goda Gara menerima helm dari Alana. Kali ini Alana diturunkan tepat disamping rumah nya.
"Lain kali ya Ga" senyum termanis buat kekasih hatinya.
"Ok deh.." ucap Gara membelai pipi Alana sebelum menancap gas motornya.
Baru memasuki ruang tamu, Santi sudah menyambutnya dengan menjambak rambutnya.
"Dasar anak ga tahu diri. Berapa kali lagi aku harus menyadarkan mu. Mengingatkan statusmu!" salaknya menggelegar. Jambakan di rambut Alana masih belum dia lepaskan walau Alana merintih kesakitan.
"Ampun Bu, sakit.." rintih Alana memegang tangan Santi yang masih menjambak rambutnya.
"Tutup mulutmu. Kau kira kau siapa? apa karena kau pikir sedang mengandung anak Arun, kau bisa mengambil perhatian mantuku? kau hanya penitipan sp*rma nya. Kau cuma l*nte yang di minta untuk mengandung anaknya. Jadi buang mimpi mu ingin merebut Arun dari Lily!!"
__ADS_1
**Hai..Eike datang..maaf ya baru bisa up 1 bab dua hari ini. Nunggu Eike up..nih aku rekomen novel keren, kuy kepoin.. makasih